Makna Tenun Ikat Sumba bagi Masyarakat Setempat dan Nilai Budayanya
Membagikan informasi dari berbagai topik.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Makna tenun ikat Sumba bagi masyarakat setempat tidak hanya berkaitan dengan keindahan kain, tetapi juga menyimpan pengetahuan, kepercayaan, dan nilai kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Setiap helai kain lahir melalui proses panjang yang membutuhkan ketekunan dan keterampilan.
Dalam kehidupan masyarakat Sumba, kegiatan menenun bahkan memiliki keterkaitan erat dengan sistem nilai budaya, kepercayaan, serta berbagai kegiatan adat.
Makna Tenun Ikat Sumba Bagi Masyarakat Setempat dalam Kehidupan Sosial
Makna tenun ikat Sumba bagi masyarakat setempat berkaitan erat dengan kehidupan sosial dan budaya yang berkembang di Sumba.
Berdasarkan laman referensi.data.kemendikdasmen.go.id,tenun Ikat Sumba merupakan warisan budaya dari Nusa Tenggara Timur yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2013.
Tenun tersebut memiliki beragam corak yang terinspirasi dari gagasan, mitologi, kepercayaan, dan filosofi masyarakat setempat, termasuk keyakinan Marapu.
Pengetahuan serta keterampilan membuat kain diperoleh melalui proses belajar yang panjang dan diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Dalam kehidupan masyarakat, tenun Ikat Sumba tidak hanya berfungsi sebagai pakaian sehari-hari. Kain ini juga digunakan dalam berbagai kegiatan adat, seperti perkawinan, kematian, kegiatan keagamaan, dan berbagai peristiwa sosial lainnya.
Di wilayah Sumba Timur, terdapat dua jenis utama, yaitu Hinggi yang digunakan oleh laki-laki dan Lawu yang digunakan oleh perempuan. Penggunaan kain dalam berbagai kegiatan tersebut menunjukkan bahwa tenun mempunyai kedudukan penting dalam kehidupan masyarakat.
Nilai budaya tenun Iiat Sumba juga tercermin melalui motif yang terdapat pada kain. Motif kuda atau Njara berkaitan dengan keberanian, ketangkasan, kepahlawanan, serta kedudukan kuda dalam kehidupan masyarakat Sumba.
Sementara itu, motif ayam atau Manu memiliki makna yang berkaitan dengan kesadaran, kehidupan, dan sosok pemimpin yang melindungi. Adapun motif kakatua atau Kaka menjadi simbol persatuan dan kesatuan serta mencerminkan pengambilan keputusan melalui musyawarah untuk mufakat.
Motif lainnya juga memiliki pesan budaya tersendiri. Motif manusia dipercaya berfungsi sebagai penolak kejahatan dan mengandung makna kesaktian. Sementara itu, motif tugu tengkorak manusia atau Andungu Katiku Tau menggambarkan keberanian, kepahlawanan, dan kemenangan.
Keberadaan berbagai motif tersebut memperlihatkan bahwa corak pada kain bukan sekadar hiasan, melainkan menjadi media untuk menyampaikan simbol, keyakinan, dan nilai yang hidup dalam masyarakat.
Proses pembuatan Tenun Ikat Sumba turut mencerminkan nilai ketekunan dan kesungguhan. Seorang penenun perlu memahami pola, mengatur benang, mengikat bagian tertentu untuk membentuk motif, melakukan pewarnaan, hingga menyelesaikan proses penenunan.
Dalam kepercayaan Marapu, kepandaian menenun dipandang sebagai pemberian Marapu. Oleh karena itu, proses menenun berkaitan pula dengan permohonan pengetahuan, keterampilan, akal budi, izin, dan restu.
Pada akhirnya, makna Tenun Ikat Sumba bagi masyarakat setempat tidak dapat dipisahkan dari identitas budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Kain tersebut menjadi penghubung antara keterampilan, kepercayaan, adat istiadat, dan kehidupan sosial masyarakat. Setiap motif menyimpan pesan tertentu, sedangkan proses pembuatannya memperlihatkan ketekunan dalam mempertahankan pengetahuan leluhur.
Karena itu, pelestarian Tenun Ikat Sumba berarti turut menjaga warisan budaya dan nilai-nilai yang masih hidup dalam masyarakat Sumba.(Arif)
Baca juga: Filosofi Batik Truntum untuk Pernikahan Adat Jawa