Konten dari Pengguna

Legenda Oheo: Jejak Kearifan Lokal dalam Cerita Rakyat Indonesia

P

Pojok Informasi

Membagikan informasi dari berbagai topik.

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Legenda Oheo. Foto: Unsplash/Matias North
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Legenda Oheo. Foto: Unsplash/Matias North

Legenda Oheo merupakan salah satu cerita rakyat yang berasal dari Sulawesi Tenggara dan dikenal luas oleh masyarakat Suku Tolaki sebagai warisan budaya lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Kisah ini tidak hanya menghadirkan cerita tentang pertemuan manusia dengan bidadari dari kayangan, tetapi juga memuat berbagai nilai kehidupan yang tetap relevan hingga saat ini.

Di balik alur ceritanya yang menarik, Legenda Oheo mengajarkan pentingnya menepati janji, menjaga kepercayaan, bekerja keras, serta tidak mudah menyerah ketika menghadapi cobaan.

Legenda Oheo, Warisan Budaya Lisan Suku Tolaki

Ilustrasi Legenda Oheo. Foto: Unsplash/Giorgio Trovato

Mengutip dari laman budaya-indonesia.org, legenda Oheo berkisah tentang seorang pemuda bernama Oheo yang hidup di daerah Kendari, Sulawesi Tenggara, dan bekerja sebagai petani tebu.

Suatu hari, ia menemukan banyak ampas tebu berserakan di sekitar sungai sehingga timbul rasa penasaran mengenai siapa yang mengambil hasil kebunnya.

Oheo kemudian mengintai di tepi sungai dan melihat tujuh bidadari turun dari kayangan untuk menikmati tebu miliknya sebelum mandi di sungai. Ketika para bidadari sedang mandi, Oheo menyembunyikan pakaian atau selendang milik bidadari bungsu bernama Anawai Ngguluri.

Akibatnya, Anawai Ngguluri tidak dapat kembali ke kayangan bersama saudara-saudaranya sehingga harus tetap tinggal di bumi.

Seiring berjalannya waktu, Oheo dan Anawai Ngguluri saling mengenal hingga akhirnya menikah. Sebelum menjalani kehidupan sebagai suami istri, Anawai Ngguluri mengajukan sebuah syarat kepada Oheo.

Apabila mereka kelak memiliki anak, Oheo harus bertanggung jawab membersihkan kotoran anak mereka dan tidak boleh mengingkari janji tersebut.

Pada awalnya Oheo memenuhi kesepakatan itu, tetapi setelah beberapa waktu ia melanggarnya. Pelanggaran terhadap janji tersebut membuat Anawai Ngguluri merasa kecewa dan memutuskan kembali ke kayangan.

Kepergian istrinya membuat Oheo dipenuhi penyesalan. Namun, ia tidak memilih untuk menyerah. Dengan tekad yang kuat, Oheo berusaha menyusul Anawai Ngguluri ke kayangan.

Setelah berhasil sampai di sana, ayah Anawai Ngguluri memberikan sejumlah ujian sebagai syarat agar Oheo dapat membawa kembali istrinya ke bumi.

Ujian itu meliputi menebang batu besar, mengumpulkan berbagai biji-bijian yang tersebar di padang rumput, memilih wadah yang benar, hingga menemukan kelambu tempat Anawai Ngguluri berada.

Semua ujian tersebut bukanlah perkara mudah. Beruntung, Oheo memperoleh pertolongan dari berbagai hewan, seperti babi, tikus, burung tekukur, lalat, kucing, dan kunang-kunang.

Berkat bantuan mereka, setiap tantangan dapat diselesaikan dengan baik. Melihat kegigihan dan kesungguhan Oheo, ayah Anawai Ngguluri akhirnya mengizinkan putrinya kembali ke bumi bersama suami dan anak mereka.

Sejak saat itu, Legenda Oheo terus hidup sebagai cerita rakyat yang diwariskan di tengah masyarakat Suku Tolaki.(Arif)

Baca juga: Kisah Legenda Goa Pindul, Cerita Turun-Temurun yang Masih Hidup hingga Kini