Konten dari Pengguna

Asal Usul Gudeg dan Filosofi di Balik Cita Rasanya yang Khas

P

Pojok Informasi

Membagikan informasi dari berbagai topik.

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Asal Usul Gudeg, Foto:Unsplash/Inna Safa
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Asal Usul Gudeg, Foto:Unsplash/Inna Safa

Asal usul gudeg menarik untuk dibahas karena hidangan ini tidak hanya dikenal sebagai kuliner khas yang melegenda, tetapi juga menyimpan cerita yang mampu mengundang rasa penasaran banyak orang.

Di balik warna cokelat yang khas, aroma rempah yang menggoda, serta perpaduan rasa manis dan gurih yang begitu akrab di lidah, terdapat perjalanan panjang yang membentuk identitas sebuah sajian hingga dikenal luas seperti sekarang.

Tidak sedikit orang menikmati gudeg hanya sebagai makanan sehari-hari atau oleh-oleh, padahal setiap hidangan tradisional umumnya memiliki latar belakang yang membuatnya semakin istimewa untuk dikenali.

Asal Usul Gudeg, Bukti Perjalanan Panjang Kuliner Yogyakarta

Ilustrasi Asal Usul Gudeg, Foto:Unsplash/Farhan Abas

Asal usul gudeg tidak dapat dipisahkan dari perjalanan panjang kuliner tradisional Yogyakarta yang terus berkembang dari masa ke masa.

Dikutip dari laman kebudayaan.jogjakota.go.id, hidangan berbahan dasar nangka muda ini tidak hanya dikenal sebagai makanan khas Yogyakarta, tetapi juga ditemukan di sejumlah daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Meski demikian, Yogyakarta tetap menjadi daerah yang paling melekat dengan gudeg sehingga makanan ini menjadi bagian penting dari identitas kota tersebut.

Seiring berjalannya waktu, jumlah penjual gudeg terus bertambah, mulai dari warung tradisional, restoran modern, hingga layanan pesan antar secara daring.

Ragam olahannya pun semakin beragam, seperti gudeg kering yang lebih tahan lama, gudeg kaleng yang dapat dipasarkan hingga mancanegara, serta gudeg vegan yang hadir sebagai bentuk penyesuaian terhadap perkembangan gaya hidup.

Kepopuleran gudeg juga semakin meluas berkat keikutsertaannya dalam berbagai festival kuliner internasional. Karena itu, gudeg kini dikenal sebagai salah satu oleh-oleh khas yang banyak dicari oleh wisatawan saat berkunjung ke Yogyakarta.

Keistimewaan gudeg Yogyakarta terletak pada cita rasanya yang manis, warna cokelat tua hingga kemerahan, serta kuah santan kental yang dikenal dengan sebutan areh.

Penyajiannya semakin lengkap dengan tambahan lauk seperti ayam kampung, telur rebus, tahu, tempe bacem, dan sambal goreng krecek.

Bahan utama yang digunakan adalah gori atau nangka muda, meskipun di beberapa daerah terdapat pula variasi gudeg yang dibuat menggunakan rebung sebagai bahan utamanya.

Pembuatan gudeg memerlukan proses memasak dalam waktu yang cukup lama menggunakan api kecil. Cara memasak tersebut menghasilkan rasa yang khas sekaligus warna yang lebih pekat.

Berdasarkan teknik penyajiannya, gudeg dibedakan menjadi dua jenis, yaitu gudeg basah yang memiliki kuah dengan tekstur lebih lembut serta gudeg kering yang lebih awet sehingga sering dipilih sebagai oleh-oleh.

Selain itu, perkembangan inovasi kuliner juga melahirkan gudeg dalam bentuk kaleng maupun kemasan instan sehingga lebih mudah didistribusikan ke berbagai daerah bahkan hingga luar negeri.

Di sisi lain, hadir pula gudeg vegan sebagai salah satu bentuk pengembangan produk yang lebih ramah lingkungan.

Riwayat gudeg telah tercatat dalam Serat Centhini, yang menyebut hidangan ini diperkirakan sudah dikenal sejak abad ke-16 atau ke-17, jauh sebelum berdirinya Kesultanan Yogyakarta.

Dalam naskah tersebut, gudeg diceritakan sebagai makanan yang dijual di tengah keramaian pertunjukan wayang sekaligus disajikan untuk menjamu tamu di pedesaan Jawa.

Sementara itu, sejarah lisan menyebutkan bahwa gudeg mulai semakin dikenal ketika pembangunan Keraton Yogyakarta berlangsung pada akhir abad ke-18.

Pada masa itu, buah nangka muda dimanfaatkan oleh para abdi dalem bersama masyarakat sekitar sebagai bahan makanan. Nama gudeg sendiri diyakini berasal dari kata hangudeg atau ngudeg yang berarti mengaduk.

Hingga saat ini, gudeg terus berkembang sebagai salah satu daya tarik wisata kuliner di Yogyakarta. Kawasan Sentra Gudeg Wijilan menjadi ikon kuliner yang dikenal luas karena memiliki deretan penjual gudeg dengan cita rasa khas.

Asal usul gudeg tak lepas dari beberapa nama legendaris, seperti Gudeg Yu Djum, Gudeg Bu Tjitro, dan Gudeg Bu Slamet, masih mempertahankan keberadaannya sampai sekarang.

Selain itu, kemajuan teknologi pemasaran daring serta inovasi pada kemasan turut memperluas distribusi gudeg sehingga semakin mudah dijangkau di berbagai daerah maupun di luar negeri. (KIKI)

Baca juga: Ciri Khas Sego Tempong Banyuwangi yang Tetap Terjaga hingga Kini