Konten dari Pengguna

Mengapa Satu Minggu Terdiri dari Tujuh Hari? Ini Penjelasannya

P

Pojok Informasi

Membagikan informasi dari berbagai topik.

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Mengapa Satu Minggu Terdiri dari Tujuh Hari, Foto: Unsplash/Henry Becker
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Mengapa Satu Minggu Terdiri dari Tujuh Hari, Foto: Unsplash/Henry Becker

Pernah terpikir mengapa satu minggu terdiri dari tujuh hari, bukan lima, enam, atau delapan hari? Pembagian waktu yang dirasa biasa ini ternyata memiliki sejarah panjang dan berkaitan dengan cara masyarakat kuno.

Lantas, bagaimana angka tujuh akhirnya menjadi bagian dari sistem waktu yang digunakan hingga sekarang? Simak penjelasan lengkap mengenai asal-usul pembagian satu minggu menjadi tujuh hari.

Mengapa Satu Minggu Terdiri dari Tujuh Hari, Bagaimana Sejarah yang Bisa Dimengerti?

Ilustrasi Satu Minggu Tujuh Hari, Foto: Pixabay/geralt

Mengapa satu minggu terdiri dari tujuh hari? Mengutip situs https://rri.co.id, jawabannya adalah karena sistem terbentuk dari perpaduan pengamatan terhadap fase Bulan, kepercayaan masyarakat kuno, serta perkembangan sejarah dan keputusan politik.

Kemudian, perpaduan tersebutlah yang membuatnya digunakan secara luas di berbagai belahan dunia. Jadi, angka tujuh bukanlah hasil dari satu aturan alam yang mutlak, melainkan sistem pembagian waktu yang berkembang selama ribuan tahun.

Salah satu akar sejarahnya dapat ditelusuri hingga bangsa Babilonia di Mesopotamia. Mereka merupakan masyarakat yang memiliki pengetahuan cukup maju dalam mengamati benda-benda langit.

Pada masa itu, terdapat tujuh benda langit yang dapat diamati dan tampak bergerak di langit, yaitu Matahari, Bulan, Mars, Merkurius, Jupiter, Venus, dan Saturnus.

Ketujuh benda tersebut kemudian memiliki kaitan dengan kepercayaan dan pembagian waktu masyarakat Babilonia.

Selain pengamatan terhadap langit, sistem tujuh hari juga berkaitan dengan siklus Bulan. Satu siklus Bulan berlangsung sekitar 29,5 hari dan dapat dibagi secara kasar menjadi empat fase utama, yaitu Bulan Baru, Perbani Awal, Purnama, dan Perbani Akhir.

Jarak antara satu fase dengan fase berikutnya kurang lebih tujuh hari. Pembagian tersebut dianggap praktis untuk digunakan sebagai dasar pengaturan waktu. Sistem ini kemudian berkembang dan memengaruhi kebudayaan lain.

Bangsa Yahudi turut menggunakan pola tujuh hari dan memberikan makna khusus pada hari ketujuh sebagai Sabat, yaitu waktu untuk beristirahat dan beribadah.

Tradisi tersebut kemudian ikut memperkuat keberadaan pekan tujuh hari dalam perkembangan agama dan kebudayaan setelahnya.Penggunaan sistem tujuh hari juga semakin luas pada masa Kekaisaran Romawi.

Sebelumnya, masyarakat Romawi mengenal siklus delapan hari yang disebut nundinal cycle dan berkaitan dengan kegiatan pasar. Namun, sistem tujuh hari perlahan menjadi lebih populer.

Pada 321 Masehi, Kaisar Konstantinus menetapkan pekan tujuh hari sebagai bagian dari sistem kalender Romawi dan menjadikan hari Minggu sebagai hari istirahat. Keputusan tersebut turut membantu penyebaran sistem tujuh hari ke berbagai wilayah.

Dalam perkembangannya, nama-nama hari juga dikaitkan dengan benda langit dan dewa dalam berbagai kebudayaan.

Pengaruh tersebut masih dapat dilihat pada beberapa nama hari dalam bahasa tertentu, seperti Sunday yang berkaitan dengan Matahari dan Monday yang berkaitan dengan Bulan.

Meski sekarang hampir seluruh dunia menggunakan pekan tujuh hari, sistem ini sebenarnya bukan satu-satunya pembagian waktu yang pernah digunakan manusia.

Beberapa peradaban pernah mencoba sistem pekan yang berbeda. Revolusi Prancis, misalnya, pernah menerapkan kalender dengan periode sepuluh hari.

Uni Soviet juga sempat mencoba pekan lima hari dan kemudian enam hari. Namun, kedua sistem tersebut tidak bertahan dan akhirnya pekan tujuh hari kembali digunakan.

Oleh karena telah digunakan secara turun-temurun dan diterapkan dalam berbagai bidang, sistem tujuh hari akhirnya menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan modern.

Jadwal kerja, sekolah, kegiatan sosial, ibadah, hingga berbagai aktivitas ekonomi kini mengikuti siklus tersebut.

Mengapa satu minggu terdiri dari tujuh hari? Pekan tujuh hari merupakan hasil perjalanan sejarah panjang yang hingga akhirnya menjadi standar waktu yang digunakan secara luas sampai sekarang. (Fikah)

Baca juga: Mengapa Langit Berwarna Biru? Ini Alasan Ilmiahnya