Bagaimana Gua Terbentuk? Ternyata Ada Proses Geologi yang Panjang
Membagikan informasi dari berbagai topik.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagaimana gua terbentuk menjadi pertanyaan menarik ketika melihat keberadaan ruang dan lorong alami yang tersembunyi di balik permukaan bumi.
Keberadaan gua dapat ditemukan di berbagai lingkungan dengan bentuk dan ukuran yang beragam, sehingga proses terbentuknya menjadi fenomena alam yang menarik untuk dipahami. Lantas, bagaimana proses panjang di balik terbentuknya suatu gua? Simak penjelasannya.
Bagaimana Gua Terbentuk Sebagai Peristiwa Geologi?
Bagaimana gua terbentuk dapat dijelaskan melalui beberapa proses geologi yang berbeda. Sebagian besar gua berkembang di kawasan karst yang tersusun atas batu kapur, dolomit, atau gipsum. Batuan tersebut dapat mengalami pelarutan ketika terkena air yang memiliki sifat sedikit asam.
Berdasarkan penjelasan nationalgeographic.com, prosesnya bermula ketika air hujan bercampur dengan karbon dioksida di atmosfer. Air kemudian meresap ke dalam tanah dan kembali menyerap karbon dioksida dari tanah.
Kondisi tersebut membuat air menjadi larutan asam lemah yang mampu melarutkan mineral tertentu dalam batuan, terutama kalsit pada batu kapur.
Air yang telah bersifat asam masuk melalui retakan dan celah kecil pada batuan. Aliran air yang berlangsung terus-menerus secara perlahan memperbesar celah tersebut. Seiring waktu, saluran air di dalam batuan dapat berkembang menjadi jaringan lorong bawah tanah.
Proses tersebut membutuhkan waktu yang sangat panjang. Sebagian gua karst dapat membutuhkan waktu lebih dari 100.000 tahun untuk berkembang hingga memiliki ukuran yang cukup besar.
Air terus bergerak mengikuti celah dan struktur batuan sampai mencapai bagian bawah tanah yang jenuh air. Pergerakan air yang berlangsung dalam waktu lama juga dapat membentuk lorong dengan berbagai ukuran dan arah.
Pada wilayah tertentu, aliran air bawah tanah dapat menghasilkan lorong yang relatif mendatar karena mengikuti lapisan batuan yang memiliki kondisi tertentu.
Meskipun gua karst merupakan salah satu jenis gua yang umum ditemukan, proses pembentukan gua tidak selalu melalui pelarutan batuan. Gua juga dapat terbentuk melalui aktivitas ombak di wilayah pantai.
Hantaman ombak yang berlangsung berulang kali dapat mengikis batuan pada tebing pantai. Jika proses erosi terus berlangsung, rongga pada batuan dapat semakin besar hingga membentuk gua.
Gua juga dapat terbentuk dari aliran lava. Ketika lava mengalir, bagian luarnya dapat lebih dahulu mendingin dan mengeras, sementara material cair di bagian dalam masih bergerak. Setelah aliran lava keluar, ruang yang tertinggal dapat membentuk tabung lava.
Bagian dalam gua karst juga dapat dihiasi berbagai formasi mineral yang disebut speleotem. Formasi tersebut terbentuk melalui proses pengendapan mineral yang berlangsung secara perlahan.
Ketika air yang membawa kalsit keluar dari larutan, mineral tersebut dapat mengendap pada permukaan gua. Endapan yang tumbuh dari langit-langit disebut stalaktit, sedangkan formasi yang tumbuh dari lantai disebut stalagmit.
Jika stalaktit dan stalagmit terus tumbuh hingga akhirnya bertemu, keduanya dapat membentuk pilar atau kolom. Selain itu, terdapat flowstone berupa lapisan kalsit yang menyelimuti dinding atau lantai gua.
Bagaimana gua terbentuk berkaitan dengan proses alam yang berlangsung sangat lama. Air yang melarutkan batuan, erosi ombak, aliran lava, hingga pencairan gletser dapat menghasilkan jenis gua yang berbeda.
Sementara itu, stalaktit, stalagmit, dan berbagai speleotem menunjukkan bahwa proses pembentukan dan perubahan gua dapat terus berlangsung selama ribuan hingga jutaan tahun. (Rahma)
Baca juga: Bagaimana Pulau Bisa Terbentuk? Simak Prosesnya dari Awal