Konten dari Pengguna

Kasus Penyakit Aneh di Minamata Jepang: Gejala yang Tampak dan Penyebabnya

P

Pojok Informasi

Membagikan informasi dari berbagai topik.

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Kasus Penyakit Aneh di Minamata Jepang. Unsplash.com/Rebecca Bliklen
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kasus Penyakit Aneh di Minamata Jepang. Unsplash.com/Rebecca Bliklen

Kasus penyakit aneh di Minamata Jepang disebabkan oleh kelalaian Korporasi Chisso. Sikap lalai terhadap lingkungan tersebut menyebabkan keracunan massal di Teluk Minamata.

Mengutip berita pada halaman brin.go.id Februari lalu, Susi Sulistia sebagai Perekayasa Ahli Muda Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih (PRTLTB) BRIN memberikan penjelasan soal kasus tersebut kepada publik.

Ia mengungkapkan bahwa kasus Minamata terjadi akibat lalainya Chisso Corporation dalam melakukan pembuangan limbah hasil produksi bahan kimianya. Limbah tersebut dituang langsung ke Teluk Minamata.

Kasus Penyakit Aneh di Minamata Jepang Akibat Kelalaian

Ilustrasi Kasus Penyakit Aneh di Minamata Jepang. Unsplash.com/engin akyurt

Kasus penyakit aneh di Minamata Jepang akibat limbah kimia yang dibuang ke Teluk Minimata menyebabkan pencemaran air dan sedimen yang amat berat. Ini berdampak pada rantai makanan makhluk hidup.

Ikan-ikan kecil yang terkontaminasi limbah kimia dimakan oleh ikan besar. Selanjutnya, ikan besar dari perairan tersebut dikonsumsi oleh manusia dan menyebabkan terjadinya penyakit Minamata.

Gejala penyakit minamata yang paling tampak yakni terjadinya gangguan sensorik, menghilangnya koordinasi motorik dan penyempitan lapang pandangan.

Ada juga gejala lain seperti gangguan fungsi keseimbangan, gangguan pendengaran sentral dan keracunan pada pendengaran sentral. Pada beberapa kasus, bayi di dalam kandungan dapat terpapar yang berakibat cacat lahir.

Menyikapi kasus tersebut, Chisso Corporation bertanggung jawab sejak tahun 1956, di saat penyakit tersebut diakui secara resmi dan diinvestigasi. Pemerintah pun mengeluarkan pernyataan resmi bahwa Chisso harus bertanggung jawab atas dampak polusi merkuri.

Di samping itu, para korban mengajukan gugatan hukum yang didukung Pemerintah Prefektur Kumamoto. Hasilnya adalah putusan Mahkamah Agung terkait sertifikasi korban.

Tercatat sebanyak 1792 orang pasien tersertifikasi hingga akhir Oktober tahun 2025. Kompensasi yang diberikan untuk para korban berupa pemberian uang tunai dan seluruh biaya pengobatan yang ditanggung oleh Chisso

Di saat bersamaan, Prefektur Kumamoto mendirikan divisi Pelayanan Kesehatan untuk penanganan penyakit Minamata yaitu Divisi Perawatan Medis, Divisi Penanganan Kesehatan dan Kesejahteraan serta Divisi Revitalisasi dan Perdamaian Regional.

Bagi warga yang terdampak diberikan subsidi renovasi rumah untuk meringankan beban. Kemudian dilaksanakan program rehabilitasi di wilayah Tsunagi Town, Goshoura Town, dan Amakusa Town.

Dalam upaya penanggulangan pencemaran lingkungan, pemerintah Prefektur Kumamoto, melakukan langkah strategis untuk mengembalikan Teluk Minamata yang lestari.

Pada 1968, produksi asetaldehid dari Chisso Corporation yang mengakibatkan kasus pencemaran lingkungan dihentikan produksinya. Mulai 1990-1997 dilakukan proyek mengeruk teluk Minamata dengan membuang sedimen dan reklamasi.

Dalam mewujudkan masyarakat bebas merkuri yang berlatar belakang kasus penyakit aneh di Minamata Jepang, Pemerintah Prefektur Kumamoto terus berinisiatif melakukan pelatihan sumber daya manusia ahli merkuri dan melakukan kegiatan diseminasi dalam dan luar negeri. (Win)

Baca juga: Tanggung Jawab Seorang Ilmuwan Memanfaatkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi