Konten dari Pengguna

Kenapa Batik Parang Tidak Boleh Dipakai Sembarang Orang? Ini Sejarahnya

P

Pojok Informasi

Membagikan informasi dari berbagai topik.

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Kenapa Batik Parang Tidak Boleh Dipakai Sembarang Orang,Foto:Unsplash/Mahmur Marganti
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kenapa Batik Parang Tidak Boleh Dipakai Sembarang Orang,Foto:Unsplash/Mahmur Marganti

Kenapa batik parang tidak boleh dipakai sembarang orang? Hal ini menarik untuk dibahas karena Batik Parang memiliki kedudukan yang berbeda dibandingkan banyak motif batik lainnya.

Ada sejarah panjang yang membuat motif tersebut begitu lekat dengan lingkungan Keraton. Bahkan, pada masa tertentu, penggunaannya diatur sedemikian rupa sehingga tidak semua orang dapat mengenakannya.

Kenapa Batik Parang Tidak Boleh Dipakai Sembarang Orang, Sesuai Aturan Keraton?

Ilustrasi Kenapa Batik Parang Tidak Boleh Dipakai Sembarang Orang,Foto:Unsplash/Camille Bismonte

Kenapa batik parang tidak boleh dipakai sembarang orang? Dikutip dari Jurnal Batik Parang : Penerapan Motif Batik Larangan Pada Infrastruktur Dan Arsitektur Bangunan oleh Danang Priyanto, S. Tr.Sn.,M.Sn, dkk (2024) motif Parang dikenal sebagai salah satu batik klasik yang memiliki kedudukan khusus dalam tradisi Keraton.

Pada masa lalu batik tidak hanya berfungsi sebagai pakaian, tetapi juga menjadi bagian dari aturan dan identitas kehidupan di lingkungan kerajaan. Karena itu, terdapat sejumlah motif yang penggunaannya tidak bisa dilakukan secara bebas, salah satunya Batik Parang.

Batik Keraton memiliki aturan tersendiri mengenai cara dan siapa yang boleh mengenakannya. Beberapa motif tertentu bahkan disebut sebagai motif larangan karena hanya diperuntukkan bagi keluarga raja dan kalangan tertentu di lingkungan Keraton.

Sejarah Batik Parang berkaitan dengan kisah Panembahan Senopati. Saat melakukan perjalanan menuju Laut Selatan untuk bersemedi, Panembahan Senopati melewati jurang dan menaiki tebing.

Perjalanan tersebut kemudian dimaknai sebagai gambaran kehidupan lahir dan batin, dari peristiwa inilah Panembahan Senopati disebut menciptakan motif Batik Parang.

Motif Parang juga memiliki filosofi yang berkaitan dengan kehidupan seorang raja. Parang sendiri merupakan nama sebuah senjata yang menggambarkan bahwa manusia dapat menguasai dua alam.

Motif ini memiliki tiga unsur, yakni Mlinjon, Mata Gareng atau Ciker, dan Sujen, yang masing-masing mempunyai makna filosofis.

Dalam perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755 terdapat aturan mengenai busana yang mencantumkan Batik Parang sebagai salah satu kain yang dilarang dikenakan oleh rakyat. Penggunaannya diperbolehkan bagi patih dan para kerabat raja.

Itulah jawaban kenapa batik parang tidak boleh dipakai sembarang orang yang selama ini mungkin masih menjadi pertanyaan bagi sebagian orang.

Cerita di atas yang menyertai pembuatan batik parang menjadi salah satu motif yang menarik untuk terus dikenali dan diperbincangkan. (shr)

Baca juga: Kenapa Nama Orang Bali Bisa Berbeda Berdasarkan Urutan Kelahiran? Ini Alasannya