Mengapa Api Memiliki Warna Berbeda? Ini Berbagai Tingkat Panasnya
Membagikan informasi dari berbagai topik.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengapa api memiliki warna berbeda? Api mempunyai warna yang berbeda-beda tergantung dengan tingkat kepanasannya. Hal ini menarik untuk ditelusuri mengingat kebutuhan akan api untuk berbagai aktivitas sehari-hari.
Dikutip dari rri.co.id, perbedaan warna api berkaitan dengan suhu, jenis bahan bakar, jumlah oksigen, dan zat atau partikel yang terdapat dalam nyala api.
Mengapa Api Memiliki Warna Berbeda di Tiap Tingkat Panasnya?
Mengapa api memiliki warna berbeda? Saat pembakaran sedang berlangsung, energi dari reaksi kimia menyebabkan atom dan molekul berada pada keadaan yang berenergi tinggi.
Pada saat kembali ke keadaan energi yang lebih rendah, energi dilepaskan dalam bentuk cahaya. Panjang gelombang cahaya yang dominan ini nantinya akan menentukan warna yang dilihat mata manusia.
Api adalah cahaya panas yang dihasilkan saat sesuatu terbakar. Hal ini terjadi karena bahan-bahan seperti kayu atau gas sedang bereaksi dengan udara. Bahan yang terbakar melepaskan energi dalam bentuk panas dan cahaya.
Api berguna dalam aktivitas manusia sehari-hari seperti memasak atau memanaskan ruangan. Warna api yang berbeda mempengaruhui tingkat suhunya. Semakin tinggi suhunya, makin besar pula energi yang dilepaskan. Sehingga memengaruhi warna cahaya yang tampak.
1. Api Merah
Api merah menunjukkan bagian nyala api yang relatif lebih dingin dengan suhu sekitar 525–900°C. Warna merah muncul pada pembakaran yang kurang sempurna.
Pada kondisi itu, bahan bakar belum seluruhnya bereaksi dengan oksigen sehingga masih ada partikel hasil pembakaran yang dapat memancarkan cahaya.
Api merah ditemukan pada bagian tertentu dari api unggun atau nyala api dengan temperatur yang relatif rendah.
2. Api Oranye
Api oranye memiliki suhu lebih tinggi dari api merah sekitar 900–1.100°C. Warna ini tampak ketika kayu atau kertas terbakar.
Penyebab utamanya adalah adanya partikel karbon atau jelaga yang sangat panas. Partikel-partikel tersebut berpijar dan menghasilkan cahaya berwarna kuning-oranye.
3. Api Kuning
Api kuning adalah warna yang umum dijumpai, terutama pada api dari pembakaran bahan bakar yang menghasilkan partikel jelaga. Kisaran suhunya ada pada sekitar 1.100–1.400°C.
Warna kuning dihasilkan oleh partikel karbon kecil yang sangat panas dan berpijar. Contohnya dapat dilihat pada nyala lilin atau api hasil pembakaran kayu.
4. Api Putih
Api putih menunjukkan nyala dengan energi sangat tinggi dan dapat terlihat terang sekali. Api ini memiliki suhu sekitar 1.400–1.600°C.
Warna putih terjadi akibat berbagai panjang gelombang cahaya yang dipancarkan dengan intensitas cukup besar. Sehingga mata manusia menangkapnya sebagai cahaya putih.
5. Api Biru
Api biru sering terjadi akibat pembakaran gas, misalnya metana atau propana seperti pada kompor gas. Nyala biru menunjukkan pembakaran yang relatif lebih sempurna dan bersih dibandingkan dengan nyala kuning.
Hal ini terjadi ketika bahan bakar memperoleh oksigen yang cukup sehingga menghasilkan partikel jelaga lebih sedikit.
Pada pembakaran gas, warna biru berkaitan dengan emisi cahaya dari molekul dan radikal hasil reaksi pembakaran. Hal ini bukan semata-mata karena elektron bergerak sangat cepat.
Suhu api biru ada di sekitar 1.600–3.000°C. Namun hal tersebut tetap bergantung pada bahan bakar, tekanan, perbandingan bahan bakar dan oksigen, serta kondisi pembakaran.
Mengapa api memiliki warna berbeda? Warna api beragam akibat perbedaan suhunya. Mengetahui perbedaan ini dapat membantu manusia lebih memahami proses pembakaran dan keamanan penggunaan panas api dalam aktivitas sehari-hari. (Aya)
Baca juga: Apa yang Terjadi Jika Semua Es di Bumi Mencair? Ini Dampaknya