Konten dari Pengguna

Aksara Kuno di Indonesia yang Menjadi Bukti Peradaban Nusantara Sejak Dahulu

P

Pojok Informasi

Membagikan informasi dari berbagai topik.

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Aksara Kuno di Indonesia, Foto:Unsplash/Mahmur Marganti
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Aksara Kuno di Indonesia, Foto:Unsplash/Mahmur Marganti

Aksara kuno di Indonesia menjadi salah satu warisan yang menarik untuk dipahami lebih dalam.

Keunikan setiap bentuk huruf yang berkembang di berbagai wilayah memperlihatkan bahwa Nusantara telah memiliki tradisi literasi yang kaya jauh sebelum sistem tulisan modern digunakan secara luas.

Meski sebagian besar masyarakat kini lebih akrab dengan alfabet Latin, keberadaan aksara kuno tetap menyimpan nilai sejarah dan budaya yang tidak tergantikan.

Keunikan Aksara Kuno di Indonesia yang Masih Dikenal Hingga Kini

Ilustrasi Aksara Kuno di Indonesia, Foto:Unsplash/Joshua Kettle

Aksara kuno di Indonesia menjadi bukti bahwa tradisi tulis telah berkembang sejak masa Hindu-Buddha.

Kehadiran berbagai sistem aksara memungkinkan masyarakat pada masa itu mencatat, menyimpan, dan mewariskan beragam pengetahuan dalam bentuk tulisan.

Perkembangan tersebut tercermin dari sekitar seribu naskah yang dihasilkan dengan beragam jenis kesusastraan, mulai dari tutur sebagai kitab keagamaan, castra yang berisi hukum, hingga wiracarita yang mengisahkan kepahlawanan.

Selain itu, terdapat pula berbagai kitab yang memuat ajaran moral, sejarah, dan keagamaan. Keberadaan naskah-naskah tersebut menunjukkan bahwa tradisi literasi telah menjadi bagian penting dalam perjalanan peradaban Nusantara.

Menurut informasi dari sonobudoyo.jogjaprov.go.id, salah satu peninggalan penting dari masa tersebut adalah Aksara Jawa yang juga dikenal sebagai Hanacaraka, Carakan, atau Dentawyanjana.

Aksara ini berasal dari perkembangan aksara Brahmi yang berasal dari India. Dalam perjalanannya, aksara Brahmi berkembang menjadi aksara Pallawa yang digunakan di wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara sekitar abad ke-6 hingga abad ke-8.

Setelah mengalami penyesuaian dengan budaya setempat, aksara Pallawa kemudian berkembang menjadi aksara Kawi pada masa Hindu-Buddha di Indonesia sekitar abad ke-8 hingga abad ke-15. Dari aksara Kawi inilah Aksara Jawa mulai terbentuk.

Perkembangan Aksara Jawa berlangsung seiring dengan perubahan budaya dan agama di Nusantara. Pada masa peralihan abad ke-14 hingga abad ke-15, aksara Kawi berkembang menjadi Aksara Jawa bersamaan dengan masuknya pengaruh Islam ke Pulau Jawa.

Setelah itu, Aksara Jawa digunakan sebagai sarana komunikasi dalam kehidupan sehari-hari, terutama sejak abad ke-15 hingga awal abad ke-20.

Sejarah Aksara Jawa juga dikaitkan dengan kisah Aji Saka yang terdapat dalam Serat Aji Saka, sebuah manuskrip anonim yang menceritakan asal-usul aksara tersebut.

Dikisahkan bahwa Aji Saka memberikan amanat kepada dua pengikutnya, yaitu Sembada dan Dora, untuk menjaga keris pusaka serta perhiasan di Pulau Majeti. Kesetiaan keduanya terhadap amanat itu justru memicu pertikaian yang berakhir dengan kematian mereka.

Setelah mengetahui peristiwa tersebut, Aji Saka menciptakan Sastra Sarimbangan atau Sastra Dua Puluh yang terdiri atas empat rangkaian, masing-masing berisi lima aksara, yaitu Ha-na-ca-ra-ka, Da-ta-sa-wa-la, Pa-dha-ja-ya-nya, serta Ma-ga-ba-tha-nga.

Kisah tersebut menunjukkan bahwa Aksara Jawa bukan hanya berfungsi sebagai sistem tulisan, tetapi juga mengandung makna tentang kesetiaan, pengorbanan, dan nilai-nilai luhur.

Sebagai salah satu warisan budaya Nusantara, Aksara Jawa memiliki nilai sejarah yang penting sehingga pelestariannya terus dilakukan.

Pemahaman terhadap sejarah dan makna yang terkandung di dalamnya diharapkan dapat menumbuhkan penghargaan terhadap kekayaan budaya Indonesia.

Hingga saat ini, pelestarian Aksara Jawa terus dilakukan melalui pembelajaran di sekolah, penerbitan buku, serta pelatihan menulis Aksara Jawa di berbagai komunitas. (DANI)

Baca juga: Asal Usul Pulau Senua dalam Legenda Kepulauan Riau dan Pariwisatanya