Keunikan Rujak Juhi yang Membuatnya Berbeda dari Rujak Lain
Membagikan informasi dari berbagai topik.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Keunikan rujak juhi selalu berhasil memancing rasa penasaran, terutama bagi pencinta kuliner Nusantara yang gemar menjelajahi cita rasa khas dari berbagai daerah.
Di tengah banyaknya jenis rujak yang dikenal masyarakat, ada satu hidangan yang namanya mungkin belum begitu akrab di telinga sebagian orang, tetapi memiliki daya tarik yang sulit diabaikan.
Setiap daerah di Indonesia memang menyimpan kekayaan kuliner dengan karakter, cerita, dan identitas yang berbeda-beda, sehingga mengenalnya menjadi pengalaman yang tidak hanya memuaskan selera, tetapi juga memperluas wawasan budaya.
Keunikan Rujak Juhi, Kuliner Betawi yang Legendaris
Keunikan rujak juhi tidak hanya terletak pada perpaduan rasa manis, pedas, gurih, dan segar yang menggugah selera, tetapi juga pada sejarah panjang yang menyertainya.
Hidangan ini menjadi salah satu kuliner khas yang lahir dari proses akulturasi budaya sehingga memiliki ciri yang berbeda dibandingkan jenis rujak lainnya.
Di balik tampilannya yang sederhana, rujak juhi menyimpan perjalanan kuliner yang berkembang melalui pertemuan berbagai tradisi.
Keberadaannya hingga sekarang menunjukkan bahwa perpaduan budaya mampu melahirkan hidangan yang tetap bertahan dan dikenal oleh banyak penikmat kuliner.
Asal-usul rujak juhi memang belum dapat dipastikan secara tepat, baik mengenai waktu kemunculannya maupun siapa penciptanya.
Namun, perjalanan hidangan ini dapat ditelusuri melalui bahan-bahan yang digunakan serta pengaruh budaya yang membentuknya.
Rujak telah lama menjadi bagian dari tradisi kuliner di berbagai daerah di Nusantara.
Sajian ini umumnya terdiri atas campuran buah atau sayuran yang dipadukan dengan saus bercita rasa kaya, sementara setiap daerah mengembangkan variasinya sesuai hasil bumi dan selera masyarakat setempat.
Dikutip dari laman rri.co.id, ciri khas yang membedakan rujak juhi dari jenis rujak lainnya adalah penggunaan juhi sebagai bahan utama.
Juhi merupakan sotong kering yang diiris tipis dan dibawa ke Nusantara oleh para pedagang serta perantau Tionghoa.
Kehadiran bahan tersebut menjadi bukti adanya pengaruh kuliner Tionghoa yang kemudian menyatu dengan tradisi kuliner lokal. Perpaduan itu menghasilkan hidangan dengan cita rasa dan tekstur yang khas.
Rujak juhi dipercaya berasal dari Betawi, Jakarta. Sebagai pusat perdagangan sekaligus tempat bertemunya berbagai budaya, Jakarta menjadi wilayah yang melahirkan beragam hidangan hasil perpaduan tradisi kuliner.
Masyarakat Betawi kemudian mengadopsi juhi ke dalam konsep rujak yang telah lebih dahulu dikenal. Selanjutnya, hidangan ini terus berkembang berkat kemampuan masyarakat dalam meracik bumbu serta memanfaatkan bahan-bahan lokal.
Seiring berjalannya waktu, rujak juhi mengalami perkembangan dalam penyajiannya. Timun, bengkuang, nanas, kedondong, tahu goreng, dan emping melinjo menjadi pelengkap yang umum digunakan.
Sementara itu, sausnya dibuat dari perpaduan gula merah, cabai, terasi, kacang tanah goreng yang dihaluskan, serta cuka atau air asam jawa sehingga menghasilkan cita rasa yang kaya.
Penambahan juhi memberikan tekstur kenyal dan rasa gurih yang menjadi pembeda utama dibandingkan jenis rujak lainnya. Hingga kini, rujak juhi tetap menjadi jajanan yang populer di Jakarta dan sekitarnya.
Hidangan ini masih mudah ditemukan di warung kaki lima, pasar tradisional, hingga restoran modern yang turut melestarikan kuliner Betawi. Keunikan rujak juhi menjadikannya tetap memiliki daya tarik tersendiri bagi para penikmat kuliner. (KIKI)
Baca juga: Sejarah Rujak Juhi Betawi, Kuliner Legendaris yang Masih Bertahan