Konten dari Pengguna

Kenapa Rumah Adat Minangkabau Melengkung? Ini Sejarahnya

P

Pojok Informasi

Membagikan informasi dari berbagai topik.

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi. kenapa rumah adat mingakabau melengkung. Foto: Unsplash/todd kent
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi. kenapa rumah adat mingakabau melengkung. Foto: Unsplash/todd kent

Tidak sedikit yang merasa penasaran dan mulai bertanya, kenapa rumah adat Minangkabau melengkung.

Pertanyaan tersebut muncul karena bentuknya terlihat berbeda dibandingkan rumah adat dari daerah lain yang umumnya memiliki atap datar, limasan, atau pelana.

Keunikan itu tentu bukan sekadar untuk mempercantik tampilan bangunan, melainkan memiliki latar belakang yang membuatnya tetap dipertahankan hingga sekarang.

Kenapa Rumah Adat Minangkabau Melengkung Sehingga Tampak Cantik?

Ilustrasi. kenapa rumah adat mingakabau melengkung. Foto: Unsplash/Aubrey Odom

Kenapa rumah adat Minangkabau melengkung menjadi pertanyaan yang sering muncul ketika melihat bentuk rumah gadang yang tampak berbeda dari rumah adat lainnya.

Salah satu penyebab tampilan tersebut berasal dari konstruksi tonggak atau tiang penyangga yang tidak dibuat tegak lurus, melainkan sedikit condong ke arah luar.

Rancangan ini bukan sekadar memberikan bentuk yang khas, tetapi merupakan bagian dari teknik pembangunan rumah gadang yang telah diterapkan sejak lama.

Melalui konstruksi tersebut, rumah gadang memiliki karakter arsitektur yang mudah dikenali sekaligus menyimpan fungsi tertentu yang berkaitan dengan kekuatan bangunan, perlindungan terhadap cuaca, dan tampilan visualnya.

Tonggak atau tiang pada rumah gadang sengaja dirancang miring ke arah luar karena memiliki beberapa fungsi penting.

Salah satunya adalah memberikan fleksibilitas pada bangunan ketika terjadi gempa. Selain itu, kemiringan tersebut juga membantu mengalirkan air hujan agar tidak langsung mengenai dinding rumah.

Di sisi lain, bentuk tiang yang tidak tegak lurus turut menciptakan tampilan bangunan yang lebih dinamis sehingga menjadi salah satu ciri khas rumah adat Minangkabau.

Salah satu alasan utama penggunaan tonggak yang condong ke luar berkaitan dengan kondisi wilayah Minangkabau yang dikenal sebagai daerah rawan gempa.

Dikutip dari laman rri.co.id, bangunan memiliki kemampuan untuk bergerak atau sedikit berayun ketika menerima guncangan.

Fleksibilitas tersebut membantu meredam getaran sehingga mengurangi risiko kerusakan, seperti patahnya struktur atau robohnya bangunan. Karena itulah, rumah gadang dikenal memiliki ketahanan yang baik terhadap gempa.

Kemiringan tonggak juga berperan dalam mengatur aliran air hujan. Posisi tiang yang condong membantu mengarahkan air agar menjauh dari dinding rumah.

Dengan demikian, bagian dinding lebih terlindungi dari paparan air secara terus-menerus sehingga keawetan bangunan dapat lebih terjaga dan risiko kerusakan akibat air dapat dikurangi.

Selain memberikan manfaat dari sisi konstruksi, kemiringan tonggak juga menghadirkan nilai estetika yang menjadi identitas rumah gadang.

Bentuk bangunan terlihat lebih dinamis dan memiliki karakter yang khas sehingga mudah dikenali sebagai bagian dari arsitektur tradisional Minangkabau.

Di samping keunikan pada tonggaknya, rumah gadang juga memiliki ciri konstruksi lain yang tidak kalah menarik. Bangunan ini menggunakan sistem pasak dan lubang sebagai pengganti paku dalam menyatukan bagian-bagian bangunan.

Selain itu, rumah gadang memiliki atap bergonjong yang berbentuk menyerupai tanduk kerbau. Bentuk atap tersebut juga memiliki makna filosofis dan sejarah kenapa rumah adat Minangkabau melengkung. (KIKI)

Baca juga: Mengapa Setiap Daerah Punya Rumah Adat Berbeda? Ini Faktor Penyebabnya