Konten dari Pengguna

Filosofi Tari Pendet Sebagai Tari Penyambutan di Masyarakat Bali

P

Pojok Informasi

Membagikan informasi dari berbagai topik.

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi filosofi tari pendet sebagai tari penyambutan. Foto: Miguel Baixuli/Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi filosofi tari pendet sebagai tari penyambutan. Foto: Miguel Baixuli/Unsplash

Hampir semua tari tradisional yang ada di Indonesia menyimpan makna filosofi tersendiri, termasuk juga filosofi tari pendet sebagai tari penyambutan di Bali.

Sejak dulu hingga saat ini, tari pendet masih sering ditampilkan untuk tujuan penyambutan. Tari ini tampak meriah karena ditampilkan secara massal oleh para penari yang mengenakan pakaian adat Bali.

Filosofi Tari Pendet Sebagai Tari Penyambutan untuk Menghormati Tamu

Ilustrasi filosofi tari pendet sebagai tari penyambutan. Foto: Didi Paul / Unsplash

Mengutip buku Beberapa Tari Upacara dalam Masyarakat Bali, Anak Agung Gde Putra Agung (1981:37), faktanya ada beberapa filosofi tari pendet sebagai tari penyambutan yang lebih mendalam.

Pada awal perkembangannya, tari pendet ditampilkan saat ritual sakral agama Hindu di Bali untuk menyambut turunnya dewa-dewa dari langit ke bumi.

Makna filosofisnya berkaitan dengan penyucian dan penghormatan. Seiring waktu, tarian tersebut ditampilkan saat menyambut tamu kehormatan atau wisatawan yang berkunjung ke Bali.

Menyesuaikan fungsinya, makna filosofisnya adalah sebagai wujud keramahtamahan, ketulusan hati, dan rasa syukur.

Saat menampilkan tari pendet, ada beberapa hal yang membuat tarian ini begitu menarik. Penasaran dengan pembahasannya? Simak ulasan berikut:

1. Bokor dan Bunga

Salah satu hal yang membedakan tari pendet dengan tari lainnya adalah setiap penari harus berlenggak-lenggok sambil membawa wadah berisi bunga atau biasa disebut canang sari.

Berdasarkan budaya masyarakat Bali, canang sari melambangkan hati suci dan harum sebagai persembahan.

2. Gerakan Menabur Bunga

Tidak hanya untuk tujuan estetika semata, gerakan menaburkan kelopak bunga merupakan simbol kebahagiaan dan sambutan yang hangat kepada orang yang datang ke Bali.

Kelopak bunga yang digunakan terdiri dari beberapa macam, seperti kamboja, mawar, dan cempaka.

Penaburannya dilakukan di akhir tarian sebagai ucapan selamat datang sekaligus penghormatan kepada para penonton.

3. Gerakan Mata (Seledet)

Gerakan mata pada tari pendet dilakukan dengan melirik kanan kiri atau berputar secara tajam dan cepat.

Gerakan tersebut harus diselaraskan dengan irama gamelan agar ciri khas tarian Bali lebih terlihat dan untuk memperkuat ekspresi.

Makna yang terkandung di dalamnya berkaitan dengan komunikasi ramah, keterbukaan, dan kewaspadaan penari dengan lingkungan sekitarnya.

Bagaimana, menarik bukan pembahasan seputar filosofi tari pendet sebagai tari penyambutan? Setiap tari tradisional yang ada di Indonesia pada dasarnya mengandung makna filosofis tersendiri. (NOV)

Baca juga: Asal Usul Ayam Betutu, Kuliner yang Melegenda dari Bali