Mengapa Hewan Melakukan Kamuflase? Cek Alasan dan Tujuannya di Sini
Membagikan informasi dari berbagai topik.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah melihat hewan melakukan kamuflase? Lalu, muncul pertanyaan “Mengapa hewan melakukan kamuflase?” Kemampuan kamuflase bikin keberadaan beberapa hewan sulit dikenali, terutama ketika berada di tempat yang memiliki warna atau pola serupa.
Fakta menariknya, kamuflase bisa ditemukan pada berbagai hewan dengan bentuk dan cara yang berbeda. Apa yang membuat kemampuan menyamarkan diri ini begitu penting bagi kehidupan hewan?
Mengapa Hewan Melakukan Kamuflase, Menyamarkan Diri?
Mengapa hewan melakukan kamuflase? Mengutip situs https://www.discoverwildlife.com, bagi banyak hewan, kemampuan kamuflase merupakan cara bertahan hidup, terutama untuk menghindari predator atau justru mendekati mangsa tanpa diketahui.
Menariknya, setiap spesies memiliki cara berbeda dalam menyamarkan diri, mulai dari mengubah warna secara perlahan hingga mengatur pola, tekstur, bahkan bentuk tubuh dalam waktu singkat.
Hewan yang Mampu Melakukan Kamuflase
Kemampuan melakukan kamuflase ditemukan pada berbagai jenis hewan, termasuk burung, mamalia, ikan, reptil, amfibi, krustasea, dan cephalopoda seperti gurita, sotong, serta cumi-cumi.
Ada hewan yang perubahan warnanya berlangsung perlahan, sementara sebagian lainnya mampu melakukannya dengan sangat cepat.
Rubah Arktik, misalnya, dapat berubah menjadi putih ketika musim dingin tiba. Perubahan tersebut dipengaruhi oleh berkurangnya lama penyinaran pada siang hari dan terjadi karena pigmen pada bulu berkurang.
Selain membantu tubuh menyatu dengan lingkungan bersalju, perubahan pada bulu juga membuat lebih banyak udara terperangkap sehingga memberikan tambahan perlindungan dari suhu dingin.
Bagaimana Hewan Bisa Mengubah Warna Tubuh?
Kemampuan mengubah warna berkaitan dengan sel-sel khusus yang terdapat pada tubuh hewan. Pada burung dan mamalia, warna banyak dihasilkan oleh pigmen melanin yang terdapat dalam sel kulit tertentu.
Sementara itu, ikan, reptil, amfibi, krustasea, dan cephalopoda memiliki sel penghasil warna yang disebut kromatofor.
Kromatofor memiliki berbagai jenis dan menghasilkan warna yang berbeda. Ada yang menghasilkan warna hitam atau cokelat, kuning, merah dan oranye, hingga warna yang tampak berkilau.
Pada beberapa hewan, sel-sel tersebut dapat dikendalikan oleh hormon atau sistem saraf sehingga perubahan warna bisa berlangsung jauh lebih cepat.
Gurita dan sotong termasuk hewan dengan kemampuan ini yang sangat mengagumkan. Sel warna pada tubuhnya memiliki struktur seperti kantong kecil yang dapat mengembang atau mengempis.
Dengan mengatur sel-sel tersebut, hewan dapat mengubah warna dan pola tubuhnya dengan sangat cepat.
Bahkan, beberapa cephalopoda juga dapat mengubah permukaan kulit dari halus menjadi bertekstur sehingga menyerupai batu, karang, atau permukaan dasar laut.
Kamuflase Membantu Hewan Berbaur dengan Lingkungan
Salah satu tujuan utama kamuflase adalah membuat tubuh hewan sulit dikenali oleh predator. Caranya bukan selalu dengan memiliki warna yang sama persis dengan lingkungan.
Beberapa hewan justru menggunakan pola atau garis yang membuat bentuk tubuhnya terlihat samar sehingga predator kesulitan menentukan bagian tubuh mana yang sedang dilihat.
Ikan sebelah atau flatfish, misalnya, dapat menyesuaikan warna tubuh dengan dasar tempat mereka berada. Ada yang mampu menyesuaikan diri hanya dalam hitungan detik, sedangkan spesies lain membutuhkan waktu lebih lama.
Beberapa hewan juga menggunakan gerakan tubuh untuk memperkuat penyamarannya. Ikan batu dapat menggerakkan bagian tubuhnya sehingga terlihat seperti rumput laut.
Ada juga bunglon yang dapat bergerak dengan cara tertentu sehingga membuatnya semakin sulit dibedakan dari dedaunan.
Artinya, kamuflase tidak hanya bergantung pada warna, tetapi juga melibatkan pola, bentuk, tekstur, dan perilaku. Semua unsur tersebut bekerja bersama agar hewan semakin sulit ditemukan.
Menariknya, kamuflase tidak selalu berarti hewan harus benar-benar tidak terlihat. Dalam kondisi tertentu, yang lebih penting adalah membuat predator tidak mengenali bahwa sesuatu yang dilihatnya merupakan mangsa.
Kamuflase Bisa Disesuaikan dengan Predator
Hewan juga tidak selalu menghadapi satu jenis predator. Setiap predator memiliki cara berbeda dalam mencari mangsa, sehingga beberapa hewan dapat menyesuaikan strategi penyamarannya berdasarkan ancaman yang dihadapi.
Bunglon kerdil, misalnya, dapat menyesuaikan penampilannya ketika menghadapi predator yang berbeda. Saat berhadapan dengan burung, tubuhnya dapat dibuat lebih menyerupai lingkungan.
Ketika menghadapi ular yang kemampuan melihat warnanya lebih terbatas, bunglon dapat membuat tubuhnya lebih terang sehingga lebih sulit dibedakan dari latar belakang yang terkena cahaya.
Ada Hewan yang Menggunakan Warna untuk Menipu
Kemampuan menyamarkan diri bahkan dapat berkembang menjadi mimikri, yaitu ketika hewan menyerupai hewan atau objek lain untuk mendapatkan keuntungan.
Gurita mimik, misalnya, mampu mengubah bentuk tubuhnya dan menirukan beberapa hewan laut yang dianggap berbahaya, termasuk ikan singa dan ular laut.
Ada pula ikan yang menggunakan kemiripan warna untuk mendekati hewan lain. Ikan dusky dottyback dapat berganti warna agar menyerupai ikan damselfish yang hidup bersamanya.
Setelah berhasil berbaur, ikan tersebut dapat memangsa anak-anak ikan di sekitarnya. Strategi seperti ini dikenal sebagai mimikri agresif, karena kemiripan tersebut digunakan untuk mendekati mangsa.
Kamuflase Tidak Selalu Berarti Bersembunyi
Perubahan warna ternyata juga dapat digunakan untuk tujuan yang berlawanan, yaitu menarik perhatian atau memberikan sinyal kepada hewan lain.
Warna dapat menjadi cara berkomunikasi untuk menunjukkan emosi, kesiapan kawin, agresivitas, atau posisi dalam kelompok. Ikan guppy Trinidad, misalnya, dapat mengubah warna matanya dari keperakan menjadi hitam ketika bersaing mendapatkan makanan.
Perubahan tersebut menjadi tanda bahwa ikan tersebut siap menghadapi lawannya. Gurita juga dapat menggelapkan tubuh sambil membesarkan tubuhnya sebagai bagian dari tampilan agresif.
Pada beberapa spesies, warna justru menjadi bagian penting dalam mencari pasangan. Bunglon panther jantan dapat menampilkan warna merah, kuning, hijau, dan biru yang lebih mencolok untuk menarik perhatian betina.
Mengapa Kamuflase Begitu Penting bagi Hewan?
Pada akhirnya, kamuflase adalah salah satu bentuk adaptasi yang membantu hewan menghadapi lingkungan yang penuh ancaman. Dengan menyamarkan warna, pola, bentuk, atau tekstur tubuh, hewan dapat mengurangi kemungkinan ditemukan predator.
Pada saat yang sama, kemampuan tersebut juga dapat membantu hewan mendekati mangsa, berkomunikasi, mencari pasangan, hingga memberikan peringatan kepada hewan lain.
Jadi, kamuflase bukan sekadar trik untuk menghilang. Di balik perubahan warna yang terlihat sederhana, terdapat mekanisme tubuh dan strategi bertahan hidup yang sangat kompleks.
Dari katak yang semakin gelap ketika malam tiba hingga gurita yang seolah bisa berganti “kostum” dalam sekejap, alam menunjukkan bahwa untuk bertahan hidup, terkadang cara terbaik bukan jadi paling kuat atau paling cepat, melainkan jadi yang paling sulit dikenali. (Fikah)
Baca juga: Mengapa Gajah Memiliki Telinga Besar? Ini Fungsinya