Konten dari Pengguna

Kisah Arya Penangsang Adipati Jipang yang Ambisius

P

Pojok Informasi

Membagikan informasi dari berbagai topik.

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Kisah Arya Penangsang . Foto: Unsplash/Muhammad Adin Samudro
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kisah Arya Penangsang . Foto: Unsplash/Muhammad Adin Samudro

Kisah Arya Penangsang menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah berakhirnya Kesultanan Demak. Sosok Adipati Jipang ini dikenal luas dalam berbagai kisah sejarah Jawa sebagai bangsawan yang memiliki keberanian dan tekad kuat untuk mempertahankan hak keluarganya atas tahta kerajaan.

Di balik gambaran tersebut, perjalanan hidup Arya Penangsang juga memperlihatkan bagaimana perebutan kekuasaan pada masa itu berlangsung penuh ketegangan dan membawa perubahan besar bagi perkembangan kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa.

Kisah Arya Penangsang, Berakhirnya Kesultanan Demak

Ilustrasi Kisah Arya Penangsang . Foto: Unsplash/Firall Ar Dunda

Kisah Arya Penangsang bermula setelah wafatnya Sultan Trenggana pada tahun 1546. Mengutip dari laman rri.co.id, peristiwa tersebut memicu krisis politik di Kesultanan Demak karena muncul perselisihan mengenai siapa yang paling berhak menjadi penerus tahta.

Arya Penangsang yang merupakan putra Pangeran Sekar atau Raden Kikin merasa memiliki hak atas kepemimpinan Demak. Namun, kekuasaan justru berada di tangan Sunan Prawata.

Perbedaan pandangan itu kemudian berkembang menjadi konflik yang akhirnya mengubah perjalanan sejarah Kesultanan Demak dan menjadi awal munculnya kekuatan baru di Pajang.

Arya Penangsang merupakan putra Pangeran Sekar atau Raden Kikin yang masih termasuk dalam garis keturunan Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak.

Setelah ayahnya wafat, ia memimpin Kadipaten Jipang yang berada di wilayah sekitar Cepu. Sebagai bagian dari keluarga kerajaan, Arya Penangsang meyakini bahwa garis keturunannya memiliki hak untuk memimpin Demak.

Dalam berbagai sumber sejarah tradisional, Arya Penangsang dikenal sebagai sosok yang memiliki kemampuan bertarung yang tinggi. Ia juga disebut sebagai murid Sunan Kudus dan memiliki pusaka berupa keris Setan Kober serta kuda Gagak Rimang. Kedua pusaka tersebut sering disebut dalam kisah-kisah yang menceritakan perjalanan hidupnya.

Setelah Sultan Trenggana meninggal dunia, keadaan Kesultanan Demak tidak lagi stabil. Pengangkatan Sunan Prawata sebagai penguasa baru tidak diterima oleh Arya Penangsang karena dianggap mengabaikan hak keluarganya.

Perselisihan yang semula berawal dari perbedaan pandangan mengenai pewaris kerajaan kemudian berkembang menjadi konflik yang lebih besar. Dalam berbagai catatan sejarah dan babad Jawa, Sunan Prawata akhirnya terbunuh sehingga persaingan politik di lingkungan kerajaan semakin memanas.

Tidak lama kemudian, Sultan Hadlirin yang merupakan suami Ratu Kalinyamat juga menjadi korban dalam konflik tersebut. Peristiwa itu membuat hubungan antara Arya Penangsang dan keluarga kerajaan semakin memburuk.

Keadaan yang semakin tidak menentu mendorong Ratu Kalinyamat meminta bantuan Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya yang memimpin Pajang. Dukungan tersebut menjadi awal munculnya perlawanan terhadap Arya Penangsang.

Sultan Hadiwijaya kemudian mengadakan sayembara untuk menghadapi Adipati Jipang. Dalam peristiwa tersebut, Ki Ageng Pemanahan, Ki Panjawi, dan Danang Sutawijaya turut mengambil bagian dalam usaha menghentikan kekuasaan Arya Penangsang.

Pertempuran antara pasukan Jipang dan Pajang menjadi akhir dari perjalanan Arya Penangsang. Dalam berbagai kisah sejarah Jawa, ia digambarkan tetap bertempur dengan gagah berani menggunakan keris Setan Kober sambil menunggangi Gagak Rimang. Meski demikian, Arya Penangsang akhirnya gugur di medan pertempuran.

Kematian Arya Penangsang membawa perubahan besar dalam sejarah Jawa. Sultan Hadiwijaya berhasil memperkuat kedudukan Pajang sebagai pusat pemerintahan yang baru, sementara berakhirnya kekuasaan Demak membuka jalan bagi lahirnya Kesultanan Mataram pada masa berikutnya.

Kisah Arya Penangsang pun tetap dikenang sebagai bagian penting dari sejarah pergantian kekuasaan di Jawa serta menggambarkan rumitnya dinamika politik pada masa kerajaan.(Arif)

Baca juga: Kisah Pensiunan Dosen, Jauh Panggang dari Api