Konten Media Partner

Film 'Brahms: The Boy II': Kelanjutan Teror Boneka Brahms 'Rasa' Annabelle

Play Stop Rewatchverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Brahms: The Boy II (Foto: STX Entertainment)
zoom-in-whitePerbesar
Brahms: The Boy II (Foto: STX Entertainment)

Play Stop Rewatch, Jakarta - Brahms: The Boy II memang bertindak sebagai sekuel yang dapat berdiri sendiri tanpa harus menonton film pertamanya. Namun, kalau kalian sudah menonton film pertamanya, kalian tidak akan terlalu sulit untuk dapat memahami inti cerita dari film ini saat momen revelasinya.

Film dibuka dengan keluarga Liza (Katie Holmes) yang dirampok dan mengakibatkan trauma besar bagi dirinya, terutama anaknya, Jude (Christopher Convery), yang tidak berani berbicara. Adegan pembuka ini mirip sekali dengan film Annabelle (2014).

Agar bisa lepas dari rasa trauma yang dialami mereka berdua, Sean (Owain Yeoman) mengajak mereka berdua untuk berlibur ke daerah terpencil yang ternyata dekat dengan rumah besarnya Heelshire.

Jude dan Brahms (Foto: STX Entertainment)

Sialnya lagi, Jude malah terikat dengan boneka Brahms yang dikubur dekat dengan rumah besar Heelshire tersebut. Bagi kalian yang sudah menonton film pertamanya, pasti menerka-nerka akan ada Brahms yang masih hidup untuk meneror keluarga ini.

Untungnya, film ini malah menawarkan hal supernatural dibandingkan sebuah misteri thriller yang ditawarkan pada film pertamanya.

Brahms: The Boy II berhasil membangun atmosfer horor secara perlahan-lahan dengan sangat baik. Sebagai penonton pun kita menjadi penasaran, sebenarnya apa yang sedang terjadi.

Kalau pun kalian sudah mengetahui rahasia yang diungkapkan pada film pertamanya pun, kalian masih akan tetap penasaran kalaupun ada dalang manusia. Tapi bagaimana caranya?

Brahms ditemukan sedang terkubur (Foto: STX Entertainment)

Tidak hanya itu saja, narasi dari film ini juga ingin membawa kita dapat mengambil kesimpulan kalau Liza secara tidak sadar melakukan sesuatu akibat rasa trauma yang dialaminya.

Sayangnya, menjelang klimaks, film ini malah terkesan drop dan tidak menarik lagi untuk diikuti. Berbeda sekali dengan pendekatan resolusi dari film pertamanya, sekuelnya ini malah terkesan malas untuk memberikan penjelasan yang lebih bisa diterima.