Konten dari Pengguna

Bagaimana Roti Bisa Mengembang? Temukan Jawabannya di Sini

P

Pojok Informasi

Membagikan informasi dari berbagai topik.

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Bagaimana Roti Bisa Mengembang, Foto:Unsplash/mohamed hassouna
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Bagaimana Roti Bisa Mengembang, Foto:Unsplash/mohamed hassouna

Pertanyaan bagaimana roti bisa mengembang kerap muncul, terutama ketika melihat perbedaan antara adonan sebelum dipanggang dan roti yang sudah keluar dari oven.

Mengapa adonan yang semula rendah dan berat dapat berubah menjadi mengembang? Apa yang membuat bagian dalam roti memiliki banyak rongga, sementara permukaannya tetap dapat membentuk struktur yang kokoh?

Prosesnya tidak hanya berkaitan dengan panas oven, karena tahapan sebelum pemanggangan juga memiliki peran penting.

Bagaimana Roti Bisa Mengembang Setelah Jadi Adonan?

Ilustrasi Bagaimana Roti Bisa Mengembang, Foto:Unsplash/Charles Chen

Bagaimana roti bisa mengembang menjadi bagian menarik dari proses pembuatan makanan yang tampak sederhana, tetapi melibatkan beberapa tahapan penting.

Roti hadir dalam beragam bentuk di berbagai wilayah, mulai dari baozi asal Tiongkok hingga lavash dari Armenia. Meskipun bentuk, tekstur, dan cara memasaknya berbeda, pada dasarnya roti dibuat dengan memasak campuran biji-bijian yang telah digiling dan air.

Dari bahan dasar tersebut, proses pengolahan kemudian menentukan karakter akhir roti, termasuk apakah hasilnya tipis dan renyah atau justru lembut serta berongga.

Dikutip dari laman exploratorium.edu, jenis roti dapat dimulai dari roti pipih yang sangat tipis hingga roti lembut seperti brioche.

Beberapa jenis dibuat dengan cara sederhana, misalnya matzoh yang hanya menggunakan tepung dan air, kemudian dipanggang sampai renyah.

Sebaliknya, roti yang mengembang melibatkan interaksi antara tepung dan bahan pengembang sehingga menghasilkan tekstur yang lebih berpori dan lembut.

Bahan pengembang yang umum digunakan terbagi menjadi dua jenis, yaitu baking powder atau baking soda dan ragi. Baking powder serta baking soda bekerja dengan cepat melalui reaksi kimia antara senyawa asam dan basa.

Reaksi tersebut menghasilkan karbon dioksida yang membantu mengembangkan adonan atau campuran bahan. Karena bekerja dalam waktu singkat, bahan tersebut banyak digunakan untuk makanan seperti roti jagung dan biskuit.

Sementara itu, ragi merupakan jamur hidup bersel satu. Setelah bersentuhan dengan air hangat, ragi yang sebelumnya tidak aktif mulai bekerja dengan mengonsumsi gula dari tepung dan menghasilkan karbon dioksida.

Prosesnya berlangsung lebih lambat dibandingkan baking powder atau baking soda, tetapi ragi juga menghasilkan cita rasa dan aroma khas pada roti.

Tepung memiliki peran penting karena membantu menahan gas yang dihasilkan selama proses tersebut. Tepung terigu mengandung protein glutenin dan gliadin yang, ketika bercampur dengan air, membentuk gluten.

Saat adonan diuleni, gluten menjadi semakin lentur sehingga mampu menahan ribuan gelembung gas.

Pati yang menyusun sekitar 70 persen berat tepung juga berperan. Enzim dalam tepung memecah pati dan menghasilkan gula yang dapat dikonsumsi ragi. Selain itu, pati membantu memperkuat gluten serta menyerap air selama pemanggangan.

Dalam beberapa proses pembuatan roti, adonan dapat dibiarkan mengembang beberapa kali agar gluten berkembang lebih sempurna dan ragi menghasilkan lebih banyak cita rasa.

Ketika adonan akhirnya dimasak, ragi masih bekerja dan gelembung gas terus membesar. Namun, seiring meningkatnya suhu, ragi mati, gluten mengeras, dan adonan akhirnya berubah menjadi roti dengan struktur yang lebih kokoh. (KIKI)

Baca juga: Asal Usul Nama Kota Surabaya Menurut Cerita Rakyat Jawa Timur