Konten dari Pengguna

Legenda Batu Menangis: Pesan Moral dan Nilai Kehidupannya

P

Pojok Informasi

Membagikan informasi dari berbagai topik.

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Legenda Batu Menangis . Foto: Unsplash/Joel Muniz
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Legenda Batu Menangis . Foto: Unsplash/Joel Muniz

Legenda Batu Menangis menjadi salah satu cerita rakyat yang cukup dikenal di Indonesia, terutama di Kalimantan Barat. Kisah ini menceritakan seorang gadis yang memiliki paras cantik, tetapi tidak mampu menghargai perjuangan ibunya sendiri.

Karena merasa malu dengan keadaan sang ibu, ia memilih menyangkal hubungan darah di hadapan orang lain. Perbuatan tersebut kemudian membawa akibat yang mengubah hidupnya.

Hingga sekarang, cerita ini masih sering diceritakan karena mengandung pesan tentang pentingnya menghormati orang tua, menjaga sikap rendah hati, serta menyadari bahwa setiap perbuatan akan membawa konsekuensinya.

Legenda Batu Menangis, Cerita Rakyat

Legenda Batu Menangis, foto: Melanie Deziel

Legenda Batu Menangis mengisahkan kehidupan seorang janda tua yang tinggal bersama putri semata wayangnya, Darmi, di suatu desa yang terpencil pada zaman dahulu.

Mereka tinggal di gubuk sederhana yang berada di ujung desa. Meskipun hidup dalam keterbatasan, sang ibu tetap bekerja keras setiap hari demi memenuhi kebutuhan hidup mereka. Berbagai pekerjaan dilakukan selama halal agar kebutuhan dirinya dan putrinya tetap tercukupi.

Darmi dikenal sebagai gadis yang memiliki paras sangat cantik. Namun, kecantikan tersebut tidak diiringi dengan sikap yang baik. Setiap hari ia lebih senang menghabiskan waktu untuk berdandan daripada membantu pekerjaan rumah.

Kamarnya sering dibiarkan berantakan karena seluruh perhatian hanya tertuju pada penampilannya sendiri. Sementara itu, sang ibu yang usianya telah lanjut terus bekerja tanpa mengenal lelah demi menghidupi putri semata wayangnya.

Seiring berjalannya waktu, Darmi semakin sering memperlakukan ibunya dengan tidak hormat. Ia bahkan menganggap sang ibu seperti pembantu.

Ketika ada orang yang bertanya mengenai perempuan tua yang berjalan di belakangnya, Darmi dengan tega mengatakan bahwa perempuan tersebut hanyalah budaknya. Ucapan itu berulang kali dilontarkan hingga membuat hati sang ibu dipenuhi rasa sedih.

Karena tidak sanggup lagi menahan luka hati, sang ibu memanjatkan doa kepada Tuhan. Tidak lama kemudian, tubuh Darmi perlahan berubah menjadi batu. Dalam keadaan tersebut, Darmi menangis dan memohon ampun atas semua kesalahan yang telah diperbuat.

Namun, penyesalan itu datang ketika semuanya sudah terlambat. Tubuhnya telah berubah menjadi batu yang terus mengeluarkan air mata, sehingga kisah tersebut kemudian dikenal sebagai Legenda Batu Menangis.

Di balik jalan ceritanya, legenda Batu Menangis yang berasal dari Kalimantan Barat, menyampaikan pesan moral agar setiap anak selalu menghormati dan berbakti kepada orang tua. Selain itu, cerita tersebut juga mengingatkan bahwa setiap sikap dan ucapan memiliki akibat, sehingga keluarga sudah sepatutnya dihargai dengan penuh kasih sayang dan rasa hormat.(Yolan)

Baca juga: Legenda Cindelaras, Dongeng Nusantara yang Tetap Melegenda