Konten dari Pengguna

Asal Usul Cenil Jajanan Khas yang Digemari dan Resepnya

P

Pojok Informasi

Membagikan informasi dari berbagai topik.

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi asal usul cenil, Pexels/Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi asal usul cenil, Pexels/Pixabay

Cenil merupakan salah satu jajanan tradisional Indonesia yang hingga kini masih mudah ditemukan di pasar-pasar tradisional. Di balik kepopolerannya, belum banyak orang yang mengetahui asal usul cenil.

Cenil memiliki tekstur yang kenyal dengan warna-warni cerah. Jajanan ini biasanya diberi taburan kelapa parut dan gula merah cair menjadikannya camilan favorit berbagai kalangan.

Asal Usul Cenil Khas Jawa

Ilustrasi asal usul cenil, Pexels/Pixabay

Cenil merupakan salah satu jajanan tradisional khas Jawa yang telah dikenal masyarakat sejak ratusan tahun lalu. Berikut adalah asal usul cenil, jajanan khas yang digemari beserta resepnya berdasarkan sirus web rri.co.id.

Meski telah hadir banyak makanan modern, cenil tetap mampu mempertahankan eksistensinya karena cita rasanya yang sederhana sekaligus khas. Makanan ini memiliki tekstur kenyal dengan warna-warni cerah yang menggugah selera.

Meski kini lebih sering dijumpai sebagai jajanan pasar, cenil menyimpan sejarah panjang yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat Jawa di masa lampau. Cenil diperkirakan sudah ada sejak masa Mataram Kuno sekitar abad ke-8.

Namun, bukti tertulis yang lebih jelas ditemukan dalam Serat Centhini pada tahun 1814. Karya tulis ini mencatat cenil sebagai salah satu penganan tradisional Jawa.

Pada masa lalu, cenil bukan sekadar makanan ringan. Jajanan ini dibuat sebagai alternatif pengganti nasi ketika masyarakat mengalami krisis pangan.

Cenil memiliki bahan dasar tepung tapioka atau tepung kanji yang mudah diperoleh. Jajanan ini menjadi solusi sederhana namun mengenyangkan.

Nama "cenil" diyakini berasal dari kata dalam bahasa Jawa yang menggambarkan sesuatu yang santai atau mungil dan menarik. Nama ini sesuai dengan bentuk serta tampilannya yang berwarna-warni.

Seiring berjalannya waktu, cenil berkembang menjadi jajanan pasar yang digemari berbagai kalangan dan tetap bertahan hingga sekarang. Selain memiliki nilai sejarah, cenil juga mengandung filosofi yang erat dengan kehidupan masyarakat Jawa.

Teksturnya yang kenyal dan sedikit lengket melambangkan kuatnya ikatan persaudaraan, gotong royong, dan kebersamaan. Dahulu proses pembuatannya sering dilakukan bersama-sama dalam lingkungan keluarga atau masyarakat saat menyelenggarakan hajatan.

Hingga kini, resep cenil masih relatif sederhana. Bahan utamanya terdiri atas tepung tapioka, air, sedikit garam, serta pewarna makanan atau pewarna alami seperti daun pandan dan ubi ungu.

Adonannya kemudian dibentuk kecil-kecil dan direbus hingga mengapung sebagai tanda matang. Kemudian adonan digulingkan ke dalam kelapa parut yang telah dikukus agar lebih tahan lama.

Sebagai pelengkap, cenil biasanya disajikan bersama siraman gula merah cair atau gula aren. Resep ini menghasilkan perpaduan rasa manis, gurih, dan kenyal yang khas.

Kesederhanaan bahan serta cita rasanya membuat cenil tetap menjadi salah satu warisan kuliner Nusantara yang dicintai lintas generasi. Di balik kelezatannya, cenil memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat Jawa pada masa lampau.

Asal usul cenil dipercaya lahir dari kreativitas masyarakat dalam memanfaatkan bahan pangan sederhana. Cenil terbuat dari tepung pati singkong yang diolah menjadi makanan yang mengenyangkan sekaligus bernilai ekonomi. (Fia)

Baca juga: Ciri Khas Sego Tempong Banyuwangi yang Tetap Terjaga hingga Kini