Kisah Burung Cendrawasih Menurut Rakyat Papua
Membagikan informasi dari berbagai topik.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Burung cendrawasih dikenal sebagai satwa khas Papua yang memiliki bulu indah. Di baliknya, terdapat kisah burung Cendrawasih menurut rakyat yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Kisah ini berasal dari cerita rakyat Papua Barat yang telah dikenal luas oleh masyarakat. Di bawah ini akan dijelaskan bagian penting dalam kisah tersebut.
Kisah Burung Cendrawasih Menurut Rakyat yang Sudah Lama Menjadi Legenda
Kisah burung Cendrawasih menurut rakyat berawal dari Kweiya yang tinggal bersama ibu kandung, ayah tiri, serta saudara-saudaranya.
Ia dikenal sebagai anak yang rajin, baik hati, dan gemar membantu keluarganya. Kehidupan mereka berjalan damai hingga suatu hari terjadi perselisihan yang mengubah jalan hidup Kweiya.
Mengutip buku Koleksi Terbaik Cerita Rakyat Nusantara 34 Provinsi, Gamal Komandoko, (2017:423), pesan moral cerita tersebut yakni sesama saudara hendaknya hidup rukun.
Selain itu juga hendaknya menghindari perselisihan atau pertengkaran.
Ceritanya bermula ketika suatu hari Kweiya mengajari adik-adiknya membuat noken dari serat kayu. Namun, mereka tidak mengikuti petunjuk yang diberikan sehingga terjadi pertengkaran.
Merasa sedih dan kecewa, Kweiya memilih mengasingkan diri ke dalam rumah sambil membuat sepasang sayap dari benang pintal.
Saat keluarganya memanggil, yang terdengar bukan lagi suara Kweiya, melainkan kicauan burung. Kweiya kemudian keluar dengan tubuh yang telah berubah menjadi burung cendrawasih berbulu indah.
Ia terbang menuju pepohonan dan meninggalkan keluarganya yang masih terkejut melihat keajaiban tersebut. Melihat putranya berubah menjadi burung, sang ibu merasa sangat sedih.
Ia kemudian mengikuti petunjuk Kweiya untuk membuat sayap dari benang pintal. Setelah mengenakannya, sang ibu ikut berubah menjadi burung dan terbang menyusul putranya ke hutan Papua.
Dua anak lelaki saudara Kweiya juga merasa sedih ketika melihat ibu mereka serta Kweiya sudah menjelma menjadi burung. Keduanya berlari memasuki hutan, keduanya lalu terlibat pertengkaran hebat.
Masing-masing di antara mereka saling menyalahkan satu sama lainnya. Ketika keduanya melihat abu tungku perapian, mereka saling lempar dengan abu tungku perapian itu.
Selang beberapa lama keanehan terjadi ketika tubuh keduanya terkena abu tungku perapian. Tubuh mereka tiba-tiba berubah menjadi burung berwarna merah, hitam, dan abu-abu
Dua burung itu kemudian terbang, keduanya terlihat menyusul dan bergabung dengan ibu mereka serta Kweiya.
Demikianlah kisah burung Cendrawasih menurut rakyat Papua yang masih dikenal hingga sekarang.
Cerita tersebut mengajarkan pentingnya kasih sayang keluarga, saling menghargai, serta menjaga hubungan baik dengan sesama agar tidak terjadi penyesalan di kemudian hari.
Selain menjelaskan asal-usul burung cendrawasih dalam cerita rakyat, kisah tersebut juga menyampaikan nilai-nilai kehidupan yang dapat dijadikan pelajaran moral. (NOV)
Baca juga: Legenda Nunusaku yang Berkembang di Masyarakat Maluku