Konten dari Pengguna

Dampak dari Jatuhnya Kota Konstantinopel ke Tangan Turki Usmani

P

Pojok Informasi

Membagikan informasi dari berbagai topik.

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Jatuhnya Kota Konstantinopel ke tangan Turki Usmani membawa dampak, Foto: Unsplash/Engin Yapici
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Jatuhnya Kota Konstantinopel ke tangan Turki Usmani membawa dampak, Foto: Unsplash/Engin Yapici

Jatuhnya Kota Konstantinopel ke tangan Turki Usmani membawa dampak seperti apa bagi dunia pada abad ke-15? Pertanyaan ini menarik untuk ditelusuri.

Sebab, peristiwa yang terjadi pada tahun 1453 tersebut bukan sekadar kisah penaklukan sebuah kota, melainkan bagian penting dari perjalanan panjang peradaban manusia.

Konstantinopel dikenal sebagai pusat kekuasaan Kekaisaran Bizantium sekaligus kota strategis yang menghubungkan berbagai wilayah di Eropa dan Asia.

Dampak dari Jatuhnya Kota Konstantinopel ke Tangan Turki Usmani pada Abad ke-15

Ilustrasi Jatuhnya Kota Konstantinopel ke tangan Turki Usmani membawa dampak, Foto: Unsplash/Anna Berdnik

Dikutip dari buku berjudul Perang Salib Timur dan Barat Misi Merebut Yerusalem dan Mengalahkan Pasukan Islam di Eropa, oleh Jati Pamungkas (2018:219-220), Jatuhnya Kota Konstantinopel ke tangan Turki Usmani membawa dampak luar biasa bagi Eropa.

Jatuhnya Bizantium ke tangan Turki Usmani mengakibatkan perubahan besar dalam aktivitas perdagangan antara Asia dan Eropa.

Akses bangsa Eropa terhadap rempah-rempah dari Asia mengalami hambatan karena jalur perdagangan yang sebelumnya digunakan berada di bawah kendali Turki Usmani.

Situasi tersebut diperburuk oleh hubungan politik yang semakin tegang antara Turki Usmani dan negara-negara Eropa Barat, termasuk pihak Kepausan Roma.

Akibatnya, distribusi berbagai komoditas dari Asia menuju pasar Eropa tidak lagi berjalan semudah sebelumnya.

Terhambatnya perdagangan tersebut turut mempengaruhi kegiatan ekonomi di sejumlah kota pelabuhan Eropa, seperti Venesia, Palermo, dan Genoa.

Kota-kota lain, termasuk Antiokhia, Alexandria, dan Tunis, juga menghadapi perubahan hubungan dagang akibat perluasan kekuasaan Turki Usmani.

Kondisi ini membuat rempah-rempah semakin sulit diperoleh oleh pedagang Eropa dan harganya meningkat tajam. Nilai jual komoditas tersebut bahkan menjadi sangat tinggi jika dibandingkan dengan kemampuan ekonomi masyarakat pada masa itu.

Keadaan ini kemudian mendorong bangsa Eropa untuk mencari alternatif jalur perdagangan yang dapat menghubungkan mereka secara langsung dengan sumber rempah-rempah di Asia.

Munculnya kekuatan baru di kawasan Timur mendorong bangsa-bangsa Eropa untuk mencari jalur alternatif menuju wilayah Asia, khususnya India dan Kepulauan Maluku yang terkenal sebagai penghasil rempah-rempah.

Kondisi tersebut memicu keberanian bangsa Eropa untuk melakukan pelayaran jarak jauh melalui pesisir Afrika, meskipun perjalanan tersebut memiliki risiko dan tantangan yang besar.

Upaya penjelajahan samudra ini pada tahap awal dipelopori oleh Kerajaan Portugal dan Spanyol.

Keberhasilan kedua kerajaan tersebut dalam mengembangkan pelayaran juga didukung oleh kemajuan pengetahuan yang diwariskan oleh peradaban Islam, terutama sejak masa Kekhalifahan Abbasiyah.

Penguasaan ilmu astronomi dan ilmu falak membantu pelaut memahami posisi benda langit serta menentukan arah pelayaran.

Oleh sebab itu, perkembangan ekspedisi samudra bangsa Eropa tidak terlepas dari kontribusi keilmuan Islam yang menjadi salah satu landasan penting bagi kemajuan navigasi pada masa itu.

Itulah penjelasan tentang dampak dari jatuhnya Kota Konstantinopel ke Tangan Turki Usmani. Selama berabad-abad, kota ini menjadi saksi perkembangan politik, perdagangan, kebudayaan, dan penyebaran ilmu pengetahuan. (IF)

Baca juga: Faktor Penyebab Lahirnya Pergerakan Nasional dalam Sejarah Indonesia