Konten Media Partner

Review Mortal Kombat: Nyaris Flawless Victory

Play Stop Rewatchverified-green

·waktu baca 4 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Poster Film Mortal Kombat. Foto: IMDB
zoom-in-whitePerbesar
Poster Film Mortal Kombat. Foto: IMDB

Play Stop Rewatch, Jakarta - Film Mortal Kombat (2021) terbaru dari sutradara Simon McQuoid menghadapi tantangan berat. Film pendahulunya (1995), yang berjudul sama, dari sutradara Paul W.S. Anderson berkali-kali disebut sebagai salah satu film adaptasi video game terbaik yang pernah ada. Walaupun memiliki production value setara B-Movies dan rating PG-13, Mortal Kombat (1995) berhasil menangkap aura, karakterisasi, serta cerita yang ada di gamenya. Tantangan Mortal Kombat terbaru adalah melebihi kualitas tersebut sekaligus menghadirkan experience Mortal Kombat modern yang jauh lebih brutal, visceral, namun terkadang juga komikal.

Gamer setia penggemar franchise Mortal Kombat bisa sedikit bernafas lega. Mortal Kombat terbaru berhasil menjawab tantangan tersebut. Meski tidak bisa disebut “Flawless Victory” seperti teriakan yang ada di gamenya, Mortal Kombat tampil "benar" dalam berbagai hal. Hebatnya, impresi itu kami dapat bahkan dari versi yang sudah kena banyak sensor dari Lembaga Sensor Film (LSF).

Seperti gamenya, kisah Mortal Kombat bermula dari persaingan antara Outworld dan Earthrealm. Earthrealm diwakili oleh dewa petir Raiden (Tadanobu Asano) sementara Outworld diwakili penyihir bernama Shang Tsung (Chin Han). Bertahun-tahun kedua kubu bertarung dalam turnamen maut yang mempertemukan para petarung andalan mereka. Bagi kubu yang menang, para jagoannya akan diberi umur panjang serta kendali atas dunia kubu yang kalah.

Para jagoan yang terpilih untuk mewakili salah satu kubu akan memiliki tanda lahir berupa gambar naga di dadanya. Di Earthrealm, salah satu penerimanya adalah Cole Young (Lewis Tan), seorang petarung MMA yang mengalami krisis diri. Bersama Jax (Mehcad Brooks), Liu Kang (Ludi Lin), Kung Lao (Max Huang), dan Sonya Blade (Jessica McNamee), Cole menjadi penentu dari eksistensi bumi atau Earthrealm ke depannya.

Shang Tsung tahu betul pertaruhan yang harus ia hadapi pada turnamen Mortal Kombat. Oleh karenanya, ia menghalalkan berbagai cara untuk menang. Salah satunya, Ia mengirim Sub-Zero (Joe Taslim) untuk memburu para petarung yang terpilih untuk mewakili Earthrealm.

Seperti bisa dilihat, premis ceritanya cukup sederhana. Mortal Kombat tidak menawarkan cerita kompleks atau world-building yang mengeksplorasi seluruh faset dari Earthrealm maupun Outworld. Walau begitu, semua itu terbayarkan oleh action choreography-nya yang di atas rata-rata. Lagipula, game Mortal Kombat memang terkenal bukan karena ceritanya, tetapi lebih karena kebrutalannya.

Mortal Kombat (2021) menghadrikan pertarungan yang tidak hanya brutal, tangkas, dan visceral, tetapi juga setia dengan gamenya. Kesadisannya sangat imajinatif dan blak-blakan secara visual, persis seperti gamenya, didukung dengan staging yang jempolan dari sutradara Simon McQuoid. Hasilnya adalah sebuah experience yang tidak hanya menangkap visualisasi sumber aslinya, tetapi juga nuansanya. Gamer yang setia dengan franchise Mortal Kombat akan dengan cepat mengenali segala penghormatan yang ada, mulai dari moveset hingga serangan pemungkas, Fatality!.

Film Mortal Kombat. Foto: IMDB

Sangat disayangkan penonton Indonesia mendapat versi yang telah kena banyak pangkas. Walaupun experience yang diberikan sudah bagus, itu bukan versi yang paling komplit. Untuk mendapatkannya, tak ada jalan selain menunggu versi digital tampil di HBO Max pada 23 April 2021 nanti. Namun, dengan apa yang ada sejauh ini, Mortal Kombat terbaru sudah melewati versi 1995 dengan margin lumayan.

Tentu Mortal Kombat tidak bisa berdiri pada adegan berkelahinya saja, tetapi juga karakter. Franchise Mortal Kombat terkenal bukan hanya karena kebrutalannya saja, tetapi juga roster-nya yang kaya, unik, serta ikonik. Dua di antaranya tentu Scorpion dan Sub Zero, duo ninja kuning dan biru, api dan es, dari klan Shirai-Ryu dan Lin Kuei yang memiliki dendam kesumat terhadap satu sama lain. Keduanya tidak pernah absen dari seri Mortal Kombat manapun karena mereka lah "hati" dari franchise buatan Ed Boon dan John Tobias itu.

Untungnya, Mortal Kombat terbaru menampilkan karakter Sub Zero dan Scorpion dengan lebih akurat dibanding pendahulunya. Mereka tak menjadi side-characters seperti di versi 1995, tetapi bagian integral kisah Mortal Kombat sebagaimana seharusnya. Dan, hal itu diperkuat dengan akting Joe Taslim yang memerankan Bi Han alias Sub Zero.

Aktor asal Indonesia yang namanya terangkat berkat The Raid tersebut memainkan Sub-Zero dengan penuh keseriusan dan kebengisan yang selalu terlihat bahkan dengan setengah wajah tertutup. Ke depannya, akan sulit memisahkan image Sub Zero dari Joe Taslim karena dia memerankannya dengan apik. Tidak berlebihan mengatakan dia lah highlight dari Mortal Kombat terbaru disamping pertarungan-pertarungan sarat kesadisannya.

Dengan segala kelebihannya, Mortal Kombat adalah salah satu film adaptasi video game yang bagus. Meski ada beberapa kekurangan dalam hal character development ataupun bagaimana cerita disampaikan, Mortal Kombat tidak mengingkari image maupun experience yang telah dibentuk oleh sumber aslinya. Penonton casual mungkin akan lebih kritikal terhadap film ini, namun gamer setidaknya bisa terhibur akan treatment-nya.