Konten dari Pengguna

Masker Abu Vulkanik yang Direkomendasikan Para Ahli

P

Pojok Informasi

Membagikan informasi dari berbagai topik.

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi masker abu vulkanik. unsplash/Markus Winkler
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi masker abu vulkanik. unsplash/Markus Winkler

Masker abu vulkanik menjadi salah satu perlindungan yang perlu diperhatikan setelah abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau menyebar ke sejumlah wilayah.

Sebaran abu bahkan mencapai sebagian wilayah Sumatra dan Jawa, termasuk DKI Jakarta. Kondisi tersebut membuat penggunaan masker saat berada di luar rumah menjadi penting, terutama ketika udara mulai dipenuhi abu vulkanik.

Paparan langsung dalam jumlah banyak dapat menyebabkan iritasi hidung dan tenggorokan, batuk kering, serta rasa tidak nyaman pada dada.

Untuk Perlindungan, Ini Masker Abu Vulkanik yang Direkomendasikan

ilustrasi masker abu vulkanik. unsplash/naipo.de

Masker abu vulkanik yang direkomendasikan adalah respirator N95 dan N99 atau jenis masker lain dengan kemampuan penyaringan yang setara.

Berdasarkan informasi yang diunggah kumparan.com, dosen Manajemen Bencana Sekolah Pascasarjana Universitas YARSI, Dr. Dicky Budiman, menjelaskan bahwa respirator bersertifikasi industri setara N95 atau FFP2 dalam standar Eropa dapat digunakan untuk menghadapi paparan abu vulkanik.

Rekomendasi tersebut juga didukung oleh penelitian dari Durham University yang secara khusus menguji kemampuan masker dalam menyaring abu vulkanik.

Abu vulkanik memiliki karakteristik yang berbeda dari debu biasa sehingga diperlukan perlindungan dengan kemampuan filtrasi yang baik. Material abu vulkanik mengandung silika yang memiliki karakter menyerupai serpihan kaca dengan permukaan tajam.

Ketika terhirup atau mengenai tubuh, partikel abu vulkanik dapat menyebabkan iritasi pada hidung dan tenggorokan, batuk kering, serta rasa tidak nyaman pada dada. Paparan juga dapat mengganggu mata dan kulit.

Efisiensi filtrasi N95 dan N99 dapat mencapai lebih dari 98 persen terhadap abu vulkanik. Kemampuan tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan masker bedah biasa maupun masker kain. Masker bedah memiliki efisiensi penyaringan sekitar 89-91 persen berdasarkan informasi yang disampaikan dalam wawancara tersebut.

Sementara itu, masker kain hanya memiliki efisiensi filtrasi sekitar 44 persen terhadap abu vulkanik. Karena perbedaan tersebut, masker kain tidak menjadi pilihan yang disarankan ketika menghadapi sebaran abu vulkanik.

Masker bedah bukan hanya memiliki kemampuan filtrasi yang lebih rendah, tetapi juga cenderung lebih longgar ketika digunakan. Celah antara masker dan wajah dapat memungkinkan partikel abu masuk ke saluran pernapasan.

Hal tersebut menunjukkan bahwa jenis filter bukan satu-satunya faktor yang menentukan perlindungan. Kerapatan masker pada wajah sangat berpengaruh terhadap perlindungan yang benar-benar diperoleh.

Bahkan, N95 yang memiliki kemampuan filtrasi tinggi dapat kehilangan efektivitas apabila digunakan terlalu longgar dan tidak melekat dengan baik pada wajah.

Karena itu, masker perlu digunakan dengan posisi yang rapat sehingga tidak terdapat celah besar di sekitar hidung dan bagian wajah lainnya. Penggunaan yang tepat menjadi bagian penting dari perlindungan, bukan hanya memilih masker dengan tingkat filtrasi tinggi.

Masker abu vulkanik jenis N95 atau N99 menjadi pilihan yang lebih direkomendasikan untuk menghadapi paparan abu karena kemampuan filtrasinya lebih tinggi. Namun, efektivitas tersebut tetap bergantung pada cara penggunaan.

Masker harus melekat dengan baik pada wajah agar partikel abu tidak mudah masuk melalui celah. Ketika sebaran abu cukup tebal, mengurangi aktivitas di luar ruangan dan tetap berada di dalam ruangan tetap menjadi langkah perlindungan yang penting. (Rahma)

Baca juga: Kenapa Udara Setelah Hujan Terasa Lebih Segar? Ini Beberapa Faktornya