Legenda Goa Mampu di Bone yang Populer hingga Kini
Membagikan informasi dari berbagai topik.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bukan hanya keindahan alamnya, legenda Goa Mampu Bone merupakan hal yang juga perlu dieksplor saat berkunjung ke sana. Terlebih, kisahnya menarik karena berkaitan dengan putri raja.
Goa Mampu merupakan wisata bersejarah yang terletak di desa Cabbeng, Kecamatan Dua Boccoe, Kabupaten Bone. Lokasinya dari ibukota Kabupaten Bone berjarak kurang lebih 35 km.
Legenda Goa Mampu di Bone yang Populer
Mengutip laman dispar.bone.go.id, legenda Goa Mampu diperkirakan terjadi pada tahun 1013 SM, ketika Islam belum masuk di Kabupaten Bone. Kisahnya tentang sebuah kerajaan yang membawahi tujuh desa.
Kerajaan tersebut dipimpin oleh seorang raja bernama La Oddang Patara dan istrinya La wellellu.
Mereka memiliki seorang putri yang tidak pernah keluar rumah serta tidak pernah menginjak tanah. Masyarakat Bugis biasa menyebutnya dengan istilah ana dara malebbi.
Putri yang diberi nama Appung Ellung Mangenre tersebut dikenal memiliki kulit sangat putih. Suatu ketika, ia yang sedang menenun tanpa sengaja menjatuhkan alat tenunnya ke tanah.
Karena malas turun, sang putri kemudian berteriak dan berkata “barang siapa yang bisa mengambil alat tenunku di tanah, jika dia laki-laki maka akan saya jadikan suami dan jika perempuan akan saya jadikan saudara”.
Tidak lama berselang, muncullah anjing jantan liar bernama Bolong Lasareweng yang mengambilkan alat tenunnya.
Merasa hewan tersebut tidak mengerti bahasa manusia, putri Appung Ellung mengingkari janjinya.
Putri memperhatikan anjing itu dan berkata sambil menunjuk bagian kepalanya “kenapa ada batu di dahimu?”.
Anjingpun tiba-tiba berbicara dan menjawab pertanyaan sang putri “bukan hanya saya, tapi kamupun juga ada batu di dahimu”.
Setelah perkataan tersebut selesai diucapkan, satu kerajaan secara ajaib berubah menjadi batu dengan tujuh tingkatan. Kisah kutukan tersebut menjadi legenda yang populer hingga kini.
Saat ini, lokasi kerajaan yang telah dikutuk menjadi batu lebih dikenal dengan sebutan Goa Mampu.
Luasnya sekitar 2000 meter persegi, bagi yang ingin menjelajahinya maka perlu berbekal alat penerangan seperti obor atau senter.
Berdasarkan legenda Goa Mampu, dapat diambil pelajaran bahwa janji yang sudah diikrarkan harus ditepati. Selain itu, sebaiknya selalu berhati-hati ketika berikrar agar tidak sampai terjadi hal buruk. (NOV)
Baca juga: Kisah Konggaaha, Cerita Rakyat dari Kolaka Sulawesi Tenggara