Review Film Eternals: Deisme, Krisis Keyakinan, dan Dilawannya Sabda "Tuhan"

Konten Media Partner
14 November 2021 7:54
·
waktu baca 6 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Eternals (Foto: Marvel Studio)
zoom-in-whitePerbesar
Eternals (Foto: Marvel Studio)
ADVERTISEMENT
Play Stop Rewatch, Jakarta - Eternals adalah bukti bahwa Marvel bisa keluar dari formula jitunya jika mau. Di tangan sutradara pemenang Oscar Chloe Zhao, hal-hal yang "MCU banget" tampil minim di Eternals. Zhao menggantikan hal-hal tersebut dengan isu yang lebih sensitif, dewasa, dan sedikit banyak provokatif seperti masalah religiositas. Tak mengherankan, di berbagai negara, Eternals dipermasalahkan dan bahkan harus menjalani sensor ketat jika ingin tetap tayang.
ADVERTISEMENT
Memiliki durasi kurang lebih 2,5 jam, kisah Eternals dimulai dengan opening crawl ala Star Wars. Isinya menyampaikan kisah penciptaan, genesis, yang dimulai oleh ras ancestral bernama Celestials.
Sebagai 'Tuhan', Celestials menciptakan alam semesta dan kehidupannya bukan tanpa sebab. Mereka ingin mengetahui bagaimana makhluk hidup berevolusi, berkembang, dan menentukan nasibnya sendiri. Menyerupai paham Deisme, Celestials ada sebagai suatu Sebab Pertama yang tidak bersebab, bertanggung jawab atas penciptaan alam semesta, namun menghindari ikut campur urusan duniawi.
Untuk mengawasi alam semesta yang mereka ciptakan, Celestials mengirim sekelompok "messenger" yang ia sebut Eternals. Bak Nabi, Eternals bertanggung jawab menstimulus perubahan di alam semesta dan melaporkannya ke Celestials sebagai penguasa tertinggi. Laporan itu, nantinya, akan menjadi acuan Celestials untuk menciptakan kehidupan berikutnya. Adapun Celestials melarang Eternals melakukan satu hal, mengintervensi konflik duniawi.
ADVERTISEMENT
Bumi menjadi satu dari sekian banyak dunia yang diciptakan Celestials. Di sana, Celestials menugaskan dua kelompok Eternals, satu berfungsi sebagai Petarung dan satu lagi Pemikir. Para Petarung adalah Ikaris (Richard Madden), Thena (Angelina Jolie), Kingo (Kumail Nanjiani), Makkari (Lauren Ridloff), dan Gilgamesh (Ma Dong Seok). Sementara itu, para Pemikir adalah Sersi (Gemma Chan), Sprite (Lia McHugh), Phastos (Brian Tyree Henry), Druig (Barry Keoghan), dan Ajak (Salma Hayek).
Eternals (Foto: Marvel Studio)
zoom-in-whitePerbesar
Eternals (Foto: Marvel Studio)
Dikenang sebagai dewa-dewa Yunani, Eternals membaur dengan manusia dan menyembunyikan jati diri mereka selama sekian millenia. Namun, sebuah gempa besar dan kematian anggota mereka memaksa para Eternals yang tersisa untuk keluar dari persembunyian dan mencari penyebabnya. Di saat bersamaan, Celestials datang membawa pesan buruk soal nasib manusia dan kemunculan monster Deviants.
ADVERTISEMENT
Sekilas, kisah Eternals seperti mengarah ke konflik-konflik generik di mana para jagoan akan melawan kekuatan yang mengancam keselamatan dunia. Unsur dunia terancamnya memang ada, namun bukan itu daging dari film Eternals. Daging film ini justru ada pada dinamika anggota-anggota Eternals dan relasi rumit mereka dengan Celestials selaku "Tuhan".
Dinamika muncul dari keyakinan-keyakinan mereka. Sebagai utusan Celestials, seperti dikatakan sebelumnya, Eternals tidak diperbolehkan untuk mengintervensi konflik-konflik duniawi kecuali Deviants ikut bermain di dalamnya. Ketika Infinity War terjadi, Eternals hanya bisa diam, bersembunyi, menanti Avengers muncul dengan solusinya untuk mengembalikan miliaran orang yang hilang akibat jentikan jari Thanos.
Dipaksanya mereka untuk abai akan konflik-konflik duniawi membuat sejumlah anggota Eternals meradang. Hidup ribuan tahun bersama manusia membuat Eternals memandang mereka seperti kerabat sendiri. Walhasil, ketika melihat manusia dalam bahaya, hal yang terlintas di kepala adalah membantu, bukan diam. Diam adalah dosa besar menurut sejumlah anggota Eternals. Celestials tak peduli, tetap tegas melarang, khawatir manusia menjadi manja dan evolusi peradaban melamban.
ADVERTISEMENT
Kegerahan itu pada akhirnya menimbulkan perdebatan-perdebatan di tubuh Eternals perihal berhak atau tidaknya manusia mendapatkan pertolongan. Di sisi lain, juga menimbulkan krisis keyakinan akan grand-design Celestials terhadap kehidupan manusia. Ada yang pro-Celestials dan menyakini semua akan berujung 'baik' pada akhirnya, ada juga yang anti. Mereka yang Anti menganggap Celestials tidak pernah benar-benar peduli akan kehidupan manusia, hanya kemajuan peradaban yang mereka ciptakan.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Eternals (Foto: Marvel Studio)
zoom-in-whitePerbesar
Eternals (Foto: Marvel Studio)
Chloe Zhao memperlakukan perdebatan-perdebatan itu dengan apik. Tiap posisi dan argumen memiliki logika yang sound dan ada benarnya. Problem etika, moral, dan pembangunan mewarnainya. Situasinya hampir mirip dengan Civil War di mana posisi serta argumen Captain America dan Iron Man perihal Avengers bertanggungjawab ke badan pemerintah sama-sama memiliki kebenaran di dalamnya. Walhasil, kalaupun satu sisi kalah, hal itu tidak serta merta menegaskan bahwa sisi lainnya 100 persen benar.
ADVERTISEMENT
Eksplorasi perdebatan-perdebatan itu kian apik katika Chloe Zhao mengikutkan karakter manusia dalam kelompok Eternals. Manusia itu bernama Karun, valet dari Kingo yang alih rupa menjadi bintang Bollywood ketika tak diizinkan mengintervensi konflik duniawi.
Karun hadir sebagai perwakilan manusia di tengah perdebatan-perdebatan Eternals. Di saat mereka sibuk berdebat soal pantas atau tidaknya manusia diselamatkan, Karun memberikan perspektifnya. Hal itu akan menunjukkan bahwa "sesempurnanya" Eternals dalam hal kekuatan dan penampilan, mereka memiliki cacat-cacat yang sama dengan manusia.
Hal yang patut disayangkan, durasi menghalangi Chloe Zhao untuk mengeksplor krisis keyakinan di antara Eternals lebih jauh. Memasuki paruh terakhir Eternals, penyelesaian krisis mulai dikebut yang berujung pada konklusi-konklusi yang kurang menghentak dan keputusan-keputusan yang patut dipertanyakan.
ADVERTISEMENT
Jumlah cast Eternals yang massif salah satu faktor yang mempersulit eksplorasi krisis yang ada. Tidak semua karakter mendapat porsi yang seimbang untuk menyampaikan argumen-argumen mereka secara komplit. Detil-detilnya memang bisa didapat dengan memperhatikan perilaku dan mindset mereka karena minimnya eksposisi, namun tetap saja tidak terasa proper. Sungguh disayangkan mengingat Eternals memiliki daftar cast kelas berat.
Keburu-buruan tersebut, untungnya, tidak serta merta menghilangkan kenikmatan menonton Eternals. Film Eternals tetap asyik ditonton karena hal yang menarik bukan hanya konflik antar Eternals dan rumitnya hubungan mereka dengan Manusia dan Celestials, tetapi juga action choreography serta cinematography-nya yang Chloe Zhao banget.
Eternals (Foto: Marvel Studio)
zoom-in-whitePerbesar
Eternals (Foto: Marvel Studio)
Surprisingly, di tangan Chloe Zhao, laga di Eternals tampil beringas. Meski ia tidak memiliki background di film action, Chloe Zhao mampu menunjukkan laga yang tidak hanya enak dilihat, tetapi juga brutal dan otherworldy. Kelasnya hampir sama dengan laga-laga di film Avengers di mana tiap anggota Eternals mampu melengkapi satu sama lain dengan kekuatan dan keahlian yang mereka miliki.
ADVERTISEMENT
Soal Cinematography, tidak usah ditanya lagi. Berkolaborasi dengan Director of Photography veteran di Marvel Studios, Ben Davis, Chloe Zhao menunjukkan kemampuannya menghadirkan scenery-scenery yang terasa ethereal. Edannya, seperti kata Kevin Feige, Zhao minim menggunakan CGI untuk menghadirkan visualisasi-visualisasi eyegasm itu. Jika kalian pernah menonton film Zhao sebelumnya seperti The Rider atau Nomadland, kalian bisa membayangkan visualisasi yang akan didapat.
Menimbang kelebihan dan kekurangannya, tidak bisa dipungkiri Eternals adalah film yang sangat ambisus dari Marvel Studios. Hal itu tidak hanya terlihat dari jumlah cast-nya yang begitu besar, tetapi juga isu-isu ketuhanan dan krisis keyakinan yang dieksplorasi olehnya. Chloe Zhao mengeksplor isu-isu sensitif itu dengan apik, sayangnya keterbatasan durasi membuatnya terasa kurang menghentak dan maksimal. Sungguh disayangkan di saat Marvel Studios mengangkat isu yang berani, yang sedikit banyak terasa Evangelion-esque, durasi menghalangi segalanya. Eternals ibarat film Avengers tanpa enam film yang mendahuluinya untuk mensetup konflik dan mendevelop karakternya.
ADVERTISEMENT
ISTMAN MP
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020