Asal Provinsi Rumah Adat Bangsal Kencono yang Punya Makna Filosofis
Membagikan informasi dari berbagai topik.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Rumah Bangsal Kencono merupakan rumah adat yang berasal dari provinsi yang memiliki kekayaan budaya dan tradisi yang masih dijaga hingga saat ini.
Keberadaannya tidak hanya mencerminkan bentuk arsitektur khas masyarakat setempat, tetapi juga menunjukkan nilai-nilai sosial dan budaya yang berkembang dalam kehidupan masyarakat.
Sebagai salah satu warisan budaya, Rumah Bangsal Kencono memiliki karakteristik yang membedakannya dari rumah adat lainnya di Indonesia.
Asal Provinsi Rumah Adat Bangsal Kencono
Rumah Bangsal Kencono merupakan rumah adat yang berasal dari provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Setiap bagian bangunan memiliki keterkaitan dengan kebiasaan dan pandangan hidup masyarakat yang mewariskannya dari generasi ke generasi.
Dikutip dari situs jogjacagar.jogjaprov.go.id, bentuk arsitektur Bangsal Kencono mengadopsi model Joglo Sinom Mangkurat.
Model ini ditandai dengan perpaduan konstruksi lambang gantung pada pertemuan atap brunjung dan atap penanggap, serta konstruksi lambangsari pada sambungan antara atap penanggap dan atap emper.
Bangunan ini memiliki denah persegi panjang dengan ukuran 21,4 m × 21,9 m. Adapun material penutup atap yang digunakan adalah sirap metal.
Bangsal Kencono menjadi bangunan utama di dalam kompleks Keraton Yogyakarta. Bangunan ini memiliki ukuran yang luas serta dihiasi berbagai ukiran dengan nilai estetika yang tinggi.
Salah satu ciri khasnya terletak pada jumlah uleng, yaitu ruang yang terbentuk dari susunan blandar singup.
Bangsal Kencono memiliki enam uleng, sedangkan bangunan joglo pada umumnya hanya mempunyai dua uleng yang dipisahkan oleh balok dhadha paesi atau dhadha peksi.
Struktur atap Bangsal Kencono ditopang oleh beberapa jenis tiang dengan ukuran dan fungsi yang berbeda. Terdapat empat saka guru dengan tinggi 6,18 m dan penampang persegi berukuran 27 × 27 cm.
Selain itu, terdapat 12 saka penanggap setinggi 2,44 m dengan penampang 20 × 20 cm, serta 20 saka penitih setinggi 2 m dengan penampang 18 × 18 cm. Bangunan ini juga dilengkapi 16 saka santen berbentuk bulat dengan tinggi 2,44 m.
Tiang-tiang saka santen tersebut ditempatkan masing-masing dua buah pada keempat sisi bagian tengah, di antara balok blandar penanggap dan blandar emper.
Pada bagian tiang saka guru, saka penanggap, dan saka emper, terdapat beragam ornamen khas, yaitu saton, praban, putri mirong, sorotan, tlacapan, dan mayangkara.
Rumah Bangsal Kencono merupakan rumah adat yang berasal dari provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Pada Bangsal Kencono, ornamen praban dan putri mirong memiliki kedudukan khusus karena hanya ditemukan pada ruang yang digunakan sebagai tempat keberadaan Sultan di dalam bangunan tersebut.
Kedua ornamen ini tergolong ornamen awisan atau ornamen yang penggunaannya dibatasi. Oleh sebab itu, bentuk hiasan tersebut tidak diperbolehkan untuk ditiru pada bangunan lain, baik di dalam maupun di luar keraton, yang bukan merupakan tempat Sultan berada. (IF)
Baca juga: 4 Wisata Malam Jogja dengan View yang Memanjakan Mata