Konten dari Pengguna

Filosofi Ongol-Ongol, Makna Mendalam di Balik Kue Tradisional yang Manis

P

Pojok Informasi

Membagikan informasi dari berbagai topik.

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Filosofi Ongol-Ongol, Foto:Unsplash/Ishaq Robin
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Filosofi Ongol-Ongol, Foto:Unsplash/Ishaq Robin

Filosofi ongol-ongol bukan sekadar membahas makna di balik sepotong kue tradisional yang memiliki rasa manis dan tekstur kenyal.

Lebih dari itu, topik ini mengajak untuk melihat bagaimana makanan khas Nusantara sering kali menyimpan cerita yang jauh lebih kaya daripada yang tampak di permukaan.

Setiap daerah di Indonesia memiliki warisan kuliner yang lahir dari perjalanan panjang budaya, kebiasaan masyarakat, hingga nilai-nilai yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Filosofi Ongol-Ongol dalam Tradisi Masyarakat

Ilustrasi Filosofi Ongol-Ongol, Foto:Unsplash/wafieq akmal

Filosofi ongol-ongol tidak dapat dilepaskan dari sejarah panjang kuliner tradisional masyarakat Betawi. Kue ini telah dikenal sejak ratusan tahun lalu dan menjadi salah satu jajanan khas yang berasal dari Batavia.

Ongol-ongol mulai dikenal sekitar periode 1870–1942, seiring masuknya tepung sagu ke Batavia pada sekitar tahun 1870-an.

Memasuki awal abad ke-20, keberadaan kue ini mulai dilestarikan sebagai bagian dari warisan kuliner Betawi.

Hingga kini, ongol-ongol masih mudah ditemukan, terutama dalam berbagai tradisi budaya, seperti pesta pernikahan adat maupun acara penting lainnya.

Menurut informasi dari kikomunal-indonesia.dgip.go.id, kata ongol-ongol berasal dari bahasa Betawi arkais yang berarti kenyal, lentur, dan lembut.

Nama tersebut menggambarkan tekstur khas kue ini. Selain itu, ongol-ongol dipercaya sebagai hasil akulturasi budaya karena mengadopsi kue-kue Tionghoa.

Terdapat pula asumsi yang menyebutkan bahwa asal-usul namanya berkaitan dengan camilan yang dahulu dikonsumsi oleh tentara dari Mongolia.

Karena masyarakat saat itu tidak mengetahui nama asli makanan tersebut, mereka kemudian menyebutnya sebagai "ongol", yang akhirnya berkembang menjadi ongol-ongol.

Proses akulturasi budaya pada kuliner ini juga dikaitkan dengan kondisi Batavia pada masa lalu.

Sebagai pusat perdagangan sekaligus ibu kota Hindia Belanda, Batavia menjadi tempat berkumpulnya berbagai komoditas dari luar daerah, termasuk tepung sagu atau hunkwe yang merupakan bahan utama pembuatan ongol-ongol.

Kehadiran bahan tersebut turut mendukung berkembangnya kue ini hingga menjadi salah satu makanan khas masyarakat Betawi.

Filosofi ongol-ongol dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya dikonsumsi sebagai camilan, tetapi juga menjadi pelengkap hidangan pada berbagai kegiatan, baik yang bersifat profan maupun sakral.

Kehadirannya telah lama menjadi bagian dari tradisi masyarakat Betawi dan masih dipertahankan hingga sekarang.

Keunikan ongol-ongol tidak hanya terletak pada namanya, melainkan juga pada bentuk, tekstur, dan cita rasanya. Kue ini dibuat dari tepung sagu yang dipadukan dengan gula aren, kemudian disajikan dengan taburan kelapa parut di bagian atas.

Hasilnya adalah perpaduan rasa manis, gurih, serta tekstur yang lembut dan kenyal. Penggunaan gula aren alami juga dianggap penting karena menghasilkan cita rasa, aroma, dan karakter yang berbeda dibandingkan gula aren campuran.

Ongol-ongol umumnya dinikmati bersama teh tawar hangat yang membantu menyeimbangkan rasa manis kue di lidah. Selain itu, hidangan ringan ini juga kerap disajikan sebagai menu sarapan maupun makanan pembuka saat berbuka puasa.

Berkat cita rasanya yang khas, ongol-ongol telah tersebar luas di seluruh wilayah kebudayaan Betawi, bahkan hingga kawasan Jakarta dan Jabodetabek.

Saat ini, kue tradisional tersebut masih mudah dijumpai sebagai salah satu jajanan pasar yang dijual di pasar tradisional maupun pasar modern. (DANI)

Baca juga: Asal Usul Nasi Kapau, Kuliner Minang yang Punya Sejarah Panjang