Konten dari Pengguna

Mengapa Setiap Suku Punya Motif Kain Berbeda? Ternyata Ini Alasannya

P

Pojok Informasi

Membagikan informasi dari berbagai topik.

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Mengapa Setiap Suku Punya Motif Kain Berbeda, Foto:Unsplash/Iniizah
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Mengapa Setiap Suku Punya Motif Kain Berbeda, Foto:Unsplash/Iniizah

Tidak mengherankan jika banyak orang bertanya, mengapa setiap suku punya motif kain berbeda, padahal semuanya tumbuh di wilayah Indonesia yang sama.

Pertanyaan tersebut terasa sederhana, tetapi di baliknya tersimpan cerita yang jauh lebih luas dan menarik untuk dipahami.

Setiap motif tampak memiliki karakter yang khas sehingga mampu membedakan satu kelompok masyarakat dengan kelompok lainnya tanpa perlu banyak penjelasan.

Mengapa Setiap Suku Punya Motif Kain Berbeda? Ini Faktor yang Memengaruhinya

Ilustrasi Mengapa Setiap Suku Punya Motif Kain Berbeda, Foto:Unsplash/Iniizah

Mengapa setiap suku punya motif kain berbeda menjadi pertanyaan yang sering muncul ketika melihat beragam kain tradisional dari berbagai daerah di Indonesia.

Setiap suku memiliki ciri khas pada motif kain yang diwariskan secara turun-temurun sehingga tampil berbeda satu sama lain.

Perbedaan tersebut tidak hadir tanpa alasan, melainkan terbentuk melalui perjalanan budaya, tradisi, serta nilai-nilai yang berkembang di lingkungan masyarakat setempat.

Sejak dahulu, kain tenun tidak hanya dimanfaatkan sebagai pakaian sehari-hari, tetapi juga menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial, adat, dan mata pencaharian.

Di sejumlah daerah, keterampilan menenun bahkan telah diajarkan sejak usia muda dan menjadi kemampuan yang sangat dihargai. Melalui setiap helai kain, masyarakat mewariskan identitas budaya sekaligus menjaga tradisi yang terus bertahan dari generasi ke generasi.

Berdasarkan informasi dari dikpora.bimakota.go.id, salah satu contohnya terlihat pada kain tenun Mbojo dari Bima. Sejak masa kerajaan, para remaja perempuan diwajibkan menguasai keterampilan menenun atau Muna Ro Medi.

Hasil tenunan digunakan sebagai pakaian sehari-hari pada masa Kesultanan Bima sekaligus menjadi salah satu syarat bagi perempuan yang akan menikah. Selain memiliki fungsi budaya, menenun juga menjadi sumber penghasilan masyarakat.

Di samping bertani, berladang, dan beternak, hasil tenun dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi.

Sejumlah penenun di Rabadompu bahkan menggunakan hasil penjualan kain untuk membiayai pendidikan serta memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kain tenun Mbojo dikenal menggunakan perpaduan tiga warna yang ditenun dengan pola zigzag dan dihiasi berbagai motif.

Motif kain tenun Mbojo hanya mengambil unsur flora dan alam sekitar tanpa menampilkan gambar manusia maupun hewan.

Ketentuan tersebut berkaitan dengan ajaran Islam yang berkembang pada masa Kesultanan Bima, ketika penggunaan motif manusia dan hewan dihindari karena dianggap berkaitan dengan kepercayaan lama.

Ragam kain tenun khas Bima, seperti Songket, Salungka, Masrai, Nggoli, dan Pa'a, memiliki motif yang berbeda-beda, termasuk bunga, daun, garis, serta bentuk geometris yang masing-masing mengandung makna simbolis.

Pada masa lalu, berbagai motif tersebut berkaitan dengan nilai keagamaan dan digunakan dalam upacara adat, seperti kelahiran, pernikahan, serta kematian.

Setiap motif juga menjadi bentuk penghormatan kepada Tuhan sekaligus mencerminkan hubungan manusia dengan alam dan kehidupan.

Beberapa motif, seperti Bunga Samobo, Bunga Satako, Bunga Aruna, Bunga Kakando, Nggusu Tolu, Nggusu Upa Pado Waji, dan Nggusu Waru, menggambarkan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, serta makhluk hidup lainnya.

Selain berfungsi sebagai hiasan, motif kain tenun Mbojo juga menjadi media penyampaian pesan sebelum masyarakat mengandalkan tulisan. Pesan kehidupan dan nilai moral dituangkan melalui bentuk-bentuk visual yang mudah dipahami.

Dalam buku Bahasa Rupa karya Prof. Primadi dijelaskan bahwa salah satu sistem penggambaran yang digunakan adalah RWD (Ruang Waktu Datar), yaitu cara penyampaian cerita melalui gambar yang telah dikenal oleh berbagai suku di Indonesia sejak zaman dahulu.

Karena itu, motif pada kain tenun tidak sekadar memperindah tampilan, tetapi juga menjadi warisan budaya yang menyimpan makna religius dan filosofi kehidupan. (DANI)

Baca juga: Mengapa Budaya Lokal Harus Dilestarikan? Ini Alasan Penting yang Wajib Diketahui