Legenda Calon Arang dan Kutukan Penyakit di Desa Girah
Membagikan informasi dari berbagai topik.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Legenda Calon Arang dan kutukan penyakit di Desa Girah merupakan salah satu cerita rakyat paling terkenal dari Bali dan juga Jawa, yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Kisah ini tidak hanya menceritakan sosok perempuan sakti yang menguasai ilmu hitam, tetapi juga menggambarkan bagaimana dendam yang dipelihara dapat membawa penderitaan bagi banyak orang.
Di balik kisah yang penuh unsur mistis tersebut, legenda ini juga menyimpan pesan moral tentang pentingnya memaafkan, mengendalikan amarah, dan kembali ke jalan kebaikan.
Legenda Calon Arang, Cerita Rakyat yang Terkenal di Bali dan Jawa
Mengutip dari laman YouTube, Legenda Calon Arang dikisahkan sebagai seorang janda yang tinggal di Desa Girah bersama putrinya, Ratna Manggali.
Ratna Manggali memiliki paras yang sangat cantik sehingga banyak pemuda mengaguminya. Namun, tidak seorang pun berani melamarnya karena merasa takut terhadap Calon Arang yang terkenal memiliki kesaktian luar biasa.
Keadaan tersebut membuat Calon Arang merasa tersinggung dan menganggap masyarakat sengaja menjauhi keluarganya. Perasaan kecewa yang terus dipendam perlahan berubah menjadi kebencian.
Akibatnya, Calon Arang melakukan berbagai ritual pemujaan kepada Dewi Durga demi memperoleh kekuatan yang lebih besar. Dalam beberapa versi cerita, ritual itu dilakukan pada malam hari di area pemakaman bersama para pengikutnya.
Setelah memperoleh kekuatan tersebut, Calon Arang mulai menyebarkan kutukan ke wilayah sekitar Desa Girah. Tidak lama kemudian, wabah penyakit misterius menyerang penduduk.
Banyak warga jatuh sakit, bahkan sebagian meninggal dunia. Di sisi lain, tanaman pertanian rusak, ternak mati, dan kehidupan masyarakat dipenuhi rasa takut. Suasana desa menjadi semakin mencekam karena belum ada tabib maupun pendeta yang mampu menghentikan bencana tersebut.
Kabar mengenai penderitaan masyarakat akhirnya sampai kepada Raja Airlangga. Melihat kondisi yang semakin memburuk, sang raja meminta bantuan Empu Bharadah, seorang pendeta yang dikenal bijaksana dan memiliki kemampuan spiritual yang tinggi.
Empu Bharadah menyadari bahwa Calon Arang tidak dapat dikalahkan hanya dengan kekuatan, sehingga ia menyusun siasat untuk mengetahui sumber kesaktian perempuan tersebut.
Empu Bharadah kemudian mengutus muridnya, Empu Bahula, untuk mendekati Ratna Manggali. Setelah berhasil menikahi Ratna Manggali, Empu Bahula menemukan kitab yang menjadi sumber kekuatan ilmu hitam Calon Arang. Kitab itu kemudian diserahkan kepada Empu Bharadah sehingga kesaktian Calon Arang mulai berkurang.
Mengetahui kitabnya telah berpindah tangan, Calon Arang marah dan menantang Empu Bharadah. Pertarungan pun terjadi ketika Calon Arang mengerahkan berbagai ilmu hitam, sedangkan Empu Bharadah menghadapinya dengan kekuatan spiritual dan doa.
Setelah pertarungan berakhir, Calon Arang berhasil dikalahkan. Seiring dengan itu, wabah penyakit yang melanda Desa Girah perlahan menghilang, masyarakat kembali pulih, hasil pertanian tumbuh seperti semula, dan kehidupan desa kembali tenteram.
Hingga sekarang, Legenda Calon Arang dan Kutukan Penyakit di Desa Girah tetap dilestarikan melalui pertunjukan tari Calonarang, pementasan teater, buku, maupun film.
Bagi masyarakat Bali, kisah ini bukan hanya menjadi cerita tentang ilmu hitam, tetapi juga warisan budaya yang mengingatkan pentingnya mengendalikan amarah, menggunakan kemampuan untuk kebaikan, serta menjaga keseimbangan antara kekuatan, kebijaksanaan, dan nilai-nilai kemanusiaan.(Yolan)
Baca juga: Kisah Ande-Ande Lumut, Legenda Cinta yang Penuh Makna