Konten dari Pengguna

Sejarah Haul Solo: Tradisi Tahunan yang Penuh Makna

P

Pojok Informasi

Membagikan informasi dari berbagai topik.

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Sejarah Haul Solo, Foto:Unsplash/Tom Hermans
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Sejarah Haul Solo, Foto:Unsplash/Tom Hermans

Sejarah haul Solo menyimpan perjalanan yang menarik untuk ditelusuri, terutama karena tradisi ini tumbuh di tengah kehidupan masyarakat yang memiliki hubungan kuat dengan budaya dan nilai keagamaan.

Setiap pelaksanaannya, haul tidak sekadar hadir sebagai sebuah kegiatan yang dilakukan dari tahun ke tahun, tetapi juga menjadi bagian dari kebiasaan yang diwariskan dan terus dikenal oleh masyarakat.

Dari sinilah muncul pertanyaan tentang bagaimana tradisi tersebut berkembang hingga menjadi bagian yang begitu lekat dengan kehidupan masyarakat Solo.

Sejarah Haul Solo Terkait Sosok Habib Ali al-Habsyi

Ilustrasi Sejarah Haul Solo, Foto:Unsplash/Zetong Li

Sejarah haul Solo di Indonesia berkaitan erat dengan sosok Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al Habsyi, seorang ulama asal Hadramaut, Yaman. Haul yang diselenggarakan setiap tahun tersebut merupakan peringatan wafatnya Habib Ali al-Habsyi.

Dikutip dari Instagram @muhibbin_akhir_zaman_new, Habib Ali al-Habsyi dikenal sebagai muallif atau pengarang kitab maulid Simtudduror, yaitu kitab yang sangat populer di Indonesia dan hingga kini sering dibaca dalam berbagai majelis maulid.

Mengapa peringatan wafat Habib Ali al-Habsyi justru berkembang di Indonesia? Kisah tersebut tidak terlepas dari putranya, Habib Alwi. Setelah ayahnya wafat, Habib Alwi merasakan kehilangan yang begitu mendalam.

Habib Alwi merasa hampa dan terus diliputi kerinduan kepada sang ayah. Dalam keadaan tersebut, Habib Alwi kemudian memutuskan untuk berhijrah dari Hadramaut menuju Indonesia, menyusul kakaknya, Habib Ahmad, yang sebelumnya telah tinggal di Indonesia.

Habib Alwi kemudian memilih Solo sebagai tempat untuk berdakwah. Pada masa itu, Solo masih memiliki banyak masyarakat awam sehingga dipandang sebagai tempat untuk memulai dakwah dari awal.

Dakwah juga dipandang membutuhkan tantangan, jerih payah, dan perjuangan. Dengan rida Habib Abu Bakar Assegaf Gresik yang disebut sebagai walinya para wali, Habib Alwi akhirnya memulai dakwahnya di Solo.

Sementara itu, pada waktu yang berbeda, terdapat murid Habib Ali al-Habsyi di Indonesia bernama Habib Muhammad bin Idrus.

Habib Muhammad bin Idrus dikenal sebagai orang yang pertama kali membawa maulid Simtudduror ke Indonesia dan secara rutin mengadakan acara maulid.

Habib Muhammad bin Idrus kemudian diminta oleh Habib Ali Kwitang untuk menyelenggarakan acara maulid setiap akhir Kamis, sebagaimana kebiasaan yang dilakukan di Hadramaut, Yaman.

Pada waktu tersebut, Habib Ali Kwitang juga memiliki keinginan untuk mengadakan haul Habib Ali al-Habsyi.

Namun, Habib Muhammad bin Idrus menyampaikan, “Jangan, nanti yang mengadakan haul akan datang.” Pernyataan itu disampaikan ketika Habib Alwi masih berada di Hadramaut dan belum memiliki rencana untuk berhijrah ke Indonesia.

Pada akhirnya, perkumpulan para murid Habib Ali al-Habsyi di Indonesia untuk mengenang guru mereka benar-benar terlaksana.

Haul tersebut kemudian diadakan oleh Habib Alwi, putra dari pengarang kitab maulid Simtudduror, sebagaimana perkataan Habib Muhammad bin Idrus sebelumnya. (YOLAN)

Baca juga: Upaya Maulana Malik Ibrahim Menyebarkan Islam melalui Jalur Perdagangan