Konten dari Pengguna

Punden Berundak adalah Apa? Pahami Sejarahnya di Sini

P

Pojok Informasi

Membagikan informasi dari berbagai topik.

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Punden Berundak adalah, Foto:Unsplash/Susan Q Yin
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Punden Berundak adalah, Foto:Unsplash/Susan Q Yin

Punden berundak adalah salah satu peninggalan budaya yang menarik perhatian karena bentuknya tidak seperti bangunan pada umumnya.

Susunan bertingkat yang terlihat sederhana justru menyimpan jejak kehidupan masyarakat pada masa lampau.

Dari bentuk bangunan, lokasi, hingga susunan ruangnya, terdapat berbagai hal yang dapat mengantarkan pembaca untuk mengenal lebih jauh bagaimana masyarakat dahulu membangun dan menggunakan suatu tempat.

Punden Berundak adalah Bangunan Prasejarah

Ilustrasi Punden Berundak adalah, Foto:Unsplash/Kimberly Farmer

Dikutip dari laman atlantisjavasea.com, punden berundak adalah salah satu bentuk struktur bertingkat yang menjadi bagian dari budaya megalitik Austronesia di kepulauan ini.

Punden berundak dibuat menggunakan tanah dan batu yang disusun secara bertingkat menyerupai anak tangga.

Selain menhir, meja batu, dan patung batu, punden berundak menjadi salah satu peninggalan yang memperlihatkan karakter khas budaya asli kepulauan.

Keberadaan punden berundak juga ditemukan di berbagai wilayah hingga Polinesia, meskipun sebagian besar punden berundak berada di Pulau Jawa.

Punden berundak umumnya dibangun di atas gundukan, bukit, atau lereng yang terbentuk secara alami maupun dibuat oleh manusia. Punden berundak memiliki susunan bertingkat sehingga bagian bawah menjadi dasar penyangga bagi bagian di atasnya.

Seiring berkembangnya kemampuan masyarakat pada masa itu, punden berundak dapat dibuat dalam ukuran yang semakin besar dan membutuhkan lebih banyak material, terutama batu.

Dalam pembangunan punden berundak, susunan tanah dan batu dibuat dengan memperhatikan kemampuan tanah dalam menopang beban.

Gunungpadang merupakan salah satu contoh punden berundak yang dikenal sebagai struktur bertingkat dari tanah dan batu dengan ukuran besar.

Punden berundak Gunungpadang diperkirakan berusia sekitar 25.000 tahun atau lebih menurut Natawidjaja (2013).

Selain Gunungpadang, Candi Sukuh dan Cetho di Jawa Tengah juga memperlihatkan unsur asli Austronesia berupa struktur bertingkat yang menyerupai punden berundak, meskipun penanggalan kedua bangunan tersebut masih menjadi perdebatan.

Punden berundak juga berkaitan dengan kepercayaan masyarakat terhadap gunung dan tempat-tempat tinggi.

Gunung dan tempat tinggi dianggap sebagai lokasi tinggal roh leluhur sekaligus tempat yang sesuai untuk melakukan ziarah dan penghormatan.

Selain beribadah, masyarakat melakukan ziarah dengan keyakinan bahwa roh leluhur dapat membantu menyelesaikan berbagai persoalan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pembangunan punden berundak, penggunaan batu kering menjadi salah satu bagian dari konstruksi.

Material punden berundak disusun dengan memperhatikan beban yang berada di atasnya, sehingga bagian yang lebih berat dapat memberikan tekanan lebih besar terhadap tanah.

Susunan tersebut membantu menjaga kestabilan punden berundak meskipun menggunakan tanah dan batu sebagai material utama.

Dengan demikian, punden berundak menjadi salah satu peninggalan masa prasejarah yang bertingkat-tingkat. (FIFA)

Baca juga: Time Conjunction adalah Apa? Ini Penjelasannya dalam Ilmu Grammar English