Konten dari Pengguna

Legenda Gunung Bromo yang Jarang Diketahui

P

Pojok Informasi

Membagikan informasi dari berbagai topik.

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi legenda Gunung Bromo.Foto: Kevin Zhang / Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi legenda Gunung Bromo.Foto: Kevin Zhang / Unsplash

Legenda Gunung Bromo menjadi hal yang menarik untuk diulik bagi para pengunjung. Legenda tersebut berkaitan dengan pengorbanan anak dari sepasang suami istri, Joko Seger dan Roro Anteng.

Legenda tersebut telah tersebar luas di masyarakat Suku Tengger sejak lama dan menjadi cikal bakal diperingatinya upacara Yadnya Kasada.

Legenda Gunung Bromo yang Tersebar di Masyarakat

Ilustrasi legenda Gunung Bromo.Foto: Boyan Ji / Unsplash

Mengutip laman kemenpar.go.id, legenda Gunung Bromo berkaitan dengan sumpah yang diucapkan oleh sepasang suami istri bernama Joko Seger dan Roro Anteng ketika bertapa di Gunung Bromo.

Joko Seger adalah putra seorang brahmana, sementara Roro Anteng merupakan putri bangsawan Kerajaan Majapahit. Pasangan ini kemudian membuat permukiman yang berkembang makin makmur.

Pemukiman tersebut hingga kini masih didiami para penduduk yang dikenal dengan nama Suku Tengger. Istilah Tengger sendiri diambil dari gabungan nama Roro Anteng dan Joko Seger.

Meski telah berhasil membangun pemukiman yang makmur, tetapi kebahagiaannya masih terasa kurang karena belum dikaruniai anak. Akhirnya, mereka memutuskan untuk bertapa di Gunung Bromo.

Tujuannya adalah untuk memohon kepada sang dewa agar segera diberi keturunan. Dalam doanya diucapkan janji bahwa jika dikaruniai 25 anak, maka salah satu anaknya akan dibawa ke kawah gunung.

Tidak lama setelah itu, doa keduanya dikabulkan. Hanya saja Joko Seger dan istrinya lupa akan janjinya.

Konon akhirnya memicu kemarahan sang dewa. Akhirnya, muncullah ledakan Gunung Bromo yang menelan banyak korban.

Menyadari hal itu, pasangan suami istri tersebut menceritakan janji yang telah diingkarinya kepada semua anaknya.

Mendengar cerita tentang orang tuanya, anak bungsu Joko Seger yang bernama Raden Kusuma kemudian memutuskan untuk mengorbankan dirinya.

Sebelum pergi ke kawah Gunung Bromo untuk menenangkan amukan sang dewa, Raden Kusuma berpesan bahwa harus ada persembahan di kawah Gunung Bromo setiap tanggal 15 bulan Kasada.

Sejarah itulah yang melatarbelakangi pelaksanaan upacara Yadnya Kasada. Oleh karenanya setiap tanggal yang telah ditentukan, masyarakat Suku Tengger selalu memberi persembahan.

Demikian penjelasan seputar legenda Gunung Bromo di Jawa Timur yang ternyata berkaitan dengan pengorbanan seorang anak demi kedamaian banyak orang. (NOV)

Baca juga: Legenda Danau Batur, Warisan Cerita Rakyat Bali yang Tetap Lestari