Kenapa Papeda Lengket? Ini Fakta Menarik tentang Makanan Khas Papua
Membagikan informasi dari berbagai topik.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Papeda merupakan salah satu makanan tradisional yang identik dengan Papua, Maluku, dan beberapa daerah di Sulawesi. Kenapa papeda lengket sering membuat banyak orang penasaran, terutama saat pertama kali melihat atau mencicipi hidangan khas berbahan dasar sagu ini.
Teksturnya yang kental, kenyal, dan menyerupai lem menjadi ciri khas yang membedakannya dari makanan pokok lainnya. Di balik tampilannya yang unik, papeda juga dikenal sebagai makanan yang kaya serat, rendah kolesterol, dan memiliki kandungan gizi yang baik.
Kenapa Papeda Lengket dan Kenyal Saat Dimakan?
Mengutip website djkn.kemenkeu.go.id, kenapa papeda lengket berkaitan dengan bahan dasar yang digunakan, yaitu tepung sagu.
Saat tepung sagu dicampur dengan air panas, pati di dalamnya mengalami proses yang membuat adonan berubah menjadi kental, kenyal, dan lengket. Inilah yang menghasilkan tekstur khas papeda yang menyerupai lem berwarna putih.
Papeda dibuat dari tepung sagu yang berasal dari pohon sagu. Bentuknya menyerupai bubur, tetapi memiliki kekentalan yang lebih tinggi sehingga menghasilkan tekstur yang lengket.
Makanan ini telah lama menjadi pengganti nasi bagi sebagian masyarakat Papua dan masih menjadi bagian penting dari tradisi kuliner setempat. Keunikan tekstur tersebut justru menjadi daya tarik papeda.
Berbeda dengan makanan pokok lain yang cenderung padat, papeda memiliki konsistensi yang elastis sehingga biasanya disantap dengan cara digulung menggunakan sumpit atau alat khusus sebelum dipadukan dengan lauk.
Papeda umumnya disajikan bersama ikan tuna atau ikan mubara yang dimasak menggunakan bumbu kunyit. Perpaduan kuah ikan yang gurih dengan papeda yang memiliki rasa tawar menciptakan cita rasa yang seimbang dan menjadi hidangan favorit di berbagai daerah di kawasan timur Indonesia.
Pohon sagu telah lama menjadi sumber pangan penting di Papua. Berbagai olahan berbahan dasar sagu pun berkembang dan menjadi bagian dari kekayaan kuliner daerah.
Di berbagai wilayah Papua, sagu menjadi bahan dasar dalam beragam makanan tradisional. Selain papeda, terdapat pula sagu bakar, sagu lempeng, dan sagu bola yang dikenal luas serta masih dijumpai di berbagai pelosok Papua sebagai bagian dari tradisi kuliner masyarakat setempat.
Papeda juga memiliki nilai gizi yang cukup baik. Makanan ini dikenal kaya serat, rendah kolesterol, dan dapat menjadi pilihan sumber karbohidrat bagi masyarakat yang mengkonsumsi sagu sebagai makanan pokok. Oleh karena itu, papeda tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga memberikan manfaat sebagai bagian dari pola makan sehari-hari.
Kenapa papeda lengket dapat dipahami dari proses pengolahan tepung sagu yang menghasilkan tekstur kental dan kenyal. Justru tekstur inilah yang menjadi identitas utama papeda sebagai makanan khas Papua.
Dipadukan dengan ikan berbumbu kunyit dan berbagai olahan sagu lainnya, papeda terus menjadi salah satu warisan kuliner Nusantara yang masih lestari hingga sekarang. (Kiki)
Baca juga: Keunikan Bubur Sagu yang Membuatnya Tetap Populer hingga Kini