Sejarah Pasola Menurut Masyarakat Sumba
Membagikan informasi dari berbagai topik.
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengulik sejarah Pasola rasanya sangat menarik karena berkaitan dengan daerah Sumba. Tradisi ini dilakukan oleh dua kelompok laki-laki berkuda yang saling berhadapan dan melakukan serangan.
Mengutip laman hubud.kemenhub.go.id, pasola merupakan tradisi pacuan kuda dari Sumba, NTT. Pesertanya bisa puluhan hingga ratusan penunggang kuda tanpa pelana yang melempar tombak kayu.
Sejarah Pasola dalam Masyarakat Sumba NTT
Sebelum membahas sejarah Pasola, perlu mengetahui juga istilah katanya. Pasola berasal dari dua kata yaitu pa berarti saling, dan sola atau hola berarti lembing kayu.
Jika digabungkan, maka pengertian dari pasola adalah saling melempar lembing kayu.
Menurut cerita turun temurun, tradisi tersebut bermula dari kisah cinta segitiga yang terjadi antara Rabu kaba, istri dari Ubu Dulla dari kampung Weiwuang dengan Teda Gaiparona dari Kodi.
Pertemuan keduanya terjadi ketika Rabu Kaba yang menunggu kepulangan suaminya dari perjalanan berlayar di tepi pantai melihat perahu yang sedang menepi.
Awalnya, Rabu Kaba mengira perahu itu adalah milik sang suami. Tetapi setelah dihampiri, ternyata milik Teda Gaiparona.
Dari pertemuan itulah, hubungan keduanya semakin dekat, hingga akhirnya mereka memutuskan kawin lari.
Tidak berselang lama, Ubu Dulla pulang dari perjalanan berlayar. Namun, kenyataan pahit harus diterimanya karena sang istri telah pergi dengan laki-laki lain.
Ubu Dulla yang terpukul berusaha mengikhlaskan istrinya bersama Teda Gaiparona, tetapi dengan syarat Teda Gaiparona mengganti belis dari keluarga Ubu Dulla seperti di hari pernikahan mereka.
Dikarenakan cintanya dengan Rabu Kaba, Teda Gaiparonapun setuju dengan syarat tersebut.
Tidak hanya itu, Ubu Dulla diberi sebungkus cacing nyale dan disepakati juga penyelenggaraan tradisi Pasola sebagai penghormatan atas kebesaran hatinya.
Berdasarkan sejarah Pasola, masyarakat Sumba hingga kini masih melaksanakan tradisi tersebut setiap bulan Februari atau Maret per tahunnya.
Konsepnya yang menarik, membuat banyak wisatawan terkesan karena jarang ditemukan di tempat lain.
Bukan untuk saling melukai, upacara Pasola merupakan permainan adat perang-perangan yang menjadi simbol kehormatan, keberanian, dan rasa syukur kepada Tuhan atas melimpahnya hasil panen. (NOV)
Baca juga: Sejarah Lontong Balap, Warisan Kuliner Surabaya yang Tetap Populer