Bahasa Daerah Tertua di Indonesia, Warisan Leluhur yang Sarat Makna
Membagikan informasi dari berbagai topik.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyak orang tertarik untuk mencari tahu lebih jauh mengenai bahasa daerah tertua di Indonesia, terutama karena setiap bahasa memiliki sejarah yang unik serta berkembang dalam lingkungan budaya yang berbeda.
Rasa ingin tahu itu semakin besar ketika berbagai peninggalan masa lampau, tradisi lisan, hingga naskah kuno masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di sejumlah daerah.
Di sisi lain, perkembangan zaman menghadirkan tantangan baru yang secara perlahan memengaruhi penggunaan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari.
Tantangan Pelestarian Bahasa Daerah Tertua di Indonesia di Era Modern
Tantangan pelestarian bahasa daerah tertua di Indonesia di era modern semakin menjadi perhatian karena bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga merupakan bagian dari identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di tengah perkembangan zaman dan derasnya arus globalisasi, keberadaan bahasa daerah menghadapi berbagai perubahan yang memengaruhi penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh sebab itu, pelestarian bahasa daerah terus didorong melalui berbagai kebijakan yang bertujuan menjaga keberlangsungan bahasa sebagai kekayaan budaya sekaligus memperkuat bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.
Berdasarakan informasi dari kemendikdasmen.go.id, upaya pelindungan bahasa daerah memiliki landasan hukum yang jelas, yaitu Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2014 tentang Pengembangan, Pembinaan, dan Pelindungan Bahasa dan Sastra.
Regulasi tersebut menegaskan bahwa negara memiliki tanggung jawab dalam menjaga, membina, dan mengembangkan bahasa Indonesia maupun bahasa daerah agar tetap lestari.
Salah satu langkah pelestarian dilakukan melalui program revitalisasi bahasa daerah. Hingga saat ini, sebanyak 120 bahasa daerah telah berhasil direvitalisasi sebagai bentuk komitmen untuk menjaga keberadaan bahasa daerah agar tidak mengalami kepunahan.
Program tersebut diharapkan mampu menghidupkan kembali penggunaan bahasa daerah di tengah masyarakat sehingga tetap berkembang dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Indonesia memiliki 718 bahasa daerah sehingga menjadi salah satu negara dengan keragaman bahasa terbesar di dunia. Namun, banyak di antaranya menghadapi ancaman kepunahan akibat perubahan sosial, perpindahan penduduk, serta minimnya dokumentasi.
Hilangnya sebuah bahasa berarti hilangnya warisan budaya yang tidak dapat digantikan. Karena itu, pelestarian bahasa daerah memerlukan keterlibatan berbagai pihak agar keberadaannya tetap terjaga.
Ancaman terhadap bahasa daerah juga dipengaruhi oleh terputusnya pewarisan bahasa dari orang tua kepada anak, semakin kuatnya penggunaan bahasa lain di lingkungan masyarakat multibahasa, serta peralihan penutur ke bahasa yang lebih dominan.
Kondisi tersebut menyebabkan bahasa ibu semakin jarang digunakan dalam lingkungan keluarga sehingga peluang bahasa untuk terus diwariskan menjadi semakin kecil.
Selain memperkuat penggunaan bahasa di lingkungan keluarga, pelestarian juga membutuhkan dukungan dari dunia pendidikan, komunitas, dan pemanfaatan teknologi digital.
Dokumentasi bahasa melalui media digital dinilai dapat membantu menjaga keberadaan bahasa daerah sekaligus mendukung proses revitalisasi agar bahasa tetap digunakan oleh generasi berikutnya.
Berbagai upaya tersebut menunjukkan bahwa pelestarian bahasa daerah tidak cukup dilakukan melalui diskusi atau kebijakan semata, tetapi juga memerlukan langkah yang terarah dan berkelanjutan.
Dengan adanya kerja sama antara pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas, dan masyarakat adat, pelindungan bahasa daerah diharapkan dapat berjalan lebih sistematis sehingga bahasa-bahasa daerah tertua di Indonesia tetap menjadi bagian penting dari warisan budaya bangsa. (DANI)
Baca juga: Contoh Asimilasi Budaya di Indonesia yang Masih Terlihat hingga Saat Ini