Konten Media Partner

Kilas Balik 'The Last Jedi', Alasan Film Ini Dibenci namun Diperlukan

Play Stop Rewatchverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
The Last Jedi (Foto: Lucasfilm)
zoom-in-whitePerbesar
The Last Jedi (Foto: Lucasfilm)

"The Last Jedi merusak saga Star Wars".

Play Stop Rewatch, Jakarta - Tidak hanya satu atau dua kali hal tersebut terdengar. Jika fans Star Wars ditanya apa episode terburuk dari sembilan yang sudah dirilis, besar kemungkinan The Last Jedi (Episode VIII) adalah salah satu di antaranya. Bahkan, ada juga yang menyebut The Last Jedi bertanggung jawab atas rusaknya Rise of Skywalker (Episode IX).

Dirilis tahun 2017 dengan Rian Johnson (Knives Out, Breaking Bad) sebagai sutradaranya, The Last Jedi memang menimbulkan banyak kehebohan. Salah satu alasannya, ia dianggap sejumlah fans 'mengingkari' segala hal yang disiapkan di The Force Awakens (Episode VII). Misalnya, soal latar belakang Rey yang dinanti-nanti bakal berkaitan dengan salah satu figur ikonik di Star Wars.

Contoh lain, The Last Jedi juga memperlakukan Luke Skywalker sebagai orang tua yang kolot dan putus asa. Hal itu kontras dengan gambaran Luke di original trilogy (Episode IV - VI) yang optimistis dan juga pemberani. Saking takutnya, Luke di The Last Jedi sampai terpikir untuk mengakhiri legacy Jedi untuk selamanya. Pemeran Luke Skywalker, Mark Hamill, pun mengakui karakter Luke di The Last Jedi bukan karakter yang sama dengan yang ia perankan puluhan tahun lalu.

kumparan post embed

Adapun hal yang dianggap banyak orang sebagai langkah terparah dari The Last Jedi adalah keputusannya untuk mengakhiri karakter Snoke. Ketika ia muncul di the Force Awakens, Snoke dianggap akan menjadi musuh besar Star Wars yang baru, dengan skala menandingi atau bahkan melebihi Emperor Palpatine. Namun, di The Last Jedi, dia tewas dengan mudahnya, tanpa memberikan perlawanan sedikitpun terhadap Kylo Ren alias Ben Skywalker. Sebagai gantinya, Kylo Ren yang malah menjadi musuh utama.

Penulis mengakui bahwa ada berbagai kekurangan dalam kisah The Last Jedi. Dalam hal character development dan storytelling, The Last Jedi seharusnya bisa lebih baik lagi. Namun, di luar hal tersebut, The Last Jedi sesungguhnya tidak seburuk label yang diberikan orang-orang. Malah, bagi penulis, The Last Jedi adalah salah satu episode yang memang harus ada untuk Star Wars Saga itu sendiri, terutama untuk ke depannya.

Luke Skywalker di film The Last Jedi (Foto: Lucasfilm)

The Last Jedi sadar bahwa kisah Star Wars tidak bisa sepenuhnya bertumpu terhadap keluarga Skywalker seterusnya. Jika The Last Jedi menurut pada status quo tersebut, maka kisah Star Wars akan terus berputar dan berputar di tempat yang sama. Tidak akan ada inovasi, tidak akan ada petualangan dan tokoh baru yang bisa ditawarkan. Skenario terburuknya, Star Wars malah akan berakhir menjadi Skywalkers' Wars di mana konflik internal satu keluarga mengobrak-abrik satu galaksi.

Potensi itu sudah terlihat pada ending Rise of Skywalker yang dengan sengaja dibuat untuk mengkoreksi The Last Jedi. Pada ending film yang disutradarai J.J. Abrams tersebut, kisah Star Wars lagi-lagi berakhir dengan seorang "Skywalker" sebagai juru selamatnya. Bahkan, juru selamatnya sendiri adalah orang yang "dipaksa" menjadi bagian dari keluarga Skywalker. Alhasil, bukannya membuka ruang baru di mana siapa pun bisa menjadi pahlawan di Star Wars, saga tersebut memilih terjebak pada status quo.

Rian Johnson, sutradara dari The Last Jedi (Foto: Wikimedia)

The Last Jedi memiliki pendekatan yang berbeda dengan Rise of Skywalker selaku sekuelnya. Sutradara Rian Johnson, dengan sepenuh hati, ingin mendobrak status quo yang ada. Ia ingin mengakhiri kisah keluarga Skywalker, membuat jalan untuk jagoan baru ke depannya, Rey.

Gilanya, Rian memakai cara-cara "ekstrem" untuk mewujudkan misinya. Salah satunya, dengan "membunuh" karakter Luke, physically dan psychologically. Luke, yang merupakan perwujudan harapan dan pahlawan ideal di original trilogy Star Wars, digambarkan putus asa dan menyerah dengan dirinya. Luke dibuat gagal mendidik Ben (Kylo Ren) menjadi seorang Jedi hingga di satu titik terpikir untuk membunuhnya. Untungnya, Luke masih diberi kesempatan untuk tampil heroik dengan membantu Resistance kabur dari Krait.

Rian, dalam satu tweet-nya, menjelaskan bahwa tidak masuk akal apabila Luke selalu merepresentasikan sosok pahlawan yang ideal. Menurutnya, tidak ada tokoh yang sempurna, tak terkecuali figur sehebat Luke. Oleh karenanya, Luke harus dimanusiakan, ia harus memiliki cacat bahkan potensi untuk dimatikan.

"Menurut saya, justru kita tidak menghormati Luke dengan memperlakukannya bak dewa. Kita harus memperlakukannya sebagai seorang pahlawan yang juga memiliki cacat dan mampu bangkit dari sana. Dia bukan tokoh video game yang bisa seterusnya bertambah kuat secara permanen," ujar Rian menjelaskan alasannya untuk "membunuh" karakter Luke.

Karakter Kylo Ren ikut "dibunuh" oleh Rian. Alih-alih menyiapkan Kylo sebagai jagoan yang baru (hanya karena ia seorang Skywalker), Rian malah membuat Kylo sebagai penjahat besar yang baru. Dengan begitu, ketika Rey berhasil mengalahkan Kylo nantinya, maka selesai sudah kisah keluarga Skywalker. Rian ingin Rey bisa menjadi pahlawan tanpa bayang-bayang pendahulunya.

Bagusnya, The Last Jedi tidak mendobrak tanpa membuat fondasi baru untuk generasi pahlawan berikutnya. Di ending, The Last Jedi memperlihatkan seorang bocah tukang sapu berhasil menggunakan force untuk membantunya bekerja. Di saat yang bersamaan, Rey diperlihatkan membawa kitab-kitab Jedi untuk ia sebarkan. The Last Jedi ingin kita ingat bahwa galaksi itu luas dan Star Wars tidak harus melulu soal Skywalker. Pahlawan baru menanti di salah satu sudut galaksi yang nun jauh di sana.

Sungguh disayangkan Disney, selaku pemilik franchise Star Wars, tidak sejalan dengan pandangan Rian. Di saat Rian ingin mendobrak formula lama Star Wars, Disney ingin mempertahankannya. Hasilnya adalah Rise of Skywalker yang menurut Play Stop Rewatch adalah produk tambal sulam.

Disney tidak salah mengembalikan Star Wars ke "jalur seharusnya" dengan membuat Rise of Skywalker. Bagaimanapun Star Wars adalah salah satu franchise legendaris dengan pendukung paling setia (dan militan) yang pernah ada. Ketika fans merasa harta mereka "dirusak", mereka berhak untuk marah dan menuntut perbaikan. Namun, apakah Disney harus menurutinya? Kembali ke keberanian Disney.

Penampilan terakhir Snoke di The Last Jedi (Foto: Lucasfilm)

Jika Disney merasa legacy kisah Star Wars tidak seharusnya dimodernisasi dan diperbarui, demi menyenangkan sejumlah fans, maka mereka sudah melakukan langkah yang benar dengan merilis Rise of Skywalker. Namun, jika Disney memiliki keberanian untuk membawa kisah Star Wars ke direksi yang baru, maka seharusnya mereka membiarkan episode ke-IX Star Wars untuk mengikuti apa yang sudah disiapkan di The Last Jedi.

Ketika the Last Jedi selesai dibuat, sutradara Episode IX sebelumnya, Colin Trevorrow, sudah menyelesaikan naskah sekuelnya yang akan disebut Duel of The Fates. Kisah tersebut mengikuti semua hal yang disiapkan Rian, termasuk mengakhiri lini keluarga Skywalker. Namun, karena The Last Jedi tidak direspon dengan baik secara kritik, tidak ada tempat untuk Trevorrow dan Duel of the Fates. Disney memilih Rise of Skywalker.

Membuat perubahan memang bukan hal yang gampang. Mengutip ucapan karakter Alexander Pierce dari film Captain America: The Winter Soldier, "Membuat dunia yang baru terkadang harus dilakukan dengan meruntuhkan dunia yang lama. Hal itu jelas akan memunculkan banyak musuh". The Last Jedi membuat sejumlah fans menjadi musuh dan tidak semua perusahaan mau dengan risiko tersebut.

Setelah melihat The Force Awakens tidak lebih seperti kemasan baru untuk A New Hope (episode IV), The Last Jedi adalah pendekatan yang berani. Betapapun berisikonya, dia mencoba membuat perubahan. Hanya saja, seperti yang penulis katakan sebelumnya, The Last Jedi bisa melakukannya lebih baik lagi. Perihal bagaimana The Last Jedi dan ke seluruh trilogi baru Star Wars seharusnya dibuat, itu diskusi untuk di lain waktu.