Fraud Triangle: Faktor Penyebab dan Cara Pencegahannya
Membagikan informasi dari berbagai topik.
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Fraud triangle adalah konsep yang digunakan untuk memahami kondisi yang dapat mendorong seseorang melakukan kecurangan.
Dalam dunia kerja dan pengelolaan organisasi, kecurangan dapat muncul dari berbagai situasi, mulai dari tekanan untuk mencapai target hingga lemahnya pengawasan.
Oleh karena itu, memahami faktor yang mendorong fraud dapat membantu organisasi mengenali risiko lebih awal dan menyiapkan langkah pencegahan yang tepat.
Fraud Triangle adalah Konsep Memahami Kecurangan
Fraud triangle adalah apa? Dikutip dari situs www.whistleblowers.org, inilah penjelasan dan cara pencegahannya.
Fraud triangle merupakan model yang menjelaskan tiga unsur utama penyebab kecurangan, yaitu tekanan atau pressure, kesempatan atau opportunity, serta rasionalisasi atau rationalization.
Ketiga unsur tersebut menggambarkan kondisi yang dapat membuat seseorang terdorong melakukan tindakan fraud sekaligus merasa memiliki alasan untuk membenarkannya.
Model ini banyak digunakan oleh praktisi antikecurangan untuk melihat lingkungan yang memiliki risiko fraud lebih tinggi.
Tekanan dapat muncul ketika seseorang menghadapi tuntutan finansial, target pekerjaan, kebutuhan tertentu, atau kondisi lain yang dirasakan sulit.
Sementara itu, kesempatan muncul ketika terdapat celah yang memungkinkan kecurangan dilakukan tanpa mudah terdeteksi. Lemahnya pengendalian internal, pengawasan, maupun pemisahan tugas dapat memperbesar kesempatan tersebut.
Unsur ketiga adalah rasionalisasi. Pada tahap ini, seseorang berusaha mencari pembenaran agar tindakan yang dilakukan terasa dapat diterima.
Misalnya, kecurangan dianggap sebagai sesuatu yang wajar karena orang lain juga melakukannya atau dipandang sebagai jalan keluar dari masalah tertentu. Ketiga unsur tersebut dapat saling memperkuat dan meningkatkan risiko terjadinya fraud.
Pencegahan fraud dapat dimulai dengan memperkuat pengendalian internal serta memastikan setiap proses memiliki pengawasan yang memadai. Pembagian tugas juga perlu dibuat secara jelas agar kewenangan tidak terkonsentrasi pada satu pihak.
Selain itu, organisasi dapat membangun budaya integritas, membuka saluran pelaporan yang aman, dan memberikan perhatian terhadap kondisi yang berpotensi menciptakan tekanan maupun peluang terjadinya kecurangan.
Mengenali fraud sejak dari faktor pendorongnya membuat upaya pencegahan tidak hanya berfokus pada penindakan setelah kejadian.
Lingkungan kerja yang transparan, pengawasan yang konsisten, serta aturan yang dijalankan secara jelas dapat membantu mempersempit ruang terjadinya penyimpangan.
Demikianlah pemahaman mengenai fraud triangle yang dapat menjadi dasar untuk mengenali risiko dan memperkuat langkah pencegahan, sehingga fraud triangle adalah konsep penting dalam upaya memahami kecurangan. (Dista)
Baca Juga: Bagaimana Uang Pertama Kali Digunakan? Simak Sejarahnya Berikut Ini