Konten dari Pengguna

Lagu Bernuansa Belanda yang Sering Dimainkan pada Pertunjukan Tanjidor

P

Pojok Informasi

Membagikan informasi dari berbagai topik.

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Lagu Bernuansa Belanda yang Sering Dimainkan pada Pertunjukan Tanjidor, Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/kumparanNEWS
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Lagu Bernuansa Belanda yang Sering Dimainkan pada Pertunjukan Tanjidor, Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/kumparanNEWS

Lagu bernuansa Belanda yang sering dimainkan pada pertunjukan tanjidor adalah apa? Kalau pernah melihat rombongan tanjidor tampil di acara hajatan atau perayaan, suara alat musik tiupnya mungkin terasa berbeda dari musik tradisional Betawi yang biasa didengar.

Perbedaan itu tidak lepas dari perjalanan tanjidor sejak masa kolonial. Seiring waktu, tanjidor berkembang menjadi bagian dari kesenian masyarakat Betawi.

Lagu yang dibawakan pun tidak terbatas pada musik yang berasal dari pengaruh Eropa, tetapi juga mencakup lagu-lagu yang akrab di telinga masyarakat setempat.

Lagu Bernuansa Belanda yang Sering Dimainkan pada Pertunjukan Tanjidor Khas Betawi

Ilustrasi Pertunjukan Tanjidor, Foto: Jessica Wuysang/ANTARA FOTO/kumparanTRAVEL

Lagu bernuansa Belanda yang sering dimainkan pada pertunjukan tanjidor adalah Batalion, Kramton, Bananas, Delsi, Was Tak-tak, Welmes, dan Cakranegara.

Lagu-lagu tersebut menjadi bagian dari repertoar musik tanjidor yang memperlihatkan kuatnya pengaruh Eropa dalam kesenian tradisional Betawi ini.

Mengutip situs https://rri.co.id, tanjidor sendiri merupakan orkes tradisional Betawi yang dimainkan secara berkelompok. Ciri khasnya terletak pada dominasi alat musik tiup logam yang menghasilkan suara lantang dan meriah.

Kehadiran unsur Eropa dalam tanjidor tidak lepas dari sejarah Batavia pada masa kolonial. Kala itu, sejumlah tuan tanah dan pejabat memiliki kelompok musik pribadi untuk memeriahkan pesta maupun jamuan resmi.

Para pemainnya, termasuk budak yang dilatih bermusik, memainkan beragam instrumen dan menghibur para tamu. Salah satu tokoh yang kerap dikaitkan dengan sejarah awal tanjidor adalah Augustijn Michiels, yang dikenal sebagai Mayor Jantje dari Citeureup.

Menurut pembahasan sejarah yang ditulis Mona Lohanda dalam pengantar buku Mayor Jantje karya Johan Fabricius, tokoh ini memiliki berbagai kelompok musik, mulai dari ensambel Eropa hingga gamelan.

Bahkan, sekitar 30 budak yang memiliki kemampuan bermusik tergabung dalam Korps Musik Papang di kediamannya. Setelah Mayor Jantje meninggal pada 1833, kelompok musik beserta instrumennya dilelang oleh keluarganya.

Seiring perubahan zaman dan penghapusan perbudakan, para mantan pemain musik kemudian membentuk kelompok sendiri. Musik yang sebelumnya dimainkan di lingkungan elite perlahan berkembang menjadi hiburan yang dapat dinikmati masyarakat luas.

Bagaimana Tanjidor Berkembang Menjadi Kesenian Betawi?

Pada masa awal perkembangannya, kelompok tanjidor banyak memainkan musik Eropa, seperti polka, mars, dan lagu-lagu dansa. Namun, kesenian ini tidak berhenti sebagai tiruan musik dari luar.

Masyarakat Betawi turut mengembangkan repertoarnya dengan memasukkan lagu-lagu lokal, Melayu, dan berbagai lagu daerah. Perjalanan tanjidor juga menyimpan cerita menarik tentang asal-usul namanya.

Istilah tanjidor kerap dikaitkan dengan kata tanji, yang merujuk pada kegiatan menabuh atau memainkan alat musik. Sebutan ini juga dihubungkan dengan bunyi tambur yang terdengar khas saat dimainkan.

Meski begitu, asal-usul tanjidor belum sepenuhnya dapat dipastikan. Paramita Rahayu Abdurachman dalam buku Bunga Angin Portugis di Nusantara mengemukakan kemungkinan adanya pengaruh kebudayaan Islam dan Portugis.

Istilah tanjidor pun kerap dikaitkan dengan kosakata Portugis, seperti tanger, tangedor, dan tangedores, yang berhubungan dengan aktivitas bermusik. Namun, pengaruh tersebut tidak berarti musik tanjidor sepenuhnya berasal dari tradisi Portugis atau Belanda.

Kini, tanjidor telah menjadi bagian dari identitas budaya Betawi. Pertunjukannya masih dapat dijumpai dalam berbagai perayaan, terutama arak-arakan pengantin dan penyambutan tamu kehormatan.

Perpaduan alat musik tiup, tabuhan tambur, serta lagu-lagu yang diwariskan lintas generasi membuat tanjidor memiliki karakter yang mudah dikenali.

Kalau mendengar nama Batalion, Kramton, Bananas, Delsi, Was Tak-tak, Welmes, atau Cakranegara, ingatlah bahwa lagu-lagu tersebut bukan sekadar pengiring pertunjukan.

Ada jejak sejarah panjang di balik alunan tanjidor, dari pengaruh musik Eropa hingga tumbuh menjadi kesenian khas Betawi. Warisan budaya ini membuktikan bahwa musik bisa melintasi zaman, berbaur dengan tradisi lokal, dan tetap hidup di tengah masyarakat. (Fikah)

Baca juga: Lagu Daerah Sumatera Barat tentang Kerinduan Seorang Perantau akan Kampungnya