Peran Keluarga dalam Membangun Demokrasi yang Beradab untuk Generasi Muda
Membagikan informasi dari berbagai topik.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Peran keluarga dalam membangun demokrasi yang beradab merupakan topik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama bagi generasi muda yang sedang membentuk cara berpikir dan bersikap.
Dalam suatu keluarga, setiap anggota memiliki karakter, keinginan, dan pandangan yang terkadang tidak selalu sama.
Peran Keluarga dalam Membangun Demokrasi yang Beradab dalam Kehidupan Sehari-hari
Berikut beberapa peran keluarga dalam membangun demokrasi yang beradab bagi generasi muda yang dikutip dari Jurnal Peran Keluarga dalam Membangun Demokrasi yang Beradab oleh Nabila Salwa (2025).
1. Menyediakan Ruang Diskusi yang Terbuka
Keluarga dapat menjadi tempat yang nyaman bagi anak untuk menyampaikan pendapat, menceritakan pengalaman, atau mengungkapkan ide yang dimilikinya.
Orang tua sebaiknya memberikan kesempatan kepada anak untuk berbicara tanpa langsung menyalahkan atau memaksakan kehendak.
Kebiasaan berdiskusi seperti ini membantu anak lebih percaya diri, mampu berpikir kritis, dan terbiasa mendengarkan pandangan orang lain meskipun berbeda dengan pendapatnya sendiri.
2. Memberikan Contoh Perilaku yang Baik
Orang tua merupakan sosok yang sering dijadikan panutan oleh anak. Nilai demokrasi perlu ditunjukkan melalui tindakan nyata, seperti bersikap jujur, berlaku adil, menepati janji, dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambil.
Ketika orang tua menghormati pendapat anggota keluarga serta tidak bertindak semena-mena, anak akan belajar bahwa setiap orang memiliki hak yang perlu dihargai.
3. Membagi Tugas dan Tanggung Jawab secara Adil
Pembagian pekerjaan rumah dapat menjadi cara sederhana untuk mengajarkan demokrasi kepada anak. Setiap anggota keluarga bisa diberikan tugas sesuai kemampuan dan kesepakatan bersama.
Misalnya, anak membantu merapikan rumah, sedangkan orang tua mengatur pekerjaan lainnya. Melalui kebiasaan tersebut, anak belajar bekerja sama, menghargai kontribusi setiap orang, mengatur waktu, serta memahami bahwa hak selalu disertai dengan kewajiban.
4. Mengajarkan Toleransi terhadap Perbedaan
Di dalam keluarga, anak perlu dibiasakan menerima perbedaan pendapat dan memahami bahwa tidak semua orang memiliki pandangan yang sama. Orang tua dapat memberikan contoh cara menyelesaikan perselisihan dengan tenang tanpa menghina atau merendahkan pihak lain.
Sikap ini membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang terbuka, tidak mudah menghakimi orang lain, dan mampu menghormati keberagaman di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
5. Membimbing Anak dalam Menggunakan Media Digital
Perkembangan teknologi membuat generasi muda mudah memperoleh berbagai informasi melalui internet dan media sosial.
Tidak semua informasi yang beredar dapat dipercaya, keluarga perlu membimbing anak agar terbiasa memeriksa sumber berita, membandingkan informasi, dan tidak langsung menyebarkan sesuatu yang belum jelas kebenarannya.
Anak juga perlu memahami pentingnya menggunakan bahasa yang sopan saat berkomentar serta menghindari penyebaran hoax dan ujaran kebencian.
6. Melibatkan Anak dalam Pengambilan Keputusan dan Kegiatan Sosial
Orang tua dapat mengajak anak berdiskusi ketika keluarga hendak menentukan suatu keputusan, misalnya memilih kegiatan akhir pekan atau menyusun pembagian tugas rumah.
Cara ini anak bisa belajar menyampaikan usulan, mempertimbangkan kepentingan bersama, dan menerima hasil kesepakatan. Anak juga dapat dilibatkan dalam kegiatan sosial, seperti kerja bakti dan kegiatan sukarela di lingkungan sekitar.
Pengalaman tersebut membantu menumbuhkan kepedulian, rasa tanggung jawab, dan kesadaran untuk berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat.
Itulah peran keluarga dalam membangun demokrasi yang beradab bagi generasi muda dengan berbagai kebiasaan yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi bekal bagi anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih terbuka, bijaksana, dan bertanggung jawab. (shr)
Baca juga: Bagaimana Menyapa Ayah dan Ibu? Ini Contoh Jawabannya