Konten dari Pengguna

Apa Itu Empiris dalam Sosiologi? Kenali Pengertian dan Penerapannya

P

Pojok Informasi

Membagikan informasi dari berbagai topik.

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Apa itu empiris dalam sosiologi. Foto: Unsplash.com/Khaleelah Ajibola
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Apa itu empiris dalam sosiologi. Foto: Unsplash.com/Khaleelah Ajibola

Kajian tentang apa itu empiris dalam sosiologi berkaitan dengan cara melihat kehidupan sosial melalui fakta yang dapat ditemukan di lapangan.

Pengetahuan dalam pendekatan ini tidak cukup dibangun dari dugaan atau pemikiran yang belum diuji melalui keadaan nyata.

Data yang terkumpul kemudian digunakan untuk menelaah perilaku, hubungan sosial, serta kondisi yang berlangsung dalam masyarakat.

Apa Itu Empiris dalam Sosiologi terkait Kehidupan Sosial?

Ilustrasi Apa itu empiris dalam sosiologi. Foto: Unsplash.com/Blackcreek Corporate

Apa itu empiris dalam sosiologi? Dikutip dari sociology.plus, pengertian empiris dalam sosiologi merujuk pada pendekatan yang menggunakan fakta hasil pengamatan atau pengalaman sebagai dasar untuk memahami kehidupan sosial.

Fakta tersebut dapat diperoleh dengan berbagai teknik penelitian, seperti observasi, wawancara, survei, dokumentasi, dan pengolahan data statistik.

Dengan cara tersebut, pernyataan mengenai suatu gejala sosial dapat diperiksa melalui bukti yang diperoleh secara langsung maupun melalui sumber data yang dapat ditelusuri.

Pengamatan lapangan menjadi salah satu cara penting dalam penelitian empiris. Peneliti dapat datang ke lingkungan tertentu untuk mencatat pola interaksi, kebiasaan, pembagian peran, atau perubahan perilaku yang terjadi dalam kelompok sosial.

Hasil pengamatan tidak langsung dianggap sebagai kesimpulan, melainkan perlu dicatat secara teratur dan dianalisis agar dapat digunakan untuk menjelaskan gejala yang diteliti.

Wawancara memberikan bentuk data yang berbeda karena memungkinkan peneliti mengetahui pengalaman dan alasan seseorang ketika melakukan tindakan tertentu.

Misalnya, penelitian mengenai kehidupan petani dapat menggali persoalan pekerjaan, hubungan dengan pemilik lahan, kondisi ekonomi, hingga perubahan yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Jawaban dari responden kemudian dapat dibandingkan dan dianalisis untuk melihat hubungan antara pengalaman individu dengan kondisi sosial yang lebih luas.

Data empiris juga dapat berbentuk angka. Survei dan statistik memungkinkan sosiolog melihat kecenderungan dalam kelompok masyarakat melalui data yang terukur.

Contohnya, data mengenai pendidikan dapat digunakan untuk meneliti hubungan antara tingkat pendidikan dengan kesempatan memperoleh pekerjaan.

Penggunaan angka membantu menunjukkan pola yang sulit terlihat apabila penelitian hanya mengandalkan pengamatan terhadap sejumlah kecil kasus.

Dalam perkembangan sosiologi, penggunaan bukti nyata turut berkaitan dengan pemikiran Auguste Comte yang mendorong masyarakat dipelajari menggunakan pendekatan ilmiah.

Emile Durkheim kemudian menunjukkan penerapannya melalui penelitian tentang bunuh diri.

Ia membandingkan data tingkat bunuh diri pada sejumlah kelompok dan menemukan adanya kaitan antara tindakan tersebut dengan kondisi integrasi serta regulasi sosial.

Pendekatan empiris tidak berarti semua penelitian sosiologi harus menggunakan statistik.

Max Weber melalui konsep Verstehen menekankan pentingnya memahami makna yang diberikan seseorang terhadap tindakannya.

Penelitian mengenai kegiatan keagamaan, misalnya, dapat melihat jumlah peserta sekaligus menggali alasan, keyakinan, dan makna kegiatan tersebut bagi orang yang terlibat.

Proses penelitian juga dapat bergerak dari fakta menuju kesimpulan umum atau dari dugaan awal menuju pengujian melalui data.

Peneliti dapat menemukan pola dari sejumlah hasil observasi, kemudian menyusun penjelasan yang lebih luas.

Sebaliknya, teori tertentu dapat diuji dengan mengumpulkan data yang relevan untuk melihat apakah temuan lapangan mendukung atau justru menunjukkan hasil berbeda.

Ciri utama pendekatan empiris terletak pada penggunaan bukti yang dapat diperiksa. Data perlu dikumpulkan dengan metode yang jelas agar hasil penelitian tidak sekadar mencerminkan pendapat pribadi peneliti.

Temuan tersebut juga dapat dibandingkan dengan penelitian lain sehingga penjelasan mengenai suatu gejala sosial memiliki dasar yang lebih kuat.

Apa itu empiris dalam sosiologi berkaitan dengan upaya memahami masyarakat melalui data yang diperoleh dari pengalaman, pengamatan, dan penelitian yang sistematis.

Pendekatan tersebut dapat menggunakan angka maupun uraian pengalaman untuk menjelaskan berbagai gejala sosial secara lebih teruji. (Suc)

Baca Juga: Apakah Pulau Bisa Berpindah Tempat? Cari Tahu Fakta Lengkapnya di Sini