Konten dari Pengguna

Legenda Danau Limboto, Asal Mula Danau Terkenal di Gorontalo

P

Pojok Informasi

Membagikan informasi dari berbagai topik.

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Legenda Danau Limboto . Foto: Unsplash/Claudia Chiavazza
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Legenda Danau Limboto . Foto: Unsplash/Claudia Chiavazza

Danau Limboto tidak hanya dikenal sebagai salah satu danau di Provinsi Gorontalo. Legenda Danau Limboto mengisahkan pertemuan seorang pemuda dari kayangan dengan seorang bidadari yang kemudian menjadi awal terbentuknya danau tersebut.

Cerita ini tidak hanya menjelaskan asal usul Danau Limboto, tetapi juga menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Gorontalo yang masih dikenang hingga sekarang.

Legenda Danau Limboto, Warisan Budaya Gorontalo

Ilustrasi Legenda Danau Limboto . Foto: Unsplash/Roman Vasylovskyi

Mengutip dari kanal YouTube Dongeng Kita dalam video Asal Usul Danau Limboto, pada masa lampau wilayah Limboto dikisahkan masih berupa lautan yang sangat luas.

Setelah air laut perlahan surut, muncullah daratan yang dipenuhi hutan lebat. Dari kawasan itu kemudian memancar sejumlah mata air yang jernih, salah satunya Mata Air Tupalo.

Tempat tersebut menjadi lokasi tujuh bidadari dari kayangan untuk mandi. Suatu hari, seorang pemuda dari kayangan bernama Jilomoto melihat mereka dan jatuh hati kepada salah seorang bidadari bernama Bui Bungale.

Demi dapat hidup bersama perempuan yang dicintainya, Jilomoto menyembunyikan sayap milik Bui Bungale sehingga ia tidak dapat kembali ke kayangan.

Karena tidak lagi memiliki sayap, Bui Bungale akhirnya menerima ajakan Jilomoto untuk menetap di bumi. Seiring berjalannya waktu, keduanya saling mengenal lebih dekat hingga memutuskan menikah.

Setelah berumah tangga, mereka tinggal di Bukit Huntu Lo Opo atau Bukit Kapas. Di tempat itu, kehidupan dijalani dengan sederhana melalui bercocok tanam dan beternak.

Meskipun telah meninggalkan kehidupan di kayangan, rumah tangga mereka tetap berlangsung damai karena selalu saling membantu dan menghargai.

Suatu ketika, Bui Bungale memperoleh kabar bahwa dirinya menerima hadiah dari kayangan berupa sebuah mustika yang disimpan di dalam wadah bernama Bimelula di Mata Air Tupalo.

Namun, sebelum sempat mengambilnya, empat orang pelancong yang sedang tersesat lebih dahulu menemukan wadah tersebut. Saat mereka berusaha membukanya, angin kencang tiba-tiba datang dan melempar tubuh mereka.

Setelah salah seorang pelancong menggunakan kesaktiannya, Bimelula akhirnya berhasil dibuka. Tidak lama kemudian, Bui Bungale datang dan menjelaskan bahwa wadah tersebut merupakan hadiah yang dikirim untuk dirinya.

Meski demikian, keempat pelancong menolak menyerahkannya karena merasa berhak atas benda yang telah mereka temukan.

Akhirnya disepakati sebuah tantangan untuk menentukan pemilik Bimelula. Siapa pun yang mampu memperluas Mata Air Tupalo berhak membawa pulang wadah tersebut.

Para pelancong bergantian menunjukkan kesaktian mereka, tetapi mata air itu tidak mengalami perubahan. Setelah itu, Bui Bungale memohon kepada Yang Maha Kuasa dengan penuh ketulusan.

Tidak lama berselang, terdengar gemuruh dari dalam tanah dan air terus meluas hingga berubah menjadi sebuah danau yang sangat besar. Melihat peristiwa itu, keempat pelancong mengakui kesalahan mereka, meminta maaf, lalu mengembalikan Bimelula kepada Bui Bungale.

Dalam perjalanan pulang, Jilomoto dan Bui Bungale melihat lima buah mengapung di permukaan danau. Buah-buah tersebut mengeluarkan aroma harum menyerupai jeruk dari kayangan.

Tidak jauh dari tempat itu, mereka juga menemukan pohon jeruk yang sama. Sejak saat itulah danau yang sebelumnya dikenal sebagai Mata Air Tupalo diberi nama Bulalo Lilimutu, yang kemudian dikenal sebagai Danau Limboto.

Nama tersebut berasal dari lima buah jeruk yang mengapung di atas permukaan danau. Setibanya di rumah, Bimelula yang berisi mustika dari kayangan tiba-tiba mengeluarkan seorang bayi perempuan yang diberi nama Tulang Hula atau Cahaya Bulan. Menurut cerita, Tulang Hula kelak tumbuh menjadi pemimpin di wilayah Limboto.(Yolan)

Baca juga: Legenda Danau Kelimutu, Cerita Rakyat dari Flores NTT