Asal Usul Sate Lilit Khas Bali dan Resepnya
Membagikan informasi dari berbagai topik.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sate lilit merupakan salah satu kuliner khas Bali yang terkenal karena cita rasanya yang gurih dan kaya rempah. Kuliner ini telah banyak tersebar ke seluruh nusantara namun tidak banyak masyarakat yang mengetahui asal usul sate lilit khas Bali.
Di balik kelezatannya, sate lilit menyimpan sejarah panjang yang berkaitan dengan tradisi masyarakat Bali. Hidangan ini kerap hadir dalam berbagai upacara adat, perayaan keagamaan, hingga jamuan keluarga sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.
Asal Usul Sate Lilit dari Masyarakat Hindu Bali
Sate lilit merupakan salah satu makanan tradisional khas Bali yang telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Hindu Bali. Inilah asal usul sate lilit khas Bali beserta resepnya berdasarkan ceraken.baliprov.go.id.
Sate lilit memiliki nilai budaya yang kuat. Berbeda dengan sate pada umumnya, sate lilit dibuat dari daging yang dicincang halus, dicampur dengan parutan kelapa, santan, dan rempah khas Bali, kemudian dililitkan pada batang serai atau bambu sebelum dipanggang.
Dalam masyarakat Bali, hidangan ini juga dikenal dengan sebutan sate pusut atau sate Bali. Pada awalnya, sate lilit bukan sekadar makanan sehari-hari, melainkan bagian dari sarana upacara keagamaan (yadnya).
Naskah kuno Lontar Dharma Caruban menyebutkan bahwa sate lilit termasuk salah satu dari tiga belas jenis sate yang digunakan sebagai pelengkap persembahan kepada Tuhan. Keberadaannya memiliki makna filosofis sebagai simbol keikhlasan, rasa syukur, dan bakti.
Setelah prosesi persembahyangan selesai, sate lilit yang telah dipersembahkan kemudian disantap bersama keluarga. Tradisi makan sate lilit ini dipercaya sebagai prasadam atau makanan yang telah diberkati.
Tradisi membuat sate lilit juga mempererat hubungan kekeluargaan. Menjelang Hari Raya Galungan, masyarakat Bali biasanya berkumpul untuk melakukan kegiatan "Nyate" dan "Ngelawar", yaitu membuat sate dan lawar secara bersama-sama.
Kebiasaan ini menjadi simbol gotong royong sekaligus sarana melestarikan tradisi kuliner dari generasi ke generasi. Seiring berkembangnya pariwisata, sate lilit tidak lagi hanya disajikan saat upacara adat, tetapi juga menjadi menu andalan di berbagai tempat.
Sate ini dibuat dari bahan-bahan yang mudah didapat. Berikut adalah cara membuat sate lilit.
Siapkan bahan utama berupa daging ayam, ikan, atau sapi yang dicincang halus.
Daging kemudian dicampur dengan kelapa parut, santan, bawang merah, bawang putih, cabai, kunyit, jahe, lengkuas, ketumbar, terasi, garam, dan gula.
Adonan tersebut dililitkan pada batang serai, lalu dipanggang hingga matang sambil sesekali diolesi santan agar menghasilkan tekstur yang lembut, harum, dan kaya cita rasa khas Bali.
Mengetahui asal usul sate lilit dapat membuat masyarakat semakin menghargai kekayaan kuliner Nusantara. Masyarakat juga dapat mencoba membuatnya sendiri di rumah dengan resep yang autentik. (Fia)
Baca juga: Sejarah Pempek hingga Menjadi Ikon Kuliner Palembang