Konten dari Pengguna

Plankton adalah Apa? Kenali Peran Besarnya dalam Rantai Makanan

P

Pojok Informasi

Membagikan informasi dari berbagai topik.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Plankton adalah, Foto:Unsplash/Getty Images
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Plankton adalah, Foto:Unsplash/Getty Images

Plankton adalah istilah yang mungkin terdengar sederhana, namun di balik namanya tersimpan dunia kecil yang begitu luas dan penuh misteri.

Banyak orang membayangkannya hanya sebagai makhluk renik yang melayang di air, padahal keberadaannya jauh lebih kompleks dan menarik untuk dipahami.

Saat kita menatap laut yang tampak tenang, sebenarnya ada kehidupan yang terus bergerak dan saling terhubung dalam skala yang sulit dibayangkan.

Plankton adalah Bagian Penting dalam Ekosistem Perairan

Ilustrasi Plankton adalah, Foto:Unsplash/Luke Thornton

Dikutip dari dkp.jatimprov.go.id, plankton adalah sekelompok biota akuatik yang mencakup organisme tumbuhan maupun hewan yang hidup melayang atau terapung secara pasif di permukaan perairan.

Keberadaannya tidak dapat bergerak bebas seperti organisme lain, sehingga pergerakan serta penyebarannya sangat dipengaruhi oleh arus air, meskipun arus tersebut tergolong lemah.

Dalam kondisi ini, plankton mengikuti dinamika perairan yang terus berubah, sehingga distribusinya dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain secara alami.

Keunikan sifat hidupnya tersebut menjadikan plankton sebagai bagian penting dalam ekosistem perairan dan rantai makanan, karena meskipun kecil dan tampak sederhana, keberadaannya menyimpan peran yang tidak dapat diabaikan.

Sejarah penemuan plankton bermula pada tahun 1676 ketika Antony van Leeuwenhoek berhasil menciptakan mikroskop sederhana yang membuka pandangan baru tentang kehidupan dalam air.

Melalui alat tersebut, terungkap bahwa air, baik air tawar maupun air laut, mengandung berbagai bentuk kehidupan yang sebelumnya tidak terlihat oleh mata manusia.

Penemuan ini menjadi titik awal pemahaman bahwa di dalam perairan terdapat keanekaragaman hayati yang sangat kaya, termasuk tumbuhan renik yang belum pernah dikenali sebelumnya.

Perkembangan penelitian plankton kemudian berlanjut ketika G.V. Thomson mulai mengoleksi plankton menggunakan jaring halus pada tahun 1828 di wilayah Islandia.

Kegiatan ini dilakukan secara berkala, sehingga memberikan gambaran lebih jelas mengenai keberadaan plankton di perairan.

Selanjutnya, Johannes Muller mengembangkan kajian taksonomi pada tahun 1845 di Jerman, yang berfokus pada pengelompokan dan identifikasi organisme plankton berdasarkan karakteristiknya.

Istilah plankton diperkenalkan oleh Victor Hensen pada tahun 1887. Kata tersebut berasal dari bahasa Yunani planktos yang berarti mengembara, menggambarkan sifat plankton yang bergerak mengikuti arus.

Selain itu, ia juga memulai penelitian plankton secara kuantitatif, sehingga memberikan dasar ilmiah yang lebih terukur dalam memahami jumlah dan distribusi plankton di perairan. Atas kontribusinya tersebut, ia dikenal sebagai bapak planktonologi kuantitatif. (DANI)

Baca juga: Asimilasi adalah Apa? Ini Penjelasan Sederhana yang Mudah Dipahami