Konten dari Pengguna

Sebutan Baris Pertama dan Kedua Pantun beserta Penjelasannya

P

Pojok Informasi

Membagikan informasi dari berbagai topik.

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Baris Pertama dan Kedua Pantun Disebut. Foto: Unsplash/Thomas Franke
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Baris Pertama dan Kedua Pantun Disebut. Foto: Unsplash/Thomas Franke

Baris pertama dan kedua pantun disebut sampiran, yaitu bagian awal yang menjadi salah satu ciri khas pantun dalam sastra Melayu dan Indonesia. Pantun dikenal sebagai puisi lama yang tersusun dengan aturan tertentu, mulai dari jumlah baris, suku kata, hingga pola rima.

Keindahan pantun tidak hanya terletak pada pesan yang disampaikan, tetapi juga pada permainan kata yang membuat setiap bait terdengar menarik.

Sampiran: Baris Pertama dan Kedua Pantun

Ilustrasi Baris Pertama dan Kedua Pantun Disebut. Foto: Unsplash/Sixteen Miles Out

Baris pertama dan kedua pantun disebut apa? Mengutip dari situs rri.co.id, simak penjelasannya di sini.

Secara umum, satu bait pantun terdiri atas empat baris dengan pola rima a-b-a-b. Setiap baris biasanya memiliki sekitar 8 hingga 12 suku kata. Susunan tersebut membuat pantun memiliki irama yang khas dan mudah dikenali ketika dibaca maupun dilisankan.

Pantun juga dapat digunakan untuk menyampaikan nasihat, hiburan, sindiran, hingga ungkapan perasaan. Baris pertama dan kedua berfungsi sebagai sampiran atau pembayang. Bagian ini umumnya belum menyampaikan inti pesan secara langsung.

Sampiran dapat berisi gambaran tentang alam, kehidupan sehari-hari, benda, tumbuhan, atau hal lain yang dipilih untuk membangun keselarasan bunyi dengan bagian berikutnya.

Contohnya dapat dilihat pada pantun berikut:

  • Jalan-jalan ke Kota Blitar

  • Jangan lupa membeli jamu

  • Jika ingin menjadi pintar

  • Rajin-rajinlah menuntut ilmu

Dua baris pertama, yaitu “Jalan-jalan ke Kota Blitar” dan “Jangan lupa membeli jamu”, berperan sebagai sampiran. Sementara dua baris terakhir mengandung pesan utama berupa ajakan untuk rajin menuntut ilmu.

Meskipun sampiran terkadang tampak tidak berhubungan langsung dengan isi, bagian tersebut tetap memiliki fungsi penting dalam menjaga pola bunyi dan keindahan pantun.

Pantun merupakan warisan sastra yang menunjukkan kekayaan kreativitas dalam berbahasa. Perpaduan sampiran, isi, rima, dan pilihan kata membuatnya tetap dikenal serta digunakan hingga sekarang.

Demikianlah penjelasan bahwa baris pertama dan kedua pantun disebut sampiran, yang menjadi bagian pembuka untuk membangun irama dan keindahan dalam sebuah pantun. (Dista)

Baca Juga: Pantun Kalau Ada Sumur di Ladang, Ini Bunyi Lengkapnya