Kesuksesan Film Marvel Juga Berperan Dalam Mengubah Komik Marvel

Play Stop Rewatch, Jakarta - Tidak dapat dibantah lagi, film Iron Man (2008) adalah sebuah game changer yang mengubah genre film superhero selamanya. Padahal, tidak sampai 2 dekade yang lalu, karakter seperti Thor dan Iron Man masih nyaman duduk di daftar “lapis kedua” karakter jagoan Marvel Comics, di mana karakter seperti Spiderman dan Wolverine yang menduduki singgasana sebagai karakter-karakter andalan utama Marvel seperti halnya Batman dan Superman bagi DC.
Meskipun komik Iron Man sendiri telah terbit dan berlanjut sejak tahun 60-an, sebelum tahun 2008, Iron Man bukanlah karakter prioritas bagi Marvel. Kondisi saat itu, di mana Spiderman dan X-Men tidak bisa dipakai oleh Marvel untuk dibuat filmnya karena haknya masih dipegang oleh Sony dan Fox, memaksa Marvel untuk menaikkan karakter-karakter di daftar lapis kedua tersebut untuk membuat fondasi awal dari jagat sinematik MCU.
Momentum tersebut dimanfaatkan oleh Marvel untuk membuat makeover bagi karakter-karakter tersebut. Tony Stark mengadopsi karakter natural dari Robert Downey Jr., Hawkeye membuang topeng dan menyederhanakan kostum dari versi komiknya. Star-Lord yang versi komiknya adalah karakter yang “serius” dimodifikasi menjadi lebih lucu dan bahkan kekanak-kanakan, dimainkan dengan sangat baik oleh Chris Pratt. Loki yang berulangkali diceritakan dalam komik sebagai karakter yang murni jahat dibuat menjadi lebih rumit dan cenderung menjadi antihero di MCU.
Formula tersebut terbukti sukses bagi adaptasi ke film-film MCU. Berkat kesuksesan tersebut, Marvel Comics pun kembali menghidupkan karakter-karakter lapis keduanya. Serial komik Doctor Strange akhirnya dibuat lagi setelah hampir 20 tahun dari seri terakhirnya. Black Panther merilis World of Wakanda dan Black Panther and the Crew. Peggy Carter, yang sebelum era MCU hanya tampil sebagai love interest bagi Captain America sekarang telah membintangi mini serial komiknya sendiri yang berjudul Operation S.I.N.
Setelah kesuksesan Hayley Atwell memerankan sang agen di film Captain America: The First Avenger (2011). Phil Coulson, yang saat ini sudah sangat terkenal, muncul di komik Battle Scars, dan semenjak itu, Agent Coulson menjadi salah satu pemain penting di jagat komik Marvel. Coulson-lah yang pertama kali mencurigai Captain America sebagai sosok villain dalam Secret Empire, dimana Cap akhirnya memerintahkan Deadpool untuk menghabisi Coulson.
Tidak hanya bagi para superhero, namun para villain pun juga mengalami kebangkitan. Keberhasilan Erik Killmonger mencuri perhatian di film Black Panther (2018) membuatnya dihadiahi serial komiknya sendiri, yang juga melibatkan Shuri dengan judul “Killmonger” dan memiliki 5 edisi.
Setelah beberapa tahun menghantui dari belakang, Thanos akhirnya mendapat spotlight utama di 2 film terakhir Avengers (Infinity War dan Endgame) dan mendapat serial komiknya sendiri. Malekith, meskipun menjadi salah satu karakter villain yang terlupakan setelah Thor: The Dark World (2013), namun hal tersebut sudah cukup untuk dibuatkan serial komik yang berjudul War of the Realms.
Kesuksesan MCU, yang masih belum akan berakhir dengan bakal rilisnya The Eternals dan Black Widow tahun depan, tidak hanya menghidupkan kembali karakter-karakter utama mereka dalam versi komik, namun juga para karakter-karakter pendukung yang tampil baik di layar lebar maupun layar kaca. Marvel Comics kini seolah menemukan nafas baru dalam menginterpretasikan para superhero beserta karakter-karakter pendukung lainnya tersebut.
