Adab Saat Melakukan Wawancara di Waktu yang Disepakati
Membagikan informasi dari berbagai topik.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kegiatan wawancara tidak hanya membutuhkan daftar pertanyaan, tetapi juga sikap yang tepat. Ketika melakukan wawancara di waktu yang disepakati, perhatikan adab sebagai apa?
Cara membawa diri selama percakapan dapat memengaruhi kenyamanan narasumber dalam menyampaikan jawaban.
Wawancara yang tertata memberi ruang bagi kedua pihak untuk berkomunikasi secara tenang dan saling menghargai.
Ketika Melakukan Wawancara di Waktu yang Disepakati, Perhatikan Adab Sebagai Pewawancara
Ketika melakukan wawancara di waktu yang disepakati, perhatikan adab sebagai pewawancara yang menghargai narasumber.
Dikutip dari whitneyhess.com, sikap tersebut terlihat dari ketepatan waktu, kesopanan, kemampuan mendengarkan, serta cara menjaga komunikasi sejak awal hingga wawancara selesai.
Ketika waktu sudah disepakati, pewawancara perlu datang atau bersiap tepat waktu. Jadwal yang telah ditentukan menunjukkan adanya kesepakatan untuk menyediakan waktu bagi kegiatan tersebut. Datang terlambat tanpa pemberitahuan dapat mengganggu agenda narasumber.
Jika muncul kendala yang membuat jadwal tidak dapat dipenuhi, pemberitahuan sebaiknya diberikan secepat mungkin agar dapat dicari waktu pengganti.
Sikap sopan juga perlu dijaga selama wawancara. Gunakan bahasa yang sesuai dengan situasi dan hindari nada bicara yang terkesan menghakimi.
Narasumber perlu diberi kesempatan menjawab tanpa tekanan, terutama ketika pertanyaan berkaitan dengan pengalaman pribadi, pekerjaan, atau hal yang membutuhkan waktu untuk dipikirkan.
Pertanyaan sebaiknya diberikan satu per satu. Menggabungkan beberapa pertanyaan dalam satu ucapan dapat membuat jawaban tidak terarah karena narasumber harus mengingat seluruh bagian yang ditanyakan.
Pertanyaan yang jelas memberi kesempatan untuk menjawab secara lebih lengkap sesuai pengalaman yang dimiliki.
Pewawancara juga perlu membiarkan narasumber menyelesaikan kalimatnya. Memotong pembicaraan dapat membuat bagian penting dari jawaban terlewat.
Jika muncul pertanyaan lanjutan ketika narasumber masih berbicara, pertanyaan tersebut dapat dicatat terlebih dahulu agar tidak mengganggu alur penjelasan.
Mendengarkan secara aktif menjadi bagian penting dalam wawancara. Kontak mata yang wajar, anggukan, ekspresi yang sesuai, dan posisi tubuh yang mengarah kepada lawan bicara dapat menunjukkan bahwa jawaban sedang diperhatikan.
Kesibukan melihat ponsel, menatap ke arah lain, atau terlalu fokus pada catatan dapat membuat komunikasi terasa kurang nyaman.
Pertanyaan lanjutan juga perlu mengikuti jawaban yang baru diberikan. Jika terdapat bagian yang belum jelas, pewawancara dapat menggali dengan pertanyaan seperti apa, bagaimana, kapan, atau mengapa selama masih berkaitan.
Cara tersebut membuat percakapan terasa lebih alami daripada sekadar membaca daftar pertanyaan secara berurutan.
Pewawancara sebaiknya tidak menyodorkan jawaban yang diinginkan. Pertanyaan seperti “apakah biasanya dilakukan pada pagi hari atau malam hari?” dapat membatasi pilihan jawaban ketika narasumber sebenarnya memiliki pengalaman berbeda.
Pertanyaan terbuka memberi ruang lebih luas untuk memperoleh jawaban yang muncul dari pengalaman narasumber sendiri.
Bahasa tubuh dan penampilan juga perlu dijaga. Duduk dengan posisi yang baik, tidak menunjukkan sikap tertutup, serta mengenakan pakaian yang rapi dapat menunjukkan penghargaan terhadap situasi wawancara.
Sikap profesional tidak berarti harus kaku, tetapi tetap perlu menyesuaikan diri dengan tempat, tujuan, dan kondisi percakapan.
Adab wawancara berkaitan dengan cara menghormati waktu, pengalaman, dan ruang bicara narasumber.
Ketika melakukan wawancara di waktu yang disepakati perhatikan adab sebagai pewawancara yang sopan, disiplin, dan mampu mendengarkan dengan baik agar percakapan berlangsung tertib serta nyaman bagi kedua pihak. (Suc)
Baca Juga: Mensetsu adalah Apa? Kenali Arti dan Tahapan Wawancara Kerja di Jepang