Sejarah Soto Betawi, Kuliner Ikonik Khas Jakarta
Membagikan informasi dari berbagai topik.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kuliner tradisional tidak hanya menghadirkan cita rasa, tetapi juga menyimpan kisah yang melekat pada perjalanan suatu daerah. Seperti sejarah soto Betawi, yang erat dengan perjalanan orang Betawi di Jakarta.
Di balik semangkuk hidangan yang hangat, sering kali tersimpan cerita tentang budaya, tradisi, hingga kebiasaan masyarakat yang berkembang dari masa ke masa.
Hal inilah yang membuat makanan khas tidak pernah kehilangan daya tariknya, bahkan ketika berbagai hidangan modern terus bermunculan.
Sejarah Soto Betawi dan Proses Akulturasi Budaya Masyarakat
Sejarah soto Betawi tidak dapat dipisahkan dari proses akulturasi budaya yang berlangsung di Batavia pada masa lalu.
Pertemuan berbagai kelompok masyarakat, seperti Tionghoa, Arab, dan India, melahirkan beragam tradisi, termasuk dalam bidang kuliner.
Perpaduan budaya tersebut kemudian menghasilkan hidangan dengan cita rasa yang khas dan mencerminkan keberagaman masyarakat yang hidup di wilayah tersebut.
Dikutip dari alman rri.co.id, meskipun hidangan ini telah dikenal sejak lama, istilah "soto Betawi" baru mulai populer pada era 1970-an.
Sebelumnya, masyarakat lebih mengenal sajian ini sebagai salah satu jenis soto yang berkembang di Batavia tanpa penyebutan nama khusus seperti sekarang.
Seiring berjalannya waktu, nama tersebut semakin dikenal luas dan akhirnya menjadi identitas yang melekat pada kuliner khas Jakarta.
Popularitas istilah "soto Betawi" tidak terlepas dari peran sejumlah penjual yang memperkenalkannya kepada masyarakat.
Di antara nama yang sering disebut adalah Lie Boen Po dan H. Ma'ruf. Melalui usaha kuliner yang dijalankan, keduanya ikut memperkenalkan penyebutan tersebut sehingga semakin dikenal oleh masyarakat dari berbagai kalangan.
Kehadiran istilah "soto Betawi" pada masa itu menjadi penanda penting dalam perkembangan kuliner tradisional khas Jakarta.
Nama tersebut memudahkan masyarakat untuk mengenali hidangan yang memiliki karakteristik tersendiri, sekaligus membedakannya dari berbagai jenis soto yang berasal dari daerah lain di Indonesia.
Sejak saat itu, penyebutan soto Betawi semakin sering digunakan dan terus bertahan hingga sekarang.
Lahirnya soto Betawi sebagai hasil akulturasi budaya menunjukkan bahwa perkembangan kuliner tidak terlepas dari proses pertemuan berbagai tradisi.
Pengaruh budaya Tionghoa, Arab, dan India yang hadir di Batavia berpadu dengan kebiasaan masyarakat setempat, sehingga membentuk hidangan yang memiliki ciri khas tersendiri.
Proses tersebut berlangsung secara alami seiring berkembangnya kehidupan masyarakat yang beragam di kota tersebut.
Hingga kini, soto Betawi tetap dikenal sebagai salah satu kuliner ikonik khas Jakarta. Di balik kelezatannya, hidangan ini juga menyimpan jejak sejarah soto betawi yang memperlihatkan bagaimana akulturasi budaya mampu melahirkan warisan kuliner yang tetap bertahan dari masa ke masa.
Nama yang mulai dipopulerkan sejak era 1970-an oleh penjual seperti Lie Boen Po dan H. Ma'ruf pun menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah soto Betawi. (KIKI)
Baca juga: Filosofi Soto Betawi yang Mencerminkan Keberagaman Budaya Jakarta