Konten dari Pengguna

Ciri Khas Soto Kudus yang Tetap Terjaga dari Dulu hingga Sekarang

P

Pojok Informasi

Membagikan informasi dari berbagai topik.

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Ciri Khas Soto Kudus, Foto:Unsplash/Tom Crew
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Ciri Khas Soto Kudus, Foto:Unsplash/Tom Crew

Ciri khas soto Kudus menjadi salah satu alasan mengapa kuliner tradisional ini tetap memiliki tempat istimewa di hati banyak orang.

Di tengah bermunculannya berbagai hidangan modern dengan cita rasa yang beragam, makanan khas dari Kota Kudus ini justru mampu mempertahankan pesonanya tanpa kehilangan identitas.

Setiap daerah di Indonesia memang memiliki sajian berkuah yang khas, tetapi tidak semuanya berhasil menjaga keaslian resep dan tradisi penyajiannya selama bertahun-tahun.

Ciri Khas Soto Kudus yang Membuatnya Berbeda dari Soto Daerah Lain

Ilustrasi Ciri Khas Soto Kudus, Foto:Unsplash/TAN Erica

Ciri khas soto Kudus tidak hanya terletak pada cita rasanya yang khas, tetapi juga pada sejarah panjang yang mengiringi kehadirannya.

Kabupaten Kudus yang dikenal sebagai kota santri sekaligus kota kretek memiliki kuliner legendaris yang diwariskan oleh Sunan Kudus atau Syeikh Ja'far Shodiq.

Di balik semangkuk soto Kudus, tersimpan nilai toleransi yang menjadi bagian penting dalam perjalanan penyebaran agama Islam di wilayah tersebut.

Sunan Kudus dikenal menggunakan pendekatan budaya ketika menyebarkan agama Islam.

Selain meninggalkan Menara Kudus yang memiliki bentuk menyerupai bangunan tempat ibadah umat Hindu pada masa itu, ia juga memperkenalkan soto Kudus dengan menggunakan daging kerbau sebagai bahan utamanya.

Berdasarakan informasi dari visitjawatengah.jatengprov.go.id, pemilihan daging kerbau bukan tanpa alasan. Langkah tersebut dilakukan agar tidak perlu menyembelih sapi yang dihormati oleh masyarakat Hindu sebagai hewan suci.

Cara ini menjadi bentuk penghormatan terhadap keyakinan masyarakat setempat sekaligus menunjukkan pendekatan dakwah yang mengedepankan sikap saling menghargai.

Warisan tersebut terus dijaga hingga sekarang. Soto Kebo atau soto Kerbau menjadi salah satu kuliner khas Kudus yang tetap mempertahankan penggunaan daging kerbau atau ayam.

Sementara itu, di banyak daerah lain, soto umumnya menggunakan daging sapi sebagai bahan utama.

Hingga saat ini, sekitar 95 persen masyarakat Kudus masih menjalankan pesan Sunan Kudus untuk tidak menyembelih sapi. Tradisi tersebut juga diterapkan saat Iduladha di lingkungan Menara Kudus.

Pada hari kedua Tasyrik, yakni 12 Dzulhijjah, penyembelihan hewan kurban di kawasan tersebut tidak pernah menggunakan sapi.

Larangan tersebut bukan berarti melarang mengonsumsi daging sapi, melainkan hanya menghindari penyembelihannya sebagai bentuk penghormatan kepada umat Hindu yang memuliakan sapi sebagai hewan suci dan sakral.

Melalui sikap saling menghormati itu, penyebaran agama Islam dilakukan dengan pendekatan yang lebih diterima oleh masyarakat pada masa tersebut.

Hadirnya soto Kudus semakin memperkaya ragam kuliner Nusantara. Setiap daerah memiliki soto dengan karakteristik tersendiri, sedangkan soto Kudus menawarkan keunikan yang tidak hanya berasal dari cita rasanya, tetapi juga dari nilai sejarah yang menyertainya.

Hal inilah yang menjadikan Soto Kudus sebagai salah satu ikon kuliner Kabupaten Kudus.

Soto Kudus disajikan dalam mangkuk berukuran kecil dengan potongan daging kerbau berbentuk dadu.

Kuahnya diracik menggunakan perpaduan rempah-rempah yang seimbang, diperkaya kaldu daging kerbau, serta aroma bawang putih goreng yang menghasilkan cita rasa gurih dan khas.

Menemukan soto Kudus juga tidak sulit karena banyak warung yang menyajikan soto ayam maupun soto kerbau di berbagai sudut Kota Kudus.

Salah satunya adalah soto Pak Denuh yang memiliki cabang di Jalan AKBP Agil Kusumadya, Kudus, dekat Rumah Sakit Mardi Rahayu. Warung tersebut selalu ramai dikunjungi, terutama saat Ramadan.

Meskipun telah dikelola oleh generasi kedua, resep rahasia beserta kualitas rasanya tetap dipertahankan. Kondisi tersebut membuat banyak perantau maupun pelanggan dari luar daerah selalu menyempatkan diri menikmati soto kerbau ketika berkunjung ke Kudus.

Pada bulan Ramadan, banyak pemudik maupun pengunjung dari luar daerah memilih soto kerbau sebagai menu berbuka puasa.

Hidangan ini tetap menjadi salah satu kuliner yang paling dicari karena cita rasanya yang khas dan sulit ditemukan di daerah lain.

Bagi yang belum pernah mencicipinya, soto kerbau mungkin terdengar berbeda. Namun, hidangan ini semakin nikmat ketika disantap bersama sate telur puyuh, sate paru, sate kerang, maupun rempeyek udang sebagai pelengkap yang semakin memperkaya cita rasanya. (DANI)

Baca juga: Asal Usul Serabi, Jajanan Tradisional yang Bertahan dari Zaman Kerajaan