Review Film Kuntilanak 3: Horor Fantasi untuk Anak-anak

Konten Media Partner
26 April 2022 17:24
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Play Stop Rewatch, Jakarta - Universe film Kuntilanak adalah sebuah waralaba film horor lokal yang memiliki raihan box office yang cukup besar. Usaha untuk menghidupkan kembali sang hantu wanita lokal nan ikonik ini berlanjut di film keenam yang digarap sejak tahun 2018 dengan judul Kuntilanak 3.
Perbedaan dibanding prekuelnya, film terbaru ini mengambil karakter utama seorang anak perempuan bernama Dinda. Pemeran Dinda sendiri telah di-recast ke Nicole Rossi. Selain itu, genrenya berubah dari supernatural horor menjadi horor fantasy.
Kuntilanak 3 sebenarnya dijadwalkan rilis tahun 2020. Namun, situasi pandemi menghalangi perilisannya, membuat Kuntilanak 3 baru berhasil nampang di layar lebar tahun ini. Adapun sutradaranya masih mempertahankan figur pembesut lima film sebelumnya, Rizal Mantovani.
Poster film Kuntilanak 3. Foto: MVP Pictures
zoom-in-whitePerbesar
Poster film Kuntilanak 3. Foto: MVP Pictures
Kisah Kuntilanak 3 mengambil setting tak lama setelah film prekuelnya. Usai menghentikan teror Kuntilanak (Karina Suwandi) di dunia astral pada akhir film Kuntilanak 2, bakat Dinda (Nicole Rossi) sebagai seorang cenayang muncul di kesehariannya dan mulai membahayakan dirinya maupun teman-temannya. Tante Donna (Nena Rosier), sang ibu angkat, memutuskan untuk mengirim Dinda ke sekolah Mata Hati. Ibarat Hogwarts atau Xavier's School for Gifted Youngsters, Mata Hati adalah sekolah asrama untuk anak-anak berkemampuan cenayang dengan Baskara (Wafda Saifan) sebagai kepala sekolah dan Eyang Sukma (Sara Wijayanto) sebagai pemiliknya.
Awalnya, Dinda merasa nyaman belajar dan tinggal dengan teman-teman sesama cenayang seperti dirinya. Namun dua saudara Dinda, Kresna (Andryan Bima) dan Miko (Ali Fikry), menemukan kejanggalan yang berpotensi membahayakan nyawa Dinda pada sekolah tersebut. Keduanya mulai menyusun rencana melarikan Dinda dari Mata Hati dan Ratu Kuntilanak yang mengincar nyawanya.
Mengubah genre film Kuntilanak dari supernatural horor ke horor fantasy dengan ensemble anak-anak bisa dibilang langkah cerdik MVP Pictures. Meski gelagatnya sudah terlihat sejak film Kuntilanak (2018) dan Kuntilanak 2 (2019) yang memakai karakter anak-anak sebagai sentral cerita, kini semakin ditegaskan pada Kuntilanak 3. Hasilnya adalah film Kuntilanak yang terasa berbeda.
Tidak ada lagi keseraman yang akan menakuti penonton dewasa pada film ini. Hal itu digantikan parade visual efek CGI yang menekankan kekuatan cenayang para karakternya (yang mirip film X-Men) plus tampilan sang ratu kuntilanak yang melayang-layang penuh teror layaknya Dementor di saga Harry Potter.
Rizal Mantovani (Jelangkung, 5 CM) sang sutradara terlihat berusaha memadukan elemen-elemen dari film-film tersebut ke dalam film Kuntilanak 3 ini. Jika sehabis film ini Rizal Mantovani, yang juga penggemar komik superhero, membuat film superhero, kami tidak akan kaget. Kuntilanak 3 terasa seperti test dia untuk membuat film yang cgi-heavy dan bombastis ala film superhero.
Dengan segala keunggulan teknisnya, tidak berlebihan mengatakan bahwa jualan utama film ini parade kemampuan audio visualnya . Tertunda selama 3 tahun membuat Rizal cs memiliki cukup waktu memoles visual efek agar enak dilihat dan sound agar enak didengar. Tata artistik pun tidak ketinggalan dipoles, membuat set sekolah Mata Hari begitu menacing dan seperti keluar dari halaman-halaman novel fantasi.
Memang, dari sisi bujet, film Kuntilanak 3 jauh dari bujet film-film hollywood serupa. Namun, dengan budget "seadanya", Kuntilanak 3 sudah tampil apik sebagai horor fantasy.
Bagaimana dengan cerita? Menggunakan naskah besutan Alim Sudio (Rasuk, Lampor) film ini mengalir lancar. Kisah Dinda yang di awal baru menemukan kemampuannya hingga akhirnya berseteru dengan ratu kuntilanak disampaikan dengan runut.
Meskipun plotnya lancar mengalir, tercatat ada beberapa poin mengganggu pada penggunaan dialog yang inkonsisten. Misalnya, ketidakkonsistenan menyebut saya atau aku serta bahasa yang tidak umum digunakan anak-anak. Plot yang sederhana pun terasa kekurangan energi memasuki babak ketiga, membuat transisi menuju klimaks sama sekali tidak terasa.
Poster film Kuntilanak 3. Foto: MVP Pictures
zoom-in-whitePerbesar
Poster film Kuntilanak 3. Foto: MVP Pictures
Sisi akting juga memiliki banyak catatatan. Sang aktris cilik Nicole Rossi (Sebelum Iblis Menjemput, Nini Thowok) terlihat baik saat adegan murung dan sedih. Namun, sisi cerianya tidak terlihat saat bertemu teman di sekolah. Pada saat bertarung pun, ia kurang menampilkan mimik emosional dan wajah kerasnya. Ali Fikry (Koki-Koki Cilik 2, Surga Yang Tak Dirindukan), Ciara Nadine Brosnan (Milly dan Mamet, Pelangi Untuk Nirmala) dan Romaria Simbolon (Koki-Koki Cilik, Kapal Goyang Kapten) justru lebih bisa bermain lepas dan menarik perhatian dalam film ini.
Para aktor dewasa tidak lolos dari kritik kami, terutama Wafda Saifan (Kadet 1947, Melankolia) yang kurang maksimal berperan sebagai kepala sekolah. Wajahnya datar sepanjang film. Nafa Urbach (Iblis Dalam Kandungan, Mangga Muda) dan Aming (Madame X, Doa Yang Mengancam) pun kurang menampilkan akting terbaiknya walau Aming berhasil mengundang tawa lewat penampilan kocak campuran antara Snape dengan Jack Sparrow.
Aktor dewasa yang berakting baik hanya Sara Wijayanto sebagai Eyang Sukma yang misterius dan penuh rahasia. Wajah Sara yang dingin ditunjang dengan kemampuannya bermain ekspresi menjadikannya karakter kuat di Kuntilanak 3 ini
Akhir kata, film Kuntilanak 3 menjadi alternatif tontonan keluarga yang cocok ditonton di libur lebaran kali ini. Bukan sebuah horor yang menyeramkan, tetapi menjelma menjadi horor fantasi petualangan yang pas ditonton oleh anak-anak dan seluruh anggota keluarga. Dengan kelucuan yang dipertontonkan oleh Ciara Brosnan dan Ali Fikry, serta parade efek visual yang memanjakan mata, Kuntilanak 3 akan menjadi tontonan yang menyenangkan.
YOVAN