Konten dari Pengguna

Asal Usul Rujak Cingur, Perjalanan Kuliner Tradisional yang Bertahan hingga Kini

P

Pojok Informasi

Membagikan informasi dari berbagai topik.

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Asal Usul Rujak Cingur, Foto:Unsplash/Yusuf Hasan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Asal Usul Rujak Cingur, Foto:Unsplash/Yusuf Hasan

Asal usul rujak cingur selalu menjadi topik yang menarik untuk dibahas karena di balik sepiring hidangan khas Jawa Timur tersimpan kisah panjang yang tidak banyak diketahui.

Kuliner tradisional bukan sekadar perpaduan bahan makanan, melainkan juga cerminan perjalanan budaya, kebiasaan masyarakat, hingga nilai-nilai yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Setiap daerah di Indonesia memiliki makanan khas dengan latar belakang yang unik, sehingga keberadaannya tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga memperkaya khazanah sejarah kuliner Nusantara.

Asal Usul Rujak Cingur dan Perjalanan Panjang Menjadi Kuliner Ikonik

Ilustrasi Asal Usul Rujak Cingur, Foto:Unsplash/Randy Fath

Asal usul rujak cingur berkaitan erat dengan perjalanan kuliner tradisional khas Surabaya yang telah diwariskan secara turun-temurun sejak tahun 1938.

Selama kurang lebih 85 tahun, hidangan ini tetap eksis dan dikenal sebagai salah satu makanan khas yang memiliki nilai budaya sekaligus cita rasa yang khas.

Keberadaannya hingga sekarang menunjukkan bahwa rujak cingur mampu bertahan di tengah perkembangan berbagai jenis kuliner modern.

Menurut informasi dari kemendikdasmen.go.id, nama rujak cingur berawal dari penyebutan "rujak" yang digunakan oleh masyarakat Madura.

Seiring waktu, masyarakat Surabaya yang telah mengenal rujak buah kemudian memadukannya dengan cingur sehingga lahirlah hidangan yang kini dikenal sebagai rujak cingur.

Perpaduan tersebut menjadi ciri khas yang membedakannya dari jenis rujak lainnya dan terus dipertahankan hingga saat ini.

Penggunaan cingur atau bagian hidung sapi juga tidak lepas dari kondisi Surabaya pada masa lampau. Letaknya yang berdekatan dengan Pulau Madura membuat pasokan daging sapi lebih mudah diperoleh sehingga cingur dipilih sebagai salah satu bahan utama dalam sajian ini.

Selain memberikan karakter tersendiri pada hidangan, cingur juga merupakan salah satu sumber protein yang bermanfaat untuk menunjang pertumbuhan.

Pembuatan rujak cingur diawali dengan meracik bumbu khas yang menjadi identitas utama hidangan ini. Petis dicampurkan dengan kacang, air, bawang goreng, serta berbagai bumbu lainnya hingga menghasilkan cita rasa yang khas.

Setelah itu, cingur direbus bersama bumbu-bumbu hingga matang sebelum dipadukan dengan bahan pelengkap lainnya.

Selain cingur, rujak cingur juga menggunakan tahu goreng, tempe goreng, aneka sayuran, buah-buahan, dan lontong.

Seluruh bahan tersebut kemudian dicampurkan dengan bumbu yang telah diulek sehingga menghasilkan perpaduan rasa yang menjadi ciri khas kuliner tradisional Surabaya.

Proses mengulek seluruh bahan bersama bumbu umumnya memerlukan waktu sekitar 10 hingga 20 menit. Meski demikian, tahapan yang paling memakan waktu adalah merebus cingur, yaitu sekitar lima hingga delapan jam.

Lamanya proses tersebut bertujuan agar tekstur cingur menjadi semakin empuk sehingga lebih mudah dikonsumsi dan sesuai dengan karakteristik rujak cingur yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Itulah asal usul rujak cingur, kuliner yang bisa ditemui di daerah lain selain Surabaya. (DANI)

Baca juga: Asal Usul Pempek yang Jarang Diketahui