Kata Konotasi adalah Apa? Pahami Arti dan Nuansa di Balik Kata
Membagikan informasi dari berbagai topik.
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kata konotasi adalah istilah dalam bahasa yang sering kali hadir tanpa kita sadari dalam percakapan sehari-hari.
Di balik satu kata sederhana, ternyata bisa tersimpan lapisan makna yang jauh lebih dalam, lebih lembut, atau bahkan lebih tajam dibandingkan arti sebenarnya di kamus.
Menariknya, penggunaan kata ini kerap memengaruhi cara seseorang memahami pesan, membentuk suasana, hingga memberi kesan tertentu dalam komunikasi.
Kata Konotasi adalah Makna Tersirat yang Membentuk Persepsi dan Perasaan
Dikutip dari laman p2k.stekom.ac.id, kata konotasi adalah makna tambahan yang melekat pada suatu kata atau ungkapan di luar arti dasarnya.
Makna ini tidak muncul dari definisi kamus secara langsung, melainkan dari nuansa, perasaan, serta penilaian yang berkembang dalam penggunaan bahasa sehari-hari.
Dengan demikian, kata dapat memiliki arti yang sama secara harfiah, tetapi memberi kesan yang berbeda tergantung pada konteks dan pemilihan katanya.
Konotasi dapat menghadirkan kesan halus, kasar, tinggi, rendah, positif, maupun negatif, sehingga peranannya sangat penting dalam membentuk pemahaman dan respons terhadap suatu pesan.
Dalam penggunaan bahasa, kata gerombolan misalnya, memiliki konotasi yang cenderung negatif karena sering dikaitkan dengan kelompok yang tidak tertata atau bahkan berperilaku buruk.
Oleh sebab itu, kata ini tidak digunakan dalam konteks netral seperti gerombolan pejabat, kecuali jika memang ingin menimbulkan kesan tertentu yang bersifat negatif.
Sementara itu, kata bini juga memiliki konotasi rendah dan kerap diasosiasikan dengan kesan kurang sopan atau kurang terpelajar, sehingga tidak digunakan dalam situasi formal maupun untuk menyebut kalangan menengah ke atas.
Berbeda dengan contoh tersebut, ungkapan lembaga pemasyarakatan memiliki konotasi yang lebih positif karena menekankan fungsi pembinaan dan perbaikan.
Istilah ini dipilih agar tidak menimbulkan bayangan yang menakutkan, melainkan menghadirkan pemahaman yang lebih manusiawi.
Hal serupa juga terlihat pada kata wafat yang memiliki konotasi tinggi dan bermartabat. Kata ini digunakan untuk menggambarkan kematian dengan cara yang lebih sopan, terutama dalam konteks yang membutuhkan penghormatan.
Sebaliknya, kata mampus memiliki konotasi yang kasar dan bernilai rendah, sehingga penggunaannya cenderung terbatas pada situasi yang bernada negatif atau merendahkan.
Dari berbagai contoh tersebut, terlihat bahwa konotasi tidak hanya berkaitan dengan arti kata, tetapi juga dengan rasa dan makna sosial yang menyertainya.
Pemilihan kata yang tepat dapat memengaruhi cara suatu pesan diterima, karena setiap kata membawa lapisan makna yang berbeda.
Dengan memahami hal ini, penggunaan bahasa menjadi lebih hati-hati, lebih sadar, dan lebih peka terhadap dampak yang mungkin timbul dalam komunikasi. (KIKI)
Baca juga: Proses Oksidasi adalah Apa? Ini yang Belum Banyak Orang Ketahui